Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Houtouwan, Desa Nelayan Makmur yang Kini Menjadi Desa Hantu
Houtouwan, Tiongkok (commons.wikimedia.org/Thomas Chu)
  • Houtouwan di Pulau Shengshan pernah menjadi desa nelayan makmur dengan lebih dari 2.000 penduduk pada 1980-an, bergantung pada perikanan dan dijuluki "Little Taiwan".
  • Teluk dangkal tidak cocok bagi kapal modern, sementara akses darat sulit. Ekonomi melemah, sekolah tutup, warga pindah bertahap, dan desa sepenuhnya ditinggalkan pada 2002.
  • Rumah-rumah beton kosong kini tertutup tanaman merambat akibat kondisi lembap. Houtouwan menarik wisatawan serta fotografer, dan sebagian mantan warga memperoleh penghasilan dari kunjungan tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pulau Shengshan di Kepulauan Shengsi, Tiongkok, memiliki Desa Houtouwan yang pernah menjadi permukiman nelayan makmur. Pada masa kejayaannya, ribuan orang tinggal di desa yang berada di lereng bukit menghadap Laut Tiongkok Timur tersebut. Kehidupan masyarakatnya banyak bergantung pada hasil laut dan aktivitas perikanan.

Houtouwan kini memiliki kondisi yang jauh berbeda dari masa tersebut. Rumah-rumah yang berdiri di lereng bukit serta kondisi desa yang ditinggalkan membuat pemukiman ini mendapat julukan desa hantu. Yuk, simak lima fakta tentang Houtouwan berikut ini!

1. Pernah menjadi desa nelayan yang makmur

Houtouwan, Tiongkok (commons.wikimedia.org/Milkomède)

Houtouwan berkembang sebagai desa nelayan sejak 1950-an. Dilansir laman The Dark Atlas, jumlah penduduknya mencapai lebih dari 2.000 orang pada 1980-an. Saat itu, kondisi ekonomi masyarakat tergolong baik sehingga Houtouwan mendapat julukan "Little Taiwan". Aktivitas perikanan menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian besar penduduk.

Sebagian besar warga membangun rumah di lereng bukit yang menghadap teluk. Bangunan-bangunan tersebut umumnya menggunakan struktur beton bertingkat karena lahan datar di kawasan desa terbatas. Kehidupan sehari-hari juga banyak berkaitan dengan aktivitas di pesisir, mulai dari keberangkatan nelayan hingga pengolahan hasil tangkapan sebelum dijual.

2. Aktivitas perikanan mulai menghadapi kendala

Houtouwan, Tiongkok (commons.wikimedia.org/Milkomède)

Kondisi Houtouwan mulai berubah ketika industri perikanan berkembang dan kapal yang digunakan nelayan berukuran semakin besar. Masih dari laman The Dark Atlas, kapal-kapal tersebut membutuhkan perairan yang lebih dalam, sedangkan teluk Houtouwan tergolong dangkal. Perbedaan kondisi tersebut membuat kapal berukuran besar sulit beroperasi di sekitar desa.

Nelayan kemudian harus memindahkan aktivitasnya ke pelabuhan lain yang lebih sesuai untuk kapal modern. Letak Houtouwan yang sulit dijangkau melalui jalur darat juga menambah persoalan bagi warga. Berbagai kebutuhan sehari-hari harus dibawa melalui jalur sempit dan bertangga, sehingga aktivitas distribusi barang menjadi lebih sulit.

3. Penduduk mulai meninggalkan Houtouwan

Houtouwan, Tiongkok (commons.wikimedia.org/Milkomède)

Perpindahan warga berlangsung secara bertahap ketika aktivitas ekonomi desa semakin berkurang. Dilansir laman Condé Nast Traveller, penutupan sekolah setempat ikut mendorong keluarga yang memiliki anak untuk meninggalkan Houtouwan. Seiring berkurangnya jumlah penduduk, aktivitas di desa pun semakin sepi dan semakin banyak rumah yang tidak lagi dihuni. Houtouwan kemudian ditinggalkan sepenuhnya oleh penduduknya pada 2002.

Rumah-rumah yang ditinggalkan sebagian masih menyimpan barang milik penghuni sebelumnya. Meja, lemari, televisi, dan sejumlah perabot rumah tangga tertinggal karena sulit dibawa keluar dari desa. Bangunan-bangunan tersebut kemudian dibiarkan dalam kondisi kosong dan perlahan mengalami kerusakan tanpa perawatan dari pemiliknya.

4. Rumah-rumah tua dipenuhi tanaman merambat

Houtouwan, Tiongkok (commons.wikimedia.org/Thomas Chu)

Setelah ditinggalkan, rumah-rumah di Houtouwan mulai dipenuhi vegetasi yang tumbuh di sekitar bangunan. Dilansir laman Hidden Path Adventures, tanaman merambat dan akar ivy menutupi dinding, atap, hingga jendela rumah-rumah tua di desa tersebut.

Kondisi pesisir yang lembap dan curah hujan yang cukup teratur mendukung pertumbuhan tanaman di kawasan ini. Dedaunan kemudian menyebar ke lorong-lorong sempit di antara bangunan, sementara akar tanaman tumbuh di sekitar jalan setapak dan tangga batu lama. Rumah-rumah beton yang sebelumnya digunakan sebagai tempat tinggal warga kini sebagian besar tertutup warna hijau.

5. Kondisinya kini menarik perhatian dari luar

Houtouwan, Tiongkok (commons.wikimedia.org/Milkomède)

Houtouwan kemudian dikenal luas karena kondisi rumah-rumah kosong yang tertutup tanaman. Dilansir laman Atlas Obscura, kawasan ini menarik perhatian wisatawan dan fotografer yang ingin melihat langsung bekas permukiman nelayan tersebut. Rumah-rumah yang hampir seluruhnya tertutup tanaman menjadi bagian yang paling mudah dikenali dari Houtouwan saat ini.

Sejumlah mantan warga juga memanfaatkan kedatangan orang dari luar sebagai sumber penghasilan dengan menjual minuman dan membantu pengunjung yang ingin melihat kawasan tersebut. Dari area pengamatan di atas bukit, deretan rumah yang tertutup tanaman terlihat mengikuti kemiringan lereng hingga ke arah pesisir.

Houtouwan kini jauh berbeda dari masa ketika desa tersebut masih ramai dan menjadi permukiman nelayan yang makmur. Sebagian besar rumah telah ditinggalkan dan tertutup tanaman, sementara aktivitas warga tidak lagi seramai dulu. Kondisi tersebut membuat Houtouwan dikenal sebagai desa hantu di Pulau Shengshan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article