Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Masjid Huaisheng, Simbol Sejarah Islam Pertama di Tiongkok

5 Fakta Masjid Huaisheng, Simbol Sejarah Islam Pertama di Tiongkok
Masjid Huaisheng, juga dikenal sebagai Masjid Guangta atau Masjid Mercusuar, yang terletak di Guangzhou, Tiongkok. (commons.wikimedia.org/Scott Edmunds)
Intinya Sih
  • Masjid Huaisheng di Guangzhou diyakini sebagai masjid tertua di Tiongkok, dibangun pada masa Dinasti Tang sekitar tahun 627 Masehi dan menjadi bukti awal masuknya Islam ke negeri tersebut.
  • Nama “Huaisheng” berarti “Menghargai Sang Bijak”, mencerminkan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw., serta menandai hubungan diplomatik dan budaya antara Arab dan Tiongkok sejak abad ke-7.
  • Dengan arsitektur perpaduan gaya Arab dan Tiongkok, Masjid Huaisheng masih aktif digunakan hingga kini sebagai pusat ibadah, sejarah, dan simbol toleransi di tengah modernitas kota Guangzhou.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hubungan antara Islam dan Tiongkok sudah terjalin sejak masa sahabat Nabi. Jauh sebelum teknologi modern menyatukan dunia, para saudagar dan utusan diplomatik telah menempuh perjalanan ribuan mil menyusuri Jalur Sutra untuk membawa pesan damai. Salah satu bukti sejarah paling nyata dari perjalanan panjang ini adalah berdirinya Masjid Huaisheng di Guangzhou. Masjid yang dibangun pada masa Dinasti Tang ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan monumen hidup yang menandai titik awal berkembangnya syiar Islam di daratan Tiongkok lebih dari 1.300 tahun yang lalu.

Namun, apa yang sebenarnya membuat masjid kuno dengan menara unik ini tetap kokoh dan begitu dihormati lintas generasi hingga saat ini?

Yuk, kita telusuri lebih dalam sejarah dan keunikan arsitektur Masjid Huaisheng dalam artikel berikut ini!

1. Masjid tertua di Tiongkok

Masjid Huaisheng, juga dikenal sebagai Masjid Guangta atau Masjid Mercusuar, yang terletak di Guangzhou, Tiongkok.
Masjid Huaisheng, juga dikenal sebagai Masjid Guangta atau Masjid Mercusuar, yang terletak di Guangzhou, Tiongkok. (commons.wikimedia.org/Ismaila1977)

Berdasarkan catatan Muslim Tionghoa, Masjid Huaisheng dipercaya dibangun pada tahun 627 Masehi oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, sahabat sekaligus paman Nabi Muhammad saw., saat menjalankan misi dakwah pertamanya ke Tiongkok. Meskipun para ahli sejarah modern belum menemukan bukti fisik atau catatan resmi yang memastikan kehadiran Sa’ad di sana, mereka sepakat bahwa Islam memang telah masuk ke pusat-pusat perdagangan Tiongkok seperti Guangzhou sejak abad ke-7 pada masa Dinasti Tang.

Masjid bersejarah ini diyakini telah berdiri sejak era Dinasti Tang atau awal Dinasti Song, dengan menara atau mercusuarnya yang dibangun lebih awal. Sepanjang perjalanannya, bangunan ini telah mengalami beberapa kali renovasi besar, termasuk pembangunan kembali pada tahun 1350 dan pemulihan total pada tahun 1695 setelah sempat hancur akibat musibah kebakaran.

2. Ada misi diplomatik di balik berdirinya Masjid Huaisheng

Huaishengsi Chongjianjibei (Prasasti Pembangunan Kembali Masjid Huaisheng), sebuah prasasti batu bersejarah yang terletak di Guangzhou, Tiongkok.
Huaishengsi Chongjianjibei (Prasasti Pembangunan Kembali Masjid Huaisheng), sebuah prasasti batu bersejarah yang terletak di Guangzhou, Tiongkok. (commons.wikimedia.org/Chintunglee)

Kisah jejak sahabat Nabi di Masjid Huaisheng merupakan narasi sejarah yang sangat memikat karena menghubungkan langsung kota Guangzhou dengan masa awal kenabian di Arab. Masyarakat Muslim Tionghoa meyakini bahwa masjid ini didirikan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, sahabat sekaligus paman Nabi Muhammad saw., dalam misi diplomatiknya ke Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Konon, Kaisar Gaozong sangat menghormati ajaran Islam yang dibawa Sa’ad karena nilai etikanya yang sejalan dengan ajaran Konfusius, sehingga Kaisar memberikan izin resmi untuk mendirikan tempat ibadah ini.

Nama "Huaisheng" sendiri memiliki makna mendalam yang menjadi bukti cinta komunitas Muslim awal di Tiongkok kepada Rasulullah. "Huaisheng" berarti "Menghargai Sang Bijak". Nama ini diambil sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad saw.

