Mitos hadir dari pandangan, pengalaman, dan stereotipe yang tersebar di masyarakat. Mitos juga melekat di banyak hal dan salah satunya burung. Terdapat banyak mitos sesat tentang burung yang masih beredar hingga kini. Ada yang berhubungan dengan burung hantu, kicauan, bahkan mitos yang cukup menyeramkan.
5 Mitos Sesat tentang Burung, Pernah Dengar Salah Satunya?

- Mitos burung peliharaan berubah menjadi ular berasal dari ular yang menyelinap ke kandang, memakan burung, lalu kesulitan keluar karena perut membesar.
- Suara keras burung bukan pertanda malapetaka, melainkan sarana komunikasi; kicauan juga digunakan untuk menarik pasangan, menandai wilayah, meminta bantuan, atau mengusir predator.
- Burung hantu hanya dapat memutar kepala hingga 270 derajat, sementara induk burung tidak terbukti meninggalkan anak yang disentuh manusia, meski anak burung tetap rentan disentuh sembarangan.
Contohnya, ada mitos soal burung peliharaan yang bisa berubah menjadi ular. Beredar pula mitos tentang burung hantu yang bisa memutar kepalanya hingga 360 derajat. Di sisi lain, mitos tentang teriakan burung yang mendakan malapetaka juga beredar di masyarakat. Apakah semua mitos tersebut dapat dipercaya? Cari tahu kebenarannya di bawah ini, yuk.
1. Burung peliharaan bisa berubah menjadi ular

burung peliharaan (unsplash.com/Amit Rai) Mitos ini sangat terkenal dan dipercaya oleh banyak orang, khususnya di Pulau Jawa. Mereka percaya kalau di malam hari burung peliharaan seperti perkutu yang ada di kandang akan berubah menjadi ular. Kemudian, masyarakat mengaitkannya dengan hal mistis,. Padahal, mitos ini tidak berdasar dan hanya kesalahpahaman semata.
Sebenarnya yang terjadi sangat sederhana, yaitu pada malam hari ular akan menyelinap ke kandang burung. Kemudian, ia akan memakan burung, perutnya membesar, dan tak bisa keluar. Nah, bagi banyak orang hal tersebut diartikan sebagai burung yang berubah menjadi ular. Laman Animalia juga menjelaskan bahwa ular yang sering memakan burