Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Jembatan Rantai Széchenyi, Landmark Ikonik di Hungaria
Jembatan Rantai Széchenyi menjadi salah satu landmark ikonik di Budapest, Hungaria. (commons.wikimedia.org/Thomas Quine)
  • Jembatan Rantai Széchenyi dibangun pada 1849 sebagai jembatan permanen pertama yang menyatukan Buda dan Pest, menjadi simbol persatuan yang membentuk kota Budapest.
  • Pembangunan jembatan ini terinspirasi dari tragedi Count István Széchenyi dan melibatkan teknik Inggris oleh William Tierney Clark serta insinyur Skotlandia Adam Clark.
  • Jembatan ini hancur total saat Perang Dunia II, lalu direkonstruksi pada 1947–1949, dan kini tetap menjadi landmark ikonik dengan mitos patung singa tanpa lidah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jembatan Rantai Széchenyi atau biasa dikenal dengan Széchenyi Chain Bridge adalah salah satu landmark terkenal di Hungaria. Jembatan yang membentang di atas Sungai Danube ini menghubungkan wilayah Buda dan Pest, dua kawasan yang dulu merupakan kota terpisah sebelum menjadi Budapest seperti sekarang.

Di balik tampilannya yang megah, jembatan ini juga memiliki banyak kisah menarik. Mulai dari tragedi seorang bangsawan Hungaria, kehancuran saat Perang Dunia II, hingga mitos tentang patung singa tanpa lidah yang masih dikenal hingga kini. Yuk, simak lima fakta menarik tentang Jembatan Rantai Széchenyi berikut ini.

1. Jembatan permanen pertama yang menyatukan dua kota

Jembatan Rantai Széchenyi menghubungkan wilayah Buda dan Pest. (pixabay.com/Vined)

Jembatan Rantai Széchenyi merupakan jembatan permanen pertama yang menghubungkan wilayah Buda dan Pest di Hungaria. Sebelum jembatan ini dibangun, masyarakat biasanya menyeberangi Sungai Danube menggunakan feri atau jalur sementara yang sulit digunakan saat musim dingin. Kehadiran jembatan ini membuat perjalanan antarkawasan menjadi jauh lebih mudah.

Jembatan yang selesai dibangun pada tahun 1849 ini kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan Budapest. Tidak hanya mempermudah aktivitas masyarakat, Jembatan Rantai Széchenyi juga menjadi simbol persatuan antara Buda dan Pest yang akhirnya bergabung menjadi satu kota.

2. Terinspirasi dari tragedi seorang bangsawan Hungaria

potret Count István Széchenyi, tokoh penting di balik pembangunan Jembatan Rantai Széchenyi. (commons.wikimedia.org/Miklós Barabás)

Di balik kemegahannya, pembangunan Jembatan Rantai Széchenyi ternyata berawal dari kisah sedih Count István Széchenyi, salah satu tokoh penting di Hungaria. Pada tahun 1820, ia gagal menghadiri pemakaman ayahnya karena cuaca buruk membuat kapal feri tidak dapat menyeberangi Sungai Danube. Saat itu, belum ada jembatan permanen yang menghubungkan Buda dan Pest.

Peristiwa tersebut membuat Széchenyi ingin membangun jembatan yang bisa digunakan sepanjang tahun. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, gagasan itu akhirnya berhasil diwujudkan melalui pembangunan jembatan tersebut. Untuk menghormati perannya, nama Széchenyi kemudian diabadikan sebagai nama resmi jembatan tersebut.

3. Dibangun dengan teknik Inggris di tanah Hungaria

Jembatan Rantai Széchenyi dirancang menggunakan teknik modern dari Inggris pada abad ke-19. (commons.wikimedia.org/Dennis G. Jarvis)

Meskipun menjadi salah satu kebanggaan Hungaria, Jembatan Rantai Széchenyi sebenarnya dirancang dengan teknik dari Inggris. Pada abad ke-19, membangun jembatan di atas Sungai Danube yang memiliki arus kuat bukanlah hal mudah. Karena itu, Count István Széchenyi pergi ke Inggris untuk mempelajari teknologi jembatan modern dan kemudian menunjuk William Tierney Clark sebagai perancang jembatan ini.

Proyek pembangunan jembatan ini juga dipimpin oleh insinyur asal Skotlandia bernama Adam Clark. Kolaborasi internasional tersebut tidak hanya menghasilkan jembatan yang kokoh, tetapi juga membawa teknologi baru yang mengubah perkembangan pembangunan infrastruktur di Hungaria. Hingga sekarang, nama Adam Clark masih diabadikan sebagai nama alun-alun di sisi Buda dekat jembatan tersebut.

4. Sempat hancur total saat Perang Dunia II

kondisi Jembatan Rantai Széchenyi setelah dihancurkan saat Perang Dunia II. (commons.wikimedia.org/FOTO:Fortepan — ID 30257: Adományozó/Donor)

Meskipun terlihat kokoh, Jembatan Rantai Széchenyi pernah hancur saat Perang Dunia II. Pada 18 Januari 1945, pasukan Jerman yang mundur dari Budapest meledakkan seluruh jembatan di kota tersebut, termasuk Jembatan Rantai Széchenyi. Akibat ledakan itu, jembatan hancur total dan hanya menyisakan pilar-pilar batunya.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah Hungaria memutuskan untuk membangun kembali jembatan ini. Proses rekonstruksi dimulai pada 1947 dan selesai pada 1949, tepat 100 tahun setelah peresmian pertamanya. Sejak saat itu, Jembatan Rantai Széchenyi kembali menjadi salah satu simbol penting dan landmark terkenal di Budapest.

5. Mitos terkenal tentang singa tanpa lidah

patung singa di pintu masuk Jembatan Rantai Széchenyi menyimpan legenda terkenal di Budapest. (pexels.com/Efrem Efre)

Salah satu bagian paling ikonik dari Jembatan Rantai Széchenyi adalah empat patung singa besar yang berada di kedua ujung jembatan. Patung karya János Marschalkó ini melahirkan mitos terkenal di Budapest. Konon, ada orang yang mengatakan bahwa patung singa tersebut tidak memiliki lidah sehingga sang pematung merasa sangat malu.

Namun, cerita itu sebenarnya hanyalah legenda. Patung singa tersebut tetap memiliki lidah, hanya saja letaknya sulit terlihat dari bawah. Meski begitu, mitos tentang singa tanpa lidah masih terus dikenal hingga sekarang dan menjadi salah satu kisah unik yang melekat pada Jembatan Rantai Széchenyi.

Dengan sejarah panjang, kisah unik, hingga mitos yang masih dikenal luas, Jembatan Rantai Széchenyi bukan sekadar jembatan biasa bagi masyarakat Hungaria. Hingga kini, landmark ikonik di Budapest tersebut tetap menjadi simbol penting yang menyimpan banyak cerita menarik di balik kemegahannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article