5 Fakta Hainan Peacock Pheasant, Merak China dengan Corak Bulu Eksotis

- Hainan peacock pheasant adalah burung endemik Pulau Hainan, China, dengan ukuran mungil dan bulu berkilau bermotif “mata” yang membuatnya tampak seperti versi mini dari merak tropis.
- Spesies ini hidup di hutan tropis dataran rendah hingga perbukitan, namun deforestasi dan aktivitas manusia menyebabkan habitatnya menyusut drastis dan populasi makin terisolasi.
- Status konservasinya kini Endangered dengan populasi sekitar 800 ekor; upaya pelestarian difokuskan pada perlindungan hutan serta edukasi masyarakat lokal untuk menjaga keberlanjutan spesies unik ini.
Hainan peacock pheasant (Polyplectron katsumatae) adalah salah satu burung paling langka dan memesona dari China, tepatnya Pulau Hainan. Sekilas, tampilannya mengingatkan pada merak, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dengan pola bulu penuh “mata” berkilau yang tampak seperti efek metallic sheen. Keunikan visual ini membuatnya sering dijuluki sebagai permata tersembunyi hutan tropis Asia.
Meski tampilannya eksotis dan memikat, kondisi populasi burung ini justru memprihatinkan. Penyusutan hutan dan tekanan aktivitas manusia membuat ruang hidupnya makin sempit dari tahun ke tahun. Mengenal detail tentang ukuran, habitat, perilaku, hingga status konservasinya penting supaya kesadaran terhadap satwa endemik semakin kuat. Yuk, simak fakta lengkapnya dan kenali lebih dekat burung unik dari Hainan ini!
1. Ukuran tubuh mungil dengan pola bulu berkilau

Hainan peacock pheasant memiliki ukuran tubuh relatif kecil dibanding merak pada umumnya. Panjang tubuh jantan dewasa berkisar sekitar 50–60 cm, sementara betina sedikit lebih kecil dengan warna yang lebih samar. Tubuhnya ramping dengan ekor tidak sepanjang merak India, tetapi tetap menampilkan pola “mata” khas di bulunya.
Ciri paling mencolok ada pada bulu jantan yang dihiasi bintik menyerupai mata berwarna hijau kebiruan dengan efek iridescent. Saat terkena cahaya, permukaan bulunya memantulkan kilau halus yang memberi kesan eksotis. Betina memiliki warna lebih cokelat kusam, berfungsi sebagai kamuflase alami saat berada di lantai hutan.
2. Habitat terbatas di Pulau Hainan

Burung ini merupakan spesies endemik Pulau Hainan di China selatan. Habitat alaminya berada di hutan tropis dataran rendah hingga perbukitan dengan vegetasi rapat. Lingkungan ini memberi perlindungan sekaligus sumber makanan yang cukup bagi kelangsungan hidupnya.
Sayangnya, deforestasi akibat pembukaan lahan pertanian dan pembangunan infrastruktur membuat habitatnya semakin terfragmentasi. Ketika hutan menyusut, populasi pun ikut terisolasi dan sulit berkembang. Keterbatasan wilayah sebaran menjadi salah satu faktor utama mengapa spesies ini sangat rentan.
3. Perilaku pemalu dan aktivitas di lantai hutan

Hainan peacock pheasant dikenal sebagai burung yang sangat pemalu dan jarang terlihat. Ia lebih sering bergerak di lantai hutan, mencari makanan di antara daun kering dan semak rendah. Aktivitasnya cenderung berlangsung pada pagi dan sore hari saat suasana lebih tenang.
Makanannya terdiri dari biji-bijian, serangga kecil, dan invertebrata hutan. Perilaku mencari makan ini berperan penting dalam membantu penyebaran biji dan menjaga keseimbangan ekosistem. Sifatnya yang tertutup membuat pengamatan di alam liar cukup sulit, sehingga data populasi sering terbatas.
4. Pola pembiakan sederhana namun rentan

Musim berkembang biak biasanya berlangsung pada periode tertentu saat kondisi lingkungan mendukung. Betina akan membuat sarang sederhana di tanah yang tersembunyi di balik vegetasi rapat. Telur yang dihasilkan umumnya berjumlah sedikit, sehingga tingkat reproduksinya relatif rendah.
Karena bersarang di tanah, telur dan anakan sangat rentan terhadap predator maupun gangguan manusia. Gangguan kecil di habitat dapat berdampak besar pada keberhasilan penetasan. Rendahnya tingkat reproduksi ini menjadi salah satu tantangan serius dalam upaya pelestarian.
5. Status konservasi yang mengkhawatirkan

Hainan peacock pheasant saat ini dikategorikan sebagai spesies Endangered oleh IUCN. Populasinya tersisa 800 dan diperkirakan terus menurun akibat kehilangan habitat dan tekanan aktivitas manusia. Status ini menempatkannya sebagai salah satu burung paling terancam di wilayah China.
Berbagai program konservasi mulai difokuskan pada perlindungan hutan dan penelitian populasi. Upaya ini mencakup perlindungan kawasan alami serta edukasi masyarakat lokal mengenai pentingnya menjaga satwa endemik. Tanpa perlindungan serius, keberadaan burung eksotis ini bisa saja hanya tersisa dalam catatan ilmiah.
Hainan peacock pheasant bukan sekadar burung dengan corak indah, tetapi juga simbol rapuhnya ekosistem hutan tropis di Pulau Hainan. Ukurannya yang mungil, perilakunya yang pemalu, serta habitatnya yang terbatas membuatnya sangat bergantung pada kelestarian alam. Mengenal fakta-faktanya membuka kesadaran bahwa keindahan alam gak selalu abadi tanpa perlindungan. Menjaga habitat berarti menjaga keberlanjutan spesies unik yang tak tergantikan.


















