5 Ular Berbisa Hemotoksin, Dapat Menyerang Pembekuan Darah yang Fatal

- Racun hemotoksin menyerang darah, pembuluh darah, dan jaringan tubuh, sehingga dapat memicu gangguan pembekuan, pendarahan, kerusakan jaringan, hingga kondisi fatal.
- Lima ular yang dibahas ialah copperhead, boomslang, bushmaster, viper malaya, dan sidewinder; semuanya dapat menimbulkan pembengkakan, nekrosis, atau gangguan sistemik setelah gigitan.
- Viper malaya ditemukan di Indonesia, terutama Jawa, sementara penanganan medis dan antivenom dini penting karena keterlambatan dapat berujung disfungsi tubuh, amputasi, atau kematian.
Tidak semua racun ular itu sama dalam memberikan efek gejala bagi korbannya. Ada ular dengan racun: neurotoksin, sitotoksin, miotoksin, kardiotoksin, nefrotoksin dan hemotoksin.
Fokus pembahasan mengarah ke hemotoksin yang memiliki efek vital dan membahayakan korbannya karena menyerang darah, pembuluh darah dan jaringan tubuh mangsa.
List ular yang mempunyai bisa hemotoksin ini berasal dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Artikel harus kamu baca sebagai referensi untuk meningkatkan kewaspadaan. Simak sekarang.
1. Ular copperhead

Ular copperhead adalah salah satu ular paling umum ditemukan di daratan Amerika Utara. Soal kengeriannya, sebenarnya copperhead bukan agresif secara alami. Jika ada manusia, mereka lebih memilih untuk menghindarinya.
Copperhead akan menggigit manusia yang mendekati terutama saat dianggap berniat jahat. Copperhead biasanya hanya memberikan gigitan kering tanpa bisa.
Jika ular ini mengeluarkan bisa, efek racunnya berupa kerusakan jaringan, pembengkakan, nekrosis dan kerusakan pada sistem peredaran darah. Namun menurut data yang ada, copperhead tidak banyak menggigit orang sehingga dianggap kurang berbahaya.
2. Ular boomslang

Dilansir animaldiversity, perilaku khas dari ular boomslang adalah kemampuannya untuk melipat taringnya ke dalam mulut saat tidak digunakan untuk menggigit. Sebab, saat menggigit, gigitannya tampak seperti sedang mengunyah karena taring belakangnya.
Boomslang menyerang objeknya pada sistem peredaran darah. Oleh karena itu, bisa ini menghentikan kemampuan pembekuan darah sehingga menyebabkan korban mengalami pendarahan bahkan meninggal dunia. Bisa bekerja beberapa jam setelah berkontak. Jadi berikanlah pengobatan secara tepat waktu.
3. Ular bushmaster

Ular bushmaster adalah ular berbisa jenis pit viper sekaligus ular berbisa terpanjang ketiga di dunia. Bushmaster bertubuh silindris, meruncing dan agak gemuk. Pola bushmaster adalah warna dasar kekuningan, coklat keabu-abuan dan kemerahan.
Racun hemotoksin pada bushmaster memiliki aktivitas proteolotik yang menghancurkan dan menyebabkan lesi pada jaringan dan antikoagulan membuat darah tidak membeku.
Gejala dari racunnya menyebabkan rasa sakit, edema, ekimosis, nekrosis kulit, abses, vesikel dan lepuh. Efek sistemik ditandai dengan hipotensi, pusing, gangguan penglihatan, bradikardia, sakit perut, mual, muntah, diare, pendarahan sistemik dan gagal ginjal.
Animalia bio melaporkan, di Brasil, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun digigit karena menginjak bushmaster di luar rumah. Kematian dilaporkan terjadi sekitar 15 menit kemudian. Pada 2005, di Mato Grosso, seorang anak berusia 5 tahun mengalami syok dan meninggal 30 menit setelah digigit.
4. Ular vit viper malaya

Satu lagi jenis vit piper yang bakal dibahas yakni ular vit piper malaya yang dapat ditemukan di Indonesia terutama di pulau Jawa, jelas laman thainationalpark.
Bagian punggung berwarna kemerahan, keabu-abuan dan coklat muda. Sisik punggung yang halus tersusun dalam 21 baris di bagian tengah tubuh.
Ular vit viper malaya punya sifat pemarah dan cepat menyerang. Tercatat sekitar 700 insiden gigitan dengan tingkat kematian sekitar 2 persen di Malaysia. Di Thailand, tercatat ada 225 gigitan dan sebagian korban mengalami gejala ringan hingga sedang.
Efek racun ular ini menyebabkan rasa sakit yang parah, pembengkakan lokal dan terkadang nekrosis jaringan. Banyak korban mengalami disfungsi atau amputasi tubuh karena kurangnya antivenom dan pengobatan dini.
5. Ular sidewinder

Ular sidewinder aktif di malam hari selama bulan-bulan panas dan aktif di siang hari selama bulan-bulan dingin. Sidewinder dapat menggunakan gerakan menyamping untuk menaiki lereng berpasir. Itu lah alasan namanya sidewinder.
Sidewinder memberikan racun hemotoksin lewat gigitan yang bisa berakibat fatal dan harus segera mencari pertolongan medis. Keracunan menyebabkan pembengkakan dan pembentukan lepuh hemoragik. Gejala sistemiknya adalah mual, pusing, menggigil dan gangguan darah.
Sidewinder biasanya ditemukan di gurun Amerika Utara. Bushmaster banyak tersebar di wilayah Amerika Selatan yang tinggal di daerah berbukit dan pegunungan.
Copperhead bisa ditemukan di hutan gugur dan lereng bukit berbatu di Amerika Utara. Boomslang tersebar di seluruh Afrika dengan habitat seperti sabana kering dan hutan dataran rendah.
Nah, untuk ular pit viper malaya tersebar di Indonesia tepatnya di habitat: hutan pesisir, semak bambu, lahan pertanian dan perkebunan. Sebaiknya hindari ular hemotoksin ini ya.




















