Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Menarik Burung Pitohui, Satu-satunya Burung Beracun di Dunia

5 Fakta Menarik Burung Pitohui, Satu-satunya Burung Beracun di Dunia
Burung pitohui (pexels.com/Regan Dsouza)
Intinya Sih
  • Hooded Pitohui dari Papua Nugini dikenal sebagai satu-satunya burung beracun di dunia dengan racun pada kulit dan bulunya yang ditemukan sejak awal 1990-an.
  • Racun Pitohui berupa homobatrachotoxin, jenis neurotoksin yang sama dengan katak panah beracun, mampu mengganggu sistem saraf dan menarik perhatian ilmuwan soal evolusinya.
  • Penelitian menunjukkan racun berasal dari kumbang Choresine yang dimakan Pitohui, tersimpan di kulit dan bulu sebagai pertahanan, sementara tubuhnya kebal terhadap efek racunnya sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Burung umumnya dikenal sebagai hewan dengan bulu indah dan suara merdu. Namun, ada satu spesies yang cukup berbeda dari bayangan tersebut. Pitohui, khususnya Hooded Pitohui yang hidup di wilayah Papua Nugini, menjadi salah satu burung paling unik yang pernah ditemukan ilmuwan. Burung ini memiliki kombinasi warna hitam dan jingga mencolok yang membuat tampilannya mudah dikenali di alam liar.

Keunikan Pitohui tidak berhenti pada penampilannya. Burung ini menarik perhatian dunia sains karena diketahui membawa racun pada tubuhnya. Penemuan tersebut bahkan mengubah pandangan ilmuwan tentang dunia burung yang sebelumnya dianggap hampir tidak memiliki mekanisme pertahanan kimia. Berikut lima fakta menarik mengenai Pitohui yang membuatnya berbeda dari burung lain.

1. Pitohui dikenal sebagai burung beracun paling terkenal di dunia

Burung pitohui
Burung pitohui (pexels.com/Manish Sharma)

Pitohui menjadi terkenal karena keberadaan zat beracun pada tubuhnya, terutama pada spesies Hooded Pitohui. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan berbagai lembaga penelitian, zat beracun tersebut terdapat pada kulit dan bulunya. Penemuan ini pertama kali menarik perhatian ilmuwan pada awal 1990 an.

Sebelumnya, keberadaan racun pada burung hampir tidak pernah terdokumentasi secara ilmiah. Penelitian yang dipimpin Jack Dumbacher menemukan bahwa saat burung ditangani, muncul sensasi terbakar pada kulit. Penemuan itu kemudian menjadikan Pitohui sebagai salah satu contoh penting dalam studi pertahanan biologis hewan.

2. Racunnya sama dengan yang ditemukan pada katak panah beracun

Burung pitohui
Burung pitohui (pexels.com/Manish Sharma)

Hal menarik lainnya adalah jenis racun pada Pitohui ternyata bukan racun biasa. Burung ini mengandung homobatrachotoxin yang termasuk dalam kelompok batrachotoxin. Zat ini sebelumnya lebih dikenal ditemukan pada katak panah beracun dari Amerika Selatan.

Batrachotoxin merupakan neurotoksin yang dapat mengganggu kerja saluran natrium pada sistem saraf dan otot. Dalam jumlah tinggi, racun ini dapat menyebabkan gangguan serius pada tubuh. Keberadaan zat yang sama pada dua hewan dari wilayah berbeda membuat ilmuwan semakin tertarik mempelajari proses evolusinya.

3. Pitohui kemungkinan tidak membuat racunnya sendiri

Burung pitohui
Burung pitohui (pexels.com/Regan Dsouza)

Meski tubuhnya mengandung racun, ilmuwan menduga Pitohui sebenarnya tidak memproduksi zat tersebut secara alami. Penelitian menunjukkan racun kemungkinan berasal dari makanan yang dikonsumsi burung ini, terutama kumbang dari genus Choresine.

Fenomena seperti ini dikenal sebagai akumulasi racun dari makanan. Hewan mengambil senyawa tertentu dari mangsanya lalu menyimpannya di tubuh sebagai alat pertahanan. Menariknya, mekanisme serupa juga diduga terjadi pada beberapa katak panah beracun.

4. Racunnya lebih banyak berada pada kulit dan bulu

Burung pitohui
Burung pitohui (pexels.com/Regan Dsouza)

Banyak orang mungkin mengira racun burung ini tersebar merata di seluruh tubuh. Namun penelitian menunjukkan konsentrasi tertinggi justru ditemukan pada kulit dan bulunya, terutama pada bagian dada dan perut.

Posisi racun di bagian luar tubuh membuat mekanisme pertahanan ini bekerja lebih efektif. Predator yang mencoba menyentuh atau menggigit akan lebih cepat merasakan efek tidak nyaman seperti rasa terbakar, kebas, atau sensasi kesemutan. Cara ini membantu Pitohui mengurangi risiko dimangsa hewan lain.

5. Pitohui kebal terhadap racunnya sendiri

Burung pitohui
Burung pitohui (pexels.com/David Shayani)

Salah satu pertanyaan yang paling menarik adalah mengapa burung ini tidak keracunan oleh zat yang dibawanya. Penelitian menemukan adanya indikasi bahwa Pitohui memiliki kemampuan biologis yang membuat tubuhnya tahan terhadap efek racun tersebut.

Ilmuwan menemukan racun juga berada pada jaringan tubuh lain seperti hati dan otot. Hal itu menunjukkan tubuh Pitohui kemungkinan memiliki mekanisme khusus sehingga sistem sarafnya tidak terganggu oleh racun yang disimpannya sendiri. Adaptasi seperti ini menjadi salah satu contoh luar biasa dalam proses evolusi makhluk hidup.

Pitohui menunjukkan bahwa dunia burung masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami. Burung yang tampak biasa ini ternyata memiliki sistem pertahanan unik yang selama bertahun tahun luput dari perhatian ilmuwan. Penemuan tersebut juga mengingatkan bahwa alam sering menghadirkan kejutan dari tempat yang tidak terduga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More