5 Fakta Unik Pelatuk Kepala Merah, Sering Menyimpan Makanan

- Pelatuk kepala merah punya ciri khas warna merah, hitam, dan putih yang mencolok dengan ukuran tubuh sekitar 19–25 cm serta bobot maksimal 97 gram.
- Burung ini dikenal omnivor dan unik karena sering menyimpan makanan di lubang pohon atau sela bebatuan untuk dikonsumsi kemudian.
- Saat musim kawin, jantan menjadi sangat teritorial, bahkan menghancurkan sarang burung lain, sementara sebagian populasi bermigrasi ke selatan pada akhir Oktober.
"Tuk, tuk, tuk", merupakan suara khas yang dikeluarkan burung pelatuk saat ia melubangi pohon. Kegiatan tersebut dikakukan burung pelatuk saat mencari makanan. Selain suara khas tersebut, apa kamu tahu kalau ada spesies bernama pelatuk kepala merah (Melanerpes erythrocephalus) yang punya berbagai keunikan?
Seperti namanya, spesies tersebut punya perpaduan warna mencolok, salah satunya merah. Ia memang bukan spesies terbesar, tapi pelatuk kepala merah cukup ganas, bahkan tak segan menghancurkan sarang burung lain. Kebiasaan melatuknya juga agak berbeda dari spesies lain Mau tahu apa saja keunikan pelatuk kepala merah? Simak di bawah ini, yuk!
1. Punya perpaduan warna merah, hitam, dan putih

Nama burung ini sudah mencerminkan perpaduan warnanya dengan sangat sempurna. Seperti namanya, spesies ini dicirikan dari kepala yang berwarna merah pekat. Selain merah, perut dan ujung sayapnya berwarna putih. Kemudian, warna hitam nampak di sayap dan ujung ekor. Jika dilihat sekilas, perpaduan ketiga warna tersebut sangat khas, mencolok, dan membuat pelatuk kepala merah mudah dikenali. Soal ukuran, burung ini punya panjang 19-25 centimeter, bentang sayap 42,5 centimeter, dan bobot maksimal 97 gram.
2. Punya kebiasaan menyimpan makanan

Dilansir Animal Diversity Web, pelatuk kepala merah merupakan omnivor yang makanannya mencakup cacing tanah, laba-laba, serangga, biji-bijian, kacang, telur, buah, hingga mamalia kecil. Selain itu, terkadang pelatuk kepala merah juga akan memakan kulit kayu. Ia punya berbagai strategi saat mencari makanan, seperti mengawasi mangsa dari puncak pohon atau berkelana di daratan.
Menariknya, hewan ini merupakan salah satu dari sedikitnya spesies pelatuk yang memiliki kebiasaan menyimpan makanan. Setelah mencari makanan, burung ini akan menyimpannya di beberapa tempat, seperti lubang, sela-sela bebatuan, tumpukan kayu, atau di dalam kayu mati. Tak hanya itu, burung ini juga akan menutup makanannya agar tidak terlihat oleh hewan lain.
3. Mulai mematuk kayu saat musim kawin

Laman iNaturalist menjelaskan kalau saat musim kawin tiba individu jantan akan mulai membuat teritori/wilayah kekuasaan dan memulai mematuk kayu dengan keras dalam rangka menarik perhatian lawan jenis. Ketika sudah menemukan pasangan, pelatuk kepala merah akan setia dengan pasangannya tersebut. Menariknya, para ahli juga menemukan bukti bahwa ada beberapa individu yang tidak setia dan kerap bergonta ganti pasangan. Sayangnya, para ahli belum tahu mengapa perbedaan kebiasaan tersebut bisa terjadi.
4. Akan menghancurkan sarang burung lain di teritorinya

Ketika musim kawin tiba dan sudah mendapatkan pasangan, pelatuk kepala merah jantan akan menjadi sangat teritorial. Dilansir Forest Preserve District of Will County, bahkan ia tak segan untuk menghancurkan sarang burung lain yang terlihat di wilayah kekuasaannya. Lebih lanjut, individu betina menjadi pihak yang memilih lokasi untuk membangun sarang.
Sarangnya bisa berupa lubang alami yang ada di pohon. Jadi, burung ini tak perlu bersusah payah untuk membuat sarang baru atau melubangi pohon. Jika tidak bisa menemukan lubang alami, barulah pelatuk kepala merah akan membuat sarang dengan melubangi pohon. Telurnya sendiri akan diinkubasi bergantian oleh jantan pada malam dan betina saat siang hari.
5. Mulai bermigrasi pada Oktober

Secara umum, pelatuk kepala merah merupakan hewan yang menetap di satu daerah dalam waktu yang lama. Namun, laman Avibase menerangkan kalau unggas ini juga akan bermigrasi pada akhir Oktober. Menariknya, kebiasaan migrasi tersebut hanya dilakukan oleh populasi yang hidup di wilayah utara. Dalam hal ini, mereka akan bermigrasi ke wilayah selatan untuk menghindari suhu dingin. Kemudian, burung ini akan kembali ke wilayah reproduksi pada akhir April.
Suara patukan pelatuk kepala merah akan terus terdengar jika kita senantiasa menjaga eksistensi burung asli Amerika utara ini. Hutan harus dijaga, keseimbangan ekosistem harus diprioritaskan, dan kehidupan pelatuk kepala merah menjadi fokus dalam upaya konservasi. Eksistensi burung ini memang tidak terancam, tetapi populasinya mulai menurun akibat ulah manusia,
















