Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Karhutla Bisa Mengganggu Rantai Makanan?

4 min read
Kenapa Karhutla Bisa Mengganggu Rantai Makanan?
ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/K)
  • Karhutla memusnahkan vegetasi dan mengganggu fotosintesis, sehingga herbivor kekurangan makanan, predator kehilangan mangsa, serta produktivitas pertanian berpotensi menurun.

  • Kebakaran menghancurkan habitat, memaksa satwa berpindah dan bersaing atas makanan, air, serta ruang hidup; populasi juga dapat terpisah dan sulit berkembang biak.

  • Erosi, pencemaran air, dan penurunan kualitas tanah mengganggu organisme darat maupun perairan, memicu ketidakseimbangan predator-mangsa serta mengancam produksi pangan dan peternakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap kali dikaitkan dengan kerusakan pepohonan, kabut asap, dan hilangnya habitat satwa. Namun, dampaknya ternyata jauh lebih luas daripada sekadar vegetasi yang hangus terbakar. Karhutla juga dapat mengganggu rantai makanan.

Ketika hutan terbakar, tumbuhan sebagai sumber makanan utama bagi berbagai organisme ikut musnah. Akibatnya, hewan herbivor kehilangan sumber makanan, sedangkan hewan karnivor kesulitan menemukan mangsa. Bahkan, manusia juga bisa merasakan dampaknya melalui penurunan hasil pertanian dan terganggunya pasokan pangan. Lantas, bagaimana proses karhutla dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan?

  1. 1. Kerusakan tumbuhan mengurangi sumber makanan hewan

    Rantai makanan dimulai dari produsen, yaitu organisme yang mampu menghasilkan makanan sendiri melalui fotosintesis. Dalam ekosistem darat, kelompok ini terutama terdiri dari tumbuhan, seperti pohon, rumput, dan tanaman pertanian. Tumbuhan kemudian menjadi sumber energi bagi hewan herbivor, seperti rusa, kelinci, dan berbagai jenis serangga.

    Ketika karhutla terjadi, vegetasi dapat terbakar dan kehilangan kemampuan untuk menyediakan makanan. Asap tebal juga dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang diterima tumbuhan sehingga proses fotosintesis terganggu. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan produktivitas pertanian.

    Berkurangnya tumbuhan membuat hewan pemakan tumbuhan kesulitan memperoleh makanan. Jika jumlah herbivor menurun, predator yang memangsa mereka, seperti ular, elang, dan kucing liar, juga dapat mengalami kekurangan sumber makanan. Dengan demikian, kerusakan pada tingkat produsen bisa memengaruhi organisme lain di sepanjang rantai makanan.

  2. 2. Hilangnya habitat memaksa satwa berpindah

    Selain menyediakan makanan, hutan juga menjadi tempat berlindung, berkembang biak, dan mencari pasangan bagi berbagai jenis satwa. Karhutla dapat menghancurkan tempat-tempat tersebut sehingga hewan yang berhasil bertahan hidup terpaksa berpindah ke wilayah lain.

    Perpindahan ini dapat meningkatkan persaingan antarsatwa karena mereka harus berbagi sumber makanan dan air yang jumlahnya terbatas. Hewan yang sebelumnya hidup di wilayah berbeda juga bisa bertemu dan memperebutkan ruang hidup yang sama.

    Kerusakan habitat bahkan dapat memutus jalur pergerakan satwa dan memisahkan populasi menjadi kelompok-kelompok kecil. Akibatnya, beberapa spesies semakin sulit menemukan pasangan maupun lokasi yang aman untuk berkembang biak. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan populasi satwa dan mengubah keseimbangan ekosistem.

  3. 3. Kerusakan tanah dan air mengganggu kehidupan organisme

    pexels-rdne-8553493.jpg
    ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Dampak karhutla tidak berhenti pada tumbuhan dan hewan yang terlihat. Kebakaran juga dapat merusak lapisan vegetasi penutup tanah sehingga permukaan tanah lebih mudah mengalami erosi. Ketika hujan turun, abu, sedimen, dan berbagai zat pencemar dari lahan terbakar dapat terbawa menuju sungai dan sumber air lainnya.

    Air yang tercemar dapat mengganggu kehidupan organisme perairan, termasuk ikan dan hewan kecil yang menjadi sumber makanan bagi satwa lain. Jika populasi organisme tersebut menurun, hewan pemangsanya juga berpotensi kehilangan sumber energi.

    Kebakaran dengan intensitas tinggi atau terjadi terlalu sering juga dapat menurunkan kualitas tanah dan menghambat regenerasi tumbuhan. Padahal, tanah yang sehat mendukung kehidupan berbagai organisme kecil, seperti serangga, cacing, dan mikroorganisme. Organisme tersebut memiliki peran penting dalam penguraian bahan organik dan siklus nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan untuk tumbuh kembali.

  4. 4. Populasi predator dan mangsa menjadi tidak seimbang

    Rantai makanan memiliki hubungan yang saling berkaitan antara satu organisme dan organisme lainnya. Ketika salah satu populasi mengalami penurunan, perubahan tersebut dapat memengaruhi populasi lain. Fenomena ini dikenal sebagai efek berantai dalam ekosistem.

    Sebagai contoh, kebakaran yang mengurangi populasi serangga dapat membuat burung pemakan serangga kehilangan sumber makanan. Namun, dalam kondisi tertentu, berkurangnya jumlah predator justru memungkinkan populasi serangga tertentu meningkat. Jika serangga tersebut merupakan hama tanaman, hasil pertanian di sekitar kawasan terdampak juga bisa terancam.

    Artinya, gangguan pada satu kelompok organisme tidak selalu menghasilkan dampak yang sederhana. Perubahan jumlah predator, mangsa, dan organisme lain dapat mengubah interaksi dalam ekosistem sehingga keseimbangan rantai makanan menjadi terganggu.

  5. 5. Pasokan pangan manusia ikut terancam

    Manusia juga merupakan bagian dari rantai makanan sehingga dampak karhutla dapat dirasakan secara langsung. Kebakaran bisa merusak lahan pertanian, perkebunan, padang penggembalaan, hingga persediaan pakan ternak. Akibatnya, produksi pangan berpotensi menurun dan pasokan bahan makanan menjadi terganggu.

    Asap pekat juga dapat menghambat aktivitas pertanian karena mengurangi paparan sinar matahari dan membuat kondisi kerja di lahan menjadi tidak aman. Proses penanaman maupun panen bisa tertunda sehingga meningkatkan risiko penurunan hasil produksi.

    Peternakan pun menghadapi ancaman serupa. Ternak dapat mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap, dehidrasi, hingga luka bakar. Ketika padang rumput dan sumber air ikut rusak, ketersediaan pakan dan air bersih semakin terbatas. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan ternak serta produksi daging dan susu.

    Pada akhirnya, karhutla bukan hanya persoalan hilangnya pepohonan atau munculnya kabut asap. Kerusakan yang ditimbulkannya dapat merambat dari tumbuhan hingga manusia melalui hubungan dalam rantai makanan. Melindungi hutan berarti turut menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber pangan bagi seluruh makhluk hidup.

    Referensi

    Acclym. Diakses pada November 2026. How Do Wildfires Impact Crop Cultivation?
    Food and Agriculture Organization. Diakses pada November 2026. Wildfires and One Health: Understanding Interconnected Risks
    Value Match. Diakses pada November 2026. How are Wildfires Disrupting your Supply Chain?
    World Wildlife Fund. Diakses pada November 2026. Deforestation and Forest Degradation

Related Articles

See More