Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Craco, Kota Hantu Paling Cantik di Dunia
potret Kota Craco (commons.wikimedia.org/Maurizio Moro5153)
  • Craco, desa kuno di Basilicata, Italia Selatan, ditinggalkan setelah longsor besar 1963 merusak sekitar dua pertiga kota dan membuat lebih dari 150 rumah tidak layak huni.

  • Tanah liat rentan, curah hujan ekstrem, serta saluran air dan pipa buruk mempercepat erosi dan longsor, sementara arsitektur abad pertengahan Craco tetap menyisakan gereja, palazzo, dan menara.

  • Reruntuhan Craco menjadi lokasi film seperti The Passion of the Christ dan Quantum of Solace; wisatawan wajib mengikuti tur berpemandu berhelm karena pelestarian terkendala kondisi bangunan dan dana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Craco adalah sebuah desa kuno di Basilicata, Italia Selatan, yang membuat orang terpana bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena kisahnya yang tragis. Dahulu, ini adalah permukiman yang hidup dengan rumah-rumah batu, menara Norman, dan pemandangan tebing yang dramatis. Tapi perlahan, alam dan manusia membuatnya ditinggalkan, sehingga sekarang hanya tinggal keheningan di antara reruntuhannya.

Lokasi desa tua ini sangat strategis dari sisi pertahanan zaman dulu, berdiri di atas bukit congkak tanah liat yang duduk di atas lapisan batu konglomerat. Namun, kombinasi curah hujan, infrastruktur air dan pipa yang buruk, serta jenis tanah yang rentan membuat kestabilannya terganggu. Akhirnya penduduk mulai mengungsi, terutama setelah longsor besar tahun 1963 yang menjadi titik balik sejarah Craco. Berikut 5 fakta Craco, kota hantu dengan pemandangan indah di dunia!

1. Longsor sudah terjadi sejak tahun 1963

Craco 1963 (cracosociety.net)

Pada Desember 1963, Craco mulai diguncang oleh gelombang longsor dan curah hujan yang ekstrem. Dilansir The Craco Society, jalan, rumah, dan dinding penahan tanah menunjukkan kerusakan parah, sekitar 2/3 bagian kota terkena dampaknya. Pemerintah mulai mengeluarkan perintah evakuasi untuk rumah-rumah yang paling rentan.

Mengutip MDPI Journal, beberapa tahun setelah longsor di tahun 1963, kerusakan makin parah karena aktivitas geologis tak bisa dihentikan. Antara 1963 dan 1965, lebih dari 150 rumah bagian atas kota menjadi rusak dan tidak layak huni. Proyek pembangunan dinding penahan dan pengeboran tiang pancang dimulai agar sebagian kota tetap aman, tapi akhirnya terlalu mahal dan berisiko tinggi.

2. Faktor alam dan kesalahan infrastruktur gelombang ganda

Ödland in Craco, Italia (commons.wikimedia.org/Lorenzo Papace)

Tanah di Craco terdiri dari campuran tanah liat dan batuan lepas yang mudah longsor, terutama bila air sulit mengalir atau terjebak di dalam tanah. MDPI Journal menyebut bahwa infrastruktur lama seperti saluran air dan pipa pembuangan yang buruk memperburuk keadaan, karena air menggenang dan merusak kestabilan tanah. Hambatan drainase ini juga memicu erosi yang terus mengikis fondasi bangunan.

Selain itu, curah hujan ekstrem yang terjadi beberapa kali mempercepat kerusakan—pada 1959, ada hujan yang sangat banyak dalam beberapa hari yang memicu reaktivasi longsor. Semua itu membuat sebagian bangunan mulai retak, jembatan dan jalan ikut terpengaruh. Situasi alam yang semakin tak terkendali akhirnya memaksa penduduk mempertimbangkan pindah.

