Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siklon Bhola (commons.wikimedia.org/Noaa)
  • Siklon Bhola melanda Pakistan Timur, kini Bangladesh, pada 12–13 November 1970 dan menewaskan sekitar 300.000–500.000 orang, menjadikannya salah satu siklon tropis paling mematikan.

  • Gelombang badai sekitar enam meter, diperparah pasang laut tinggi, membanjiri pulau-pulau rendah dan kawasan delta Teluk Benggala yang padat penduduk.

  • Peringatan tidak menjangkau banyak warga akibat keterbatasan komunikasi dan radar rusak; bantuan yang terlambat memicu ketidakpuasan politik serta mendorong perhatian pada kesiapsiagaan siklon.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Siklon Bhola merupakan bencana siklon tropis yang melanda Pakistan Timur, wilayah yang kini menjadi Bangladesh. Siklon ini terjadi pada 12 hingga 13 November 1970. Bencana ini menewaskan sekitar 300.000 hingga 500.000 orang dan tercatat sebagai salah satu siklon tropis paling mematikan dalam sejarah.

Besarnya korban jiwa berkaitan dengan gelombang badai yang menerjang kawasan pesisir di sekitar Teluk Benggala. Keterbatasan sistem peringatan saat itu juga membuat banyak penduduk tidak sempat menyelamatkan diri. Peristiwa ini turut mendorong perhatian terhadap kesiapsiagaan menghadapi siklon tropis. Berikut lima fakta tentang Siklon Bhola dan dampaknya terhadap masyarakat.

1. Siklon Bhola menewaskan hingga 500.000 orang

Ilustrasi siklon (pexels.com/Atlantic Ambience)

Siklon Bhola melanda Pakistan Timur, yang kini menjadi Bangladesh, pada 12–13 November 1970. World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan bencana ini menewaskan 300.000 hingga 500.000 orang, meski jumlah pastinya sulit dihitung. Angka tersebut menjadikannya siklon tropis paling mematikan yang tercatat.

Jumlah korban tidak dapat dipastikan secara tepat, sehingga sumber menggunakan rentang perkiraan. Banyak korban tinggal di pulau-pulau rendah dan dataran pasang surut di sekitar Teluk Benggala. Kawasan pesisir yang padat penduduk membuat terjangan air laut berdampak sangat luas, terutama di permukiman yang dekat dengan pantai.

2. Gelombang badai menjadi penyebab utama banyaknya korban

Ilustrasi siklon (unsplash.com/Carlo)

Gelombang badai menjadi penyebab utama tingginya korban dalam Siklon Bhola. Fenomena ini terjadi ketika angin siklon mendorong air laut ke daratan hingga permukaannya naik dan membanjiri pesisir. WMO menyebut sebagian besar korban meninggal akibat gelombang besar yang menerjang pulau-pulau rendah di Teluk Benggala.

Wilayah delta tempat siklon mendarat memiliki banyak pulau kecil dan dataran rendah. Hurricanes: Science and Society memperkirakan gelombang badai mencapai sekitar enam meter. Air setinggi itu dapat menenggelamkan permukiman dan menyapu orang yang tidak sempat mencapai tempat lebih tinggi.

3. Siklon datang saat pasang laut berada di atas rata-rata

Ilustrasi ombak (unsplash.com/Eric Prouzet)

Siklon Bhola mulai terbentuk dari sistem tekanan rendah di bagian tengah Teluk Benggala pada 8 November 1970. Badai tersebut semakin kuat dan bergerak ke utara hingga mencapai kawasan delta pada malam 12 November. Saat itu, air laut sedang mengalami pasang tinggi yang lebih tinggi dari biasanya, menurut Hurricanes: Science and Society.

Kondisi tersebut memperparah banjir karena angin siklon mendorong air laut ke daratan ketika permukaan laut sedang tinggi. Akibatnya, air dengan mudah menggenangi kawasan delta yang sebagian besar berupa dataran rendah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa besarnya dampak siklon tidak hanya dipengaruhi kekuatan angin, tetapi juga kondisi pasang laut saat badai tiba.

4. Peringatan siklon tidak menjangkau sebagian besar penduduk

Ilustrasi siklon (pexels.com/Pixabay)

Meski ahli meteorologi mengetahui kedatangan siklon, peringatan tidak menjangkau sebagian besar penduduk pesisir dan pulau-pulau delta. Hurricanes: Science and Society mencatat bahwa sarana komunikasi saat itu tidak mampu menyampaikan bahaya kepada banyak warga. Akibatnya, banyak orang tidak sempat bersiap atau mengungsi ke tempat aman.

Laporan BRAC Institute of Governance and Development menyebut radar di Potenga, Chittagong, rusak sekitar sebulan sebelumnya dan belum diperbaiki. Peringatan dari lembaga meteorologi asing juga tidak ditindaklanjuti dengan baik. Tragedi ini menunjukkan pentingnya sistem peringatan dan komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat.

5. Bencana ini ikut mendorong perubahan politik dan penanganan siklon

Ilustrasi siklon (commons.wikimedia.org/NASA)

Dampak Siklon Bhola memicu kemarahan terhadap penanganan bencana oleh pemerintah Pakistan. Menurut BRAC Institute of Governance and Development, bantuan terlambat menjangkau sejumlah wilayah terpencil dan memperkuat ketidakpuasan politik di Pakistan Timur. Krisis tersebut ikut memengaruhi dinamika politik sebelum perang kemerdekaan Bangladesh pada 1971.

Bencana ini mendorong perhatian internasional terhadap pengurangan risiko siklon tropis. WMO menyebut tragedi Bhola ikut meletakkan dasar bagi Program Siklon Tropis untuk memperkuat kerja sama menghadapi ancaman siklon. Peristiwa ini menegaskan pentingnya prakiraan, peringatan dini, dan kesiapan evakuasi untuk mengurangi korban jiwa.

Siklon Bhola memperlihatkan bahwa bencana tropis dapat menjadi sangat mematikan ketika gelombang laut menerjang kawasan pesisir yang rentan dan penduduk tidak memperoleh peringatan yang memadai. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan bencana membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memantau cuaca. Sistem komunikasi, kesiapan evakuasi, dan koordinasi bantuan merupakan bagian penting dalam melindungi masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article