Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Gua Waitomo, Gua yang Langit-langitnya Dipenuhi Makhluk Hidup
Gua Waitomo (flickr.com/ArtofVisuals)
  • Gua Waitomo di Waikato, Selandia Baru terbentuk dari batu kapur purba berusia lebih dari 30 juta tahun dan memiliki jaringan gua, sungai bawah tanah, serta lubang runtuhan yang luas.
  • Nama 'Waitomo' berasal dari bahasa Māori yang berarti air yang melewati lubang, menggambarkan hubungan erat antara aliran air bawah tanah dan formasi batu kapur di kawasan tersebut.
  • Cahaya biru kehijauan di langit-langit gua berasal dari larva serangga Arachnocampa luminosa yang memancarkan bioluminesensi untuk menarik mangsa, menjadikan gua ini destinasi wisata unik sejak abad ke-19.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gua Waitomo merupakan salah satu kawasan gua paling terkenal di Selandia Baru. Tempat ini berada di wilayah Waikato dan dikenal karena pemandangan bawah tanah yang dipenuhi cahaya alami dari ribuan glowworm. Dilansir dari Tourism New Zealand, lanskap Waitomo tidak hanya terdiri dari satu gua, tetapi juga jaringan gua, lubang runtuhan, dan sungai bawah tanah.

Keunikan Gua Waitomo terasa berbeda karena cahaya di langit langit guanya berasal dari makhluk hidup berukuran kecil. Kilau tersebut sering tampak seperti langit malam yang berpindah ke bawah tanah. Dari sejarah eksplorasi sampai cara glowworm bertahan hidup, berikut lima fakta menarik Gua Waitomo yang membuatnya begitu istimewa.

1. Terbentuk dari batu kapur purba di dasar laut

Gua Waitomo (commons.wikimedia.org/Манько Марко)

Dilansir dari Tourism New Zealand, kisah geologi Waitomo bermula lebih dari 30 juta tahun lalu ketika batu kapur terbentuk di dasar laut. Batu kapur itu kemudian menjadi bagian penting dari bentang alam bawah tanah Waitomo. Proses panjang tersebut membuat kawasan ini memiliki formasi gua yang menjadi salah satu keajaiban alam Selandia Baru.

Tourism New Zealand juga menjelaskan bahwa gua gua di Waitomo terbentuk dari batu kapur yang diukir oleh aliran air bawah tanah selama ribuan tahun. Di bawah perbukitan hijau Waitomo, terdapat jaringan gua, lubang runtuhan, dan sungai bawah tanah. Kondisi inilah yang membuat Waitomo menarik dari sisi geologi sekaligus wisata alam.

2. Nama Waitomo berkaitan dengan air dan lubang

Gua Waitomo (commons.wikimedia.org/Donnie Ray Jones)

Berdasarkan penjelasan Tourism New Zealand, nama Waitomo berasal dari bahasa Māori yang berarti air yang melewati sebuah lubang. Makna ini sesuai dengan kondisi alam Waitomo yang banyak memiliki aliran air bawah tanah. Nama tersebut menggambarkan hubungan erat antara air, batu kapur, dan ruang gelap di bawah permukaan tanah.

Waitomo dikenal sebagai kawasan dengan lebih dari 300 gua yang tersembunyi di bawah lanskap pedesaan dan perbukitan hijau. Jumlah itu menunjukkan bahwa Waitomo bukan sekadar satu ruang gua, melainkan sistem alam bawah tanah yang luas. Dari luar, kawasan ini tampak seperti lanskap hijau biasa, tetapi bagian bawahnya menyimpan jaringan gua yang kompleks.

3. Cahaya di langit langit gua berasal dari larva serangga

Gua Waitomo (unsplash.com/Tomáš Malík)

Menurut Te Ara, glowworm di Selandia Baru bukanlah cacing sejati. Makhluk ini merupakan larva dari sejenis lalat kecil yang dikenal sebagai fungus gnat. Salah satu spesiesnya, Arachnocampa luminosa yang bisa ditemukan di seluruh Selandia Baru.

Te Ara menjelaskan bahwa ratusan larva Arachnocampa dapat hidup berdampingan di permukaan yang lembap dan terlindungi. Atap gua menjadi tempat yang ideal karena gelap, lembap, dan relatif tenang. Saat larva itu menyala bersama, cahaya mereka tampak menyerupai langit malam yang penuh bintang.

4. Glowworm memakai cahaya untuk menarik mangsa

Gua Waitomo (flickr.com/Dr. Thomas Liptak)

Berdasarkan penjelasan Te Ara, glowworm memakai cahaya untuk menarik serangga terbang kecil. Larva ini membuat perangkap berupa benang lengket yang menggantung dari tempat tinggalnya. Serangga kecil seperti midge, mayfly, caddisfly, dan moth dapat terperangkap dalam benang tersebut.

Tourism New Zealand menjelaskan bahwa cahaya bioluminesen glowworm muncul dari reaksi kimia antara enzim dan oksigen. Cahaya yang dihasilkan berwarna biru kehijauan dan keluar dari bagian tubuh larva. Te Ara juga menambahkan bahwa glowworm penghuni gua dapat memancarkan cahaya kapan saja, baik siang maupun malam.

5. Riwayat wisatanya dimulai dari eksplorasi abad ke 19

Gua Waitomo (commons.wikimedia.org/Donnie Ray Jones)

Dilansir dari Discover Waitomo, Gua Waitomo pertama kali dieksplorasi pada 1887 oleh kepala suku Māori Tane Tinorau bersama surveyor Inggris Fred Mace. Masyarakat Māori setempat telah mengetahui keberadaan gua tersebut sebelumnya. Namun, eksplorasi lebih jauh baru dilakukan ketika keduanya masuk menggunakan rakit dari batang rami dan hanya membawa lilin sebagai penerang.

Discover Waitomo menjelaskan bahwa Tane Tinorau membuka gua ini untuk wisatawan pada 1889. Pada masa awal kunjungan, Tane Tinorau dan istrinya, Huti, memandu rombongan wisatawan dengan biaya kecil. Pengelolaan gua kemudian diambil alih pemerintah pada 1906, lalu tanah dan gua dikembalikan kepada keturunan pemilik asli pada 1989.

Gua Waitomo menunjukkan bahwa tempat bersejarah dapat menyimpan kisah alam dan budaya dalam satu ruang yang sama. Formasi batu kapur, aliran air bawah tanah, dan cahaya glowworm membuat gua ini memiliki daya tarik ilmiah yang kuat. Keindahannya tidak hanya berasal dari pemandangan gelap yang berkilau, tetapi juga dari proses geologi dan kehidupan kecil yang membentuk pengalaman bawah tanah tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article