3. Sejarah antik dan keagungan arsitektur yang meninggalkan jejak

dai calanchi al paese fantasma di Craco (commons.wikimedia.org/Cinzia astorino)

Craco bukanlah kota baru—akarnya bisa ditelusuri ke abad pertengahan, dengan pengaruh besar dari periode Norman dan Feodal sejak abad ke-12. Dilansir Italia.it, gereja "Mother Church of San Nicola" serta beberapa palazzo (seperti Palazzo Carbone, Palazzo Grossi) menunjukkan masa kejayaan dan status yang cukup tinggi di masa lalu. Rumah-rumah batu, menara yang menjulang, lorong-lorong sempit tua memberikan kesan bahwa setiap batu punya cerita.

Bangunan-bangunan besar ini dibangun sedemikian rupa agar sesuai dengan topografi: rumah-rumah bertingkat di lereng curam, struktur yang sebagian digantung di sisi bukit, dan pemandangan lembah yang dramatis. Arsitektur ini bukan hanya soal estetika, tapi juga soal pertahanan dan adaptasi terhadap lingkungan alami yang sulit. Sayangnya, adaptasi tersebut kurang diperkuat dengan pemeliharaan dan perkuatan teknis, sehingga ketika alam menyerang, bangunan-bangunan ini menjadi sangat rentan.

4. Lokasi favorit untuk film karena suasana yang abandoned tapi magis

Craco - Torre normanna (commons.wikimedia.org/Silvanodp)

Keindahan Craco yang suram dan dramatis membuatnya menarik bagi pembuat film dunia. Adegan-adegan dari film seperti The Passion of the Christ dan Quantum of Solace pernah diambil di sana karena keruntuhan, keheningan, dan lanskap yang kuat secara visual. Atmosfer kota yang terbengkalai tapi tetap punya tekstur, detail, dan karakter sejarah membuat latar ini unik.

Selain film besar, Craco juga sering disebut dalam rute wisata sinema dan budaya lokal di Basilicata. Tur film, festival foto, dan kunjungan artis menjadikan kota ini seperti panggung terbuka, di mana masa lalu tampil kembali lewat kamera dan pengunjung. Meski bangunannya rusak, visualnya tetap impresif—pintu kayu tua, jendela yang retak, menara gereja yang membisu—semua elemen membuat suasana "tertinggal tapi hidup secara visual."

5. Wisata, pelestarian, dan tantangan masa kini

Craco dall alto (commons.wikimedia.org/Calogero77)

Kini Craco adalah tempat tujuan wisata yang harus dikunjungi dengan tur berpemandu dan memakai helm pelindung karena banyak bagian kota tua masih tak aman. Pengelolaan situs mulai dilirik serius: pada 2010 kota tua Craco (Craco Vecchia) dimasukkan dalam Watch List situs yang terancam oleh World Monuments Fund. Usaha pelestarian dan mitigasi risiko terus dibahas dalam tesis akademik dan proyek lokal yang berusaha menyelamatkan warisan sambil menjaga keamanan pengunjung.

Politesi menginformasikan bahwa ada sisi yang sulit: lokasi yang terpencil, minim layanan umum, dan kemampuan finansial lokal yang terbatas membuat pemulihan atau pelestarian menyeluruh jadi tantangan besar. Banyak bangunan yang butuh perbaikan struktural tinggi, sementara akses jalan dan fasilitas pengunjung belum sempurna. Meski begitu, setiap tahun Craco menarik lebih banyak orang yang penasaran, fotografer, seniman, dan penggemar sejarah yang ingin menyaksikan keindahan yang ditinggalkan.

Craco adalah bukti nyata bahwa kehancuran bisa menjadi bentuk lain dari keindahan. Di antara reruntuhan gereja dan dinding batu yang retak, ada keheningan yang berbicara tentang waktu, kehilangan, dan daya tahun manusia. Mungkin itulah sebabnya dunia tak benar-benar melupakan Craco—sebuah kota hantu yang terlalu cantik untuk lenyap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article