Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Kota Galle di Sri Lanka, Kawasan Bersejarah yang Selamat dari Tsunami

5 Fakta Kota Galle di Sri Lanka, Kawasan Bersejarah yang Selamat dari Tsunami
Kota Galle (commons.m.wikimedia.org/A.Savin)
Intinya Sih
  • Galle di Sri Lanka dikenal sebagai kota pelabuhan bersejarah yang sejak abad ke-2 menjadi pusat perdagangan internasional, terutama ekspor kayu manis ke berbagai negara.
  • Benteng Galle yang dibangun Portugis dan diperluas Belanda terbukti tangguh menahan tsunami 2004, melindungi kawasan kota tua dari kerusakan parah.
  • Kota ini mencerminkan keberagaman etnis dan agama serta tetap berperan penting dalam ekonomi modern lewat aktivitas pelabuhan dan rencana pengembangan fasilitas kapal pesiar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Galle, yang terletak di wilayah barat daya Sri Lanka, merupakan salah satu kota bersejarah yang masih berfungsi sebagai pusat hunian dan kegiatan ekonomi hingga saat ini. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai titik temu perdagangan internasional sejak abad ke-2, yang melibatkan pedagang dari berbagai belahan dunia seperti Arab, Persia, China, dan Eropa.

Berbeda dengan banyak situs sejarah lainnya, kawasan Benteng Galle tetap menjadi pemukiman aktif yang dihuni oleh masyarakat dari beragam latar belakang etnis dan agama. Berikut adalah 5 fakta tentang perkembangan sejarah, kondisi sosial, serta peran ekonomi kota ini bagi Sri Lanka.

1. Galle menjadi titik temu pedagang dari berbagai negara sejak dulu

Kota Galle
Kota Galle (commons.m.wikimedia.org/Zapata1000)

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Galle sudah dikenal sebagai pelabuhan utama di Sri Lanka. Lokasinya yang berada di persimpangan rute pelayaran Samudra Hindia membuat kota ini sering dikunjungi oleh pelaut dari Yunani, Romawi, Arab, hingga China. Keberadaan pelabuhan alam yang terlindungi oleh karang menjadikan tempat ini lokasi yang aman untuk kapal dagang bersandar.

Komoditas utama yang diperdagangkan dari Galle adalah rempah-rempah, terutama kayu manis. Sejarah mencatat bahwa Sri Lanka telah mengekspor kayu manis sejak ribuan tahun lalu, dan Galle menjadi pusat pengumpulan serta pengiriman barang tersebut ke pasar internasional.

2. Benteng tua yang melindungi warga dari bencana alam

Kota Galle
Kota Galle (commons.m.wikimedia.org/Dan Lundberg)

Ciri khas utama kota ini adalah Benteng Galle yang mulai dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1588. Bangunan ini kemudian diperluas secara besar-besaran oleh bangsa Belanda antara tahun 1663 hingga 1729. Mereka membangun tembok setebal tiga kilometer menggunakan batu granit dan karang, lengkap dengan 14 bastion untuk memperkuat pertahanan kota.

Ketahanan arsitektur kolonial ini teruji saat tsunami besar melanda pada tahun 2004. Tembok benteng yang kokoh berfungsi sebagai penahan air, sehingga sebagian besar kawasan kota tua di dalamnya tidak mengalami kerusakan parah. Hal ini berbanding terbalik dengan kawasan kota baru di luar benteng yang terdampak cukup berat.

3. Masyarakat dari berbagai latar belakang agama hidup berdampingan

Kota Galle
Kota Galle (commons.m.wikimedia.org/Philip Nalangan)

Penduduk Galle memiliki latar belakang yang sangat beragam sebagai hasil dari sejarah perdagangan di masa lalu. Mayoritas penduduk adalah etnis Sinhala yang beragama Buddha, namun terdapat komunitas Muslim (Moor Sri Lanka) yang cukup besar di dalam area benteng. Mereka adalah keturunan para pedagang Arab yang telah menetap di sana sejak berabad-abad lalu.

Keberagaman ini terlihat dari bangunan ibadah yang letaknya saling berdekatan. Di dalam kota, terdapat Gereja Reformed Belanda yang dibangun tahun 1755 serta Masjid Meera yang menjadi pusat kegiatan warga Muslim. Data menunjukkan bahwa penduduk kota terdiri dari penganut Buddha (65,7%), Muslim (32,3%), serta komunitas kecil Katolik, Kristen, dan Hindu yang hidup bersama.

4. Dampak tsunami tahun 2004 dan langkah perbaikan setelahnya

Kota Galle
Kota Galle (commons.m.wikimedia.org/A.Savin)

Pada 26 Desember 2004, Galle menjadi salah satu daerah yang terdampak tsunami Samudra Hindia. Bencana ini menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luas dan memakan banyak korban jiwa di wilayah tersebut. Kerusakan paling parah terjadi di luar area benteng, di mana gelombang merusak ribuan bangunan dan sarana transportasi publik.

Setelah kejadian tersebut, dilakukan berbagai upaya pemulihan, termasuk pembangunan kembali rumah-rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Selain perbaikan fisik, pemerintah juga memulai program pelestarian hutan bakau di pesisir selatan sebagai langkah alami untuk mengurangi dampak jika terjadi bencana serupa di masa depan.

5. Peran pelabuhan dalam mendukung ekonomi Sri Lanka saat ini

Kota Galle
Kota Galle (commons.m.wikimedia.org/Philip Nalangan)

Hingga saat ini, Galle masih menjadi pusat ekonomi penting melalui aktivitas pelabuhannya. Meskipun Pelabuhan Kolombo merupakan yang terbesar, Pelabuhan Galle tetap aktif menangani impor bahan pokok seperti minyak sawit, beras, tepung, semen, hingga gipsum. Keberadaan pelabuhan ini membantu mendistribusikan beban logistik di Sri Lanka.

Saat ini terdapat rencana pengembangan untuk meningkatkan fasilitas Pelabuhan Galle agar dapat terintegrasi dengan zona perkotaan di sekitarnya. Salah satu keunggulan pelabuhan ini adalah penyediaan fasilitas khusus untuk kapal pesiar (yacht). Inisiatif tersebut ditujukan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat setempat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Related Articles

See More