Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Dampak Fenomena Flower Moon yang Terjadi pada 2 Mei 2026

3 Dampak Fenomena Flower Moon yang Terjadi pada 2 Mei 2026
ilustrasi Bulan (unsplash.com/Sotiris Savvides)

Fenomena Flower Moon akan kembali menghiasi langit pada 2 Mei 2026. Bulan purnama ini dikenal dengan cahaya yang terang dan mudah diamati dari berbagai wilayah di Bumi. Selain menarik untuk dilihat, Flower Moon juga sering dikaitkan dengan berbagai dampak di alam, mulai dari perubahan pasang air laut hingga kondisi langit malam yang lebih terang. Bahkan, beberapa makhluk hidup juga dapat merespons perubahan cahaya dari Bulan.

Meski terlihat sederhana, fenomena ini sebenarnya memiliki kaitan dengan sistem alam yang lebih luas. So, apa saja dampak yang bisa terjadi saat Flower Moon muncul? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

1. Pasang air laut lebih tinnggi dari biasanya

ilustrasi Bulan
ilustrasi Bulan (unsplash.com/malith d karunarathne)

Flower Moon pada dasarnya merupakan bulan purnama biasa yang terjadi pada Mei. Meski begitu, fenomena ini tetap membawa dampak alami seperti bulan purnama pada umumnya. Akan terjadi kenaikan permukaan air laut akibat gaya tarik gravitasi Bulan terhadap Bumi.

Mengutip dari NASA, gravitasi Bulan dapat menarik air laut hingga membentuk tonjolan atau kenaikan permukaan air di beberapa wilayah. Saat fase purnama, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis sehingga gaya tarik menjadi lebih kuat. Akibatnya, terjadi pasang laut yang lebih tinggi yang dikenal sebagai spring tide. Bagi kamu yang tinggal di wilayah pesisir, kondisi ini bisa meningkatkan risiko banjir rob, terutama jika bertepatan dengan cuaca buruk atau hujan deras.

2. Langit malam terlihat lebih terang

ilustrasi Bulan
ilustrasi Bulan (pexels.com/Henrique Feiten)

Selain memengaruhi pasang laut, Flower Moon juga membuat langit malam terlihat lebih terang dari biasanya. Hal ini karena fenomena Flower Moon terjadi saat Bulan berada dalam fase purnama. Dilansir web Time and Date, fase purnama terjadi ketika Bulan berada di posisi berlawanan dengan Matahari sehingga sisi yang menghadap Bumi tampak hampir terang sepenuhnya.

Dalam kondisi ini, sekitar 100 persen permukaan Bulan yang terlihat dari Bumi mendapatkan cahaya Matahari. Cahaya tersebut dipantulkan kembali ke Bumi dan membuat langit malam menjadi lebih terang. Akibatnya, bintang-bintang yang redup bisa terlihat lebih samar karena kalah oleh cahaya Bulan. Meski begitu, kondisi ini justru membuat Flower Moon menjadi objek paling mencolok dan indah untuk diamati di langit malam.

3. Perilaku hewan bisa ikut berubah

ilustrasi Bulan
ilustrasi Bulan (pexels.com/LEONIDES MONTES)

Flower Moon juga bisa memengaruhi perilaku hewan di alam. Pasalnya, banyak hewan memiliki ritme biologis yang mengikuti siklus alam, termasuk siklus Bulan. Mengutip dari Live Science, perubahan cahaya Bulan dapat memengaruhi pola aktivitas hewan, terutama yang aktif pada malam hari.

Saat bulan purnama, cahaya yang lebih terang membuat lingkungan sekitar menjadi lebih terlihat dibandingkan malam biasa. Kondisi ini bisa membuat sebagian hewan menjadi lebih berhati-hati untuk menghindari predator. Di sisi lain, ada juga hewan yang memanfaatkan cahaya tersebut untuk berburu atau beraktivitas lebih aktif. Hal ini menunjukkan bahwa Bulan tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga berperan dalam ritme kehidupan makhluk hidup.

Fenomena Flower Moon yang terjadi pada 2 Mei 2026 menjadi pengingat bahwa Bulan memiliki peran penting dalam berbagai proses alam di Bumi. Untuk mengamatinya, kamu cukup mencari tempat dengan langit cerah dan minim polusi cahaya. So, jangan sampai ketinggalan momen indah ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Related Articles

See More

5 Fakta Beautiful Demoiselle, Capung Jarum dari Sungai Eropa

01 Mei 2026, 15:58 WIBScience