3. Perpaduan budaya Arab dan Tiongkok

Menara Masjid Huaisheng di Guangzhou, Tiongkok.
Menara Masjid Huaisheng di Guangzhou, Tiongkok. (commons.wikimedia.org/User:Vmenkov)

Arsitektur Masjid Huaisheng merupakan perpaduan unik antara estetika Dinasti Tang dan prinsip desain Islami yang harmonis. Secara eksterior, masjid ini mengadopsi gaya tradisional Tiongkok dengan atap genteng hijau melengkung dan tata letak yang simetris, mirip dengan istana atau kuil kekaisaran. Namun, bagian dalamnya tetap murni menjaga identitas Islam dengan ruang salat yang menghadap kiblat serta hiasan kaligrafi Arab dan motif geometris, tanpa adanya patung atau gambar makhluk hidup sama sekali.

Ciri khas yang paling ikonik adalah Menara Guangta setinggi 36 meter yang berbentuk silinder polos dengan puncak runcing, sangat berbeda dengan gaya pagoda China yang biasanya bertingkat-tingkat. Menara berbahan batu bata ini memiliki fungsi ganda yang unik, yakni sebagai tempat berkumandangnya azan sekaligus mercusuar pemandu kapal dagang di masa lalu. Perpaduan tiang kayu berwarna merah yang megah dengan menara minimalis ini menjadikan Masjid Huaisheng sebagai simbol nyata pertemuan budaya Arab dan Tiongkok yang sangat indah.

4. Teka-teki jejak Sa’ad bin Abi Waqqas di Guangzhou

Kaligrafi yang menampilkan nama Sa'ad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw.
Kaligrafi yang menampilkan nama Sa'ad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. (commons.wikimedia.org/OatCookies)

Tak jauh dari Masjid Huaisheng, terdapat kompleks pemakaman yang dikenal sebagai Makam Suci. Meski para sejarawan modern umumnya mencatat bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas wafat dan dimakamkan di Al-Baqi, Madinah, tetapi tradisi setempat di Guangzhou meyakini bahwa beliau dimakamkan di sini. Terlepas dari perdebatan sejarah tersebut, situs ini tetap menjadi tujuan ziarah internasional yang sangat penting bagi umat Muslim dari berbagai negara yang ingin memberikan doa dan penghormatan kepada delegasi awal Islam di Tiongkok.

Kompleks makam ini menawarkan suasana yang tenang di bawah naungan pohon-pohon beringin tua. Untuk mencapainya, pengunjung perlu menempuh perjalanan singkat dengan bus dari masjid dan berjalan kaki melewati beberapa gerbang menuju bangunan pelindung makam agar terhindar dari panas dan hujan. Di dekat area makam, terdapat tempat salat serta mata air bersejarah yang ditemukan sekitar 1.300 tahun lalu, di mana airnya masih sering diminum oleh para peziarah hingga saat ini.

5. Masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah umat Muslim

Pintu masuk Masjid Huaisheng di Guangzhou, Tiongkok. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di negara tersebut dan diakui sebagai situs sejarah dan budaya utama yang dilindungi di tingkat nasional.
Pintu masuk Masjid Huaisheng di Guangzhou, Tiongkok. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di negara tersebut dan diakui sebagai situs sejarah dan budaya utama yang dilindungi di tingkat nasional. (commons.wikimedia.org/Skywalk1722)

Saat ini, Masjid Huaisheng bukan sekadar museum sejarah, melainkan pusat ibadah yang sangat aktif di tengah modernitas kota Guangzhou. Setiap harinya, ratusan jamaah datang untuk melaksanakan salat lima waktu, dan suasana akan semakin ramai pada hari Jumat serta hari raya besar seperti Idulfitri dan Iduladha. Sebagai kota perdagangan global, masjid ini menjadi tempat bertemunya keberagaman internasional, di mana Muslim lokal Tionghoa berbaur dengan para pedagang dan ekspatriat dari berbagai belahan dunia, mulai dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara.

Selain menjadi jantung komunitas Muslim, masjid ini juga dirawat dengan sangat baik sebagai situs sejarah dan budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Meskipun bangunannya telah berusia ribuan tahun, fasilitas pendukung seperti tempat wudu dan pencahayaan telah diperbarui agar jamaah tetap merasa nyaman. Para wisatawan pun diperbolehkan mengunjungi area halaman untuk mengagumi keaslian arsitektur dan Menara Guangta yang ikonik, menjadikan masjid ini sebagai simbol toleransi dan harmoni di tengah hiruk-pikuk salah satu kota tersibuk di Tiongkok.

Melihat bagaimana Masjid Huaisheng tetap berdiri tegak di tengah gedung-gedung pencakar langit Guangzhou memberikan kita sudut pandang baru tentang sejarah. Dengan segala kemegahan Menara Cahayanya, kini Masjid Huaisheng menanti siapa pun yang ingin datang dan membuktikan sendiri keajaiban sejarah tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More