Teledu, luak, atau badger merupakan salah satu mamalia omnivor yang bisa ditemukan di wilayah Asia. Spesiesnya juga ada banyak, salah satunya adalah teledu asia (Meles leucurus). Sekilas, teledu asia tak punya perbedaan mencolok dengan spesies lain, khususnya dari ciri fisik dan habitatnya.
5 Fakta Ilmiah Teledu Asia, Ahli Menggali dan Matanya Tajam

- Teledu asia tersebar dari Eropa Timur hingga Korea Selatan, hidup di dataran tinggi sampai 4.000 mdpl dengan habitat seperti hutan, stepa, padang rumput, dan semak.
- Mamalia omnivor ini panjangnya rata-rata 50 sentimeter, berbobot 3,5–9 kilogram, serta hidup fosorial dalam liang bawah tanah kompleks dan dapat berhibernasi berkelompok.
- Meski berstatus risiko rendah menurut IUCN, populasi teledu asia menurun akibat perburuan ilegal untuk obat tradisional, kosmetik, konsumsi, serta keberadaan peternakan di Korea Selatan.
Namun, jika diulik lebih dalam ada banyak fakta ilmiah teledu asia yang sangat menarik untuk diulik. Berbagai fakta tersebut tercermin dari banyak aspek, mulai dari kebiasaan menggali, penyebaran, kemampuan, hingga populasinya di alam liar. Yuk, kita ulik semua hal tersebut di bawah ini.
1. Teledu asia punya penyebaran yang luas

teledu asia (inaturalist.org/zametnya) Meski punya kata asia di namanya, tapi penyebaran teledu asia tak terbatas di benua tersebut, lho. Berdasarkan peta penyebaran di laman GBIF, mamalia tersebut menghuni wilayah Eurasia mulai dari Eropa Timur, Rusia, Pegunungan Ural, Mongolia, China, hingga Korea Selatan. Teledu asia juga merupakan hewan yang secara khusus hidup di dataran tinggi. Tercatat, ia bisa hidup di pegunungan yang elevasinya mencapai 4000 mdpl. Habitat favoritnya sendiri adalah area berkayu, padang rumput, semak-semak, hutan konifer, dan stepa.
2. Panjang maksimal teledu asia sekitar 70 centimeter

teledu asia (inaturalist.org/Pavel Vlasenko) Teledu asia bukan termasuk mamalia berukuran besar. Secara umum, panjang rata-ratanya sekitar 50 centimeter dan panjang maksimalnya ada di angka 70 centimeter. Bobotnya sendiri ada di angka 3.5 hingga 9 kilogram. Di sisi lain, penelitian yang diterbitkan pada jurnal Journal of the Korea Society of Environmental Restoration Technology menjelaskan bahwa bobot rata-rata individu jantan dari Taman Nasional Sobaeksan ada di angka 6 kilogram. Warna tubuh hewan ini juga beragam, mulai dari cokelat, jingga, hitam, hingga abu-abu. Corak garis juga nampak di tubuh hewan ini, khususnya di wajah.
3. Teledu asia merupakan hewan fossorial

teledu asia (inaturalist.org/nkanunnikov) Teledu asia merupakan hewan fosorial yang artinya ia hidup di dalam tanah. Dilansir Animal Diversity Web, mamalia ini hidup berkelompok di dalam lubang bawah tanah yang sangat kompleks. Lubang tersebut terdiri atas beberapa ruangan, terowongan, dan jalan yang saling terhubung satu sama lain. Teledu asia juga akan melakukan hibernasi dan hal tersebut biasanya dilakukan secara berkelompok. Namun, di area dengan pasokan makanan yang minim teledu asia juga bisa hidup menyendiri.
4. Teledu asia punya penglihatan malam yang baik

teledu asia (inaturalist.org/huangmingpan) Teledu dari genus Meles (termasuk teledu asia) memiliki jumlah sel batang dan kerucut yang terbilang tinggi. Karena itu, mereka memiliki tapelum yang bisa merefleksikan cahaya kembali ke retina. Hal tersebut membuat teledu asia memiliki penglihatan malam atau night vision yang sangat baik. Meski begitu, teledu asia memiliki mata berukuran kecil yang mengindikasikan bahwa penglihatan merupakan indra yang tak sepenting indra lain. Indikasi tersebut didukung oleh fakta bahwa teledu asia memiliki indra penciuman yang sangat tajam.
5. Teledu asia terancam oleh perburuan liar

teledu asia (inaturalist.org/Dmitry Dubikovskiy) Data dari IUCN Red List memasukan teledu asia ke kategori least concern (risiko rendah). Artinya, ia tidak terancam punah dan populasinya masih melimpah. Sayangnya, populasi teledu asia terus menurun akibat perburuan liar. Di China, Rusia, Mongolia, dan Korea Sleatan, teledu asia kerap diburu secara ilegal untuk dijadikan obat tradisional, kosmetik, atau dikonsumsi. Pada 2009 juga diperkirakan terdapat sekitar 5000 peternakan teledu asia di Korea Selatan yang turut berkontribusi pada penurunan populasi hewan tersebut.
Sekarang kamu sudah tahu tentang berbagai fakta ilmiah teledu asia. Pengetahuan tersebut membuatmu lebih mengenal dan diharapkan meningkatkan kepedualianmu terhadap hewan tersebut. Teledu asia memang tak hidup di Indonesia. Namun, bukan berarti kita harus tutup mata terhadap perburuan liar dan ancaman lain yang terus menggusur populasi teledu asia.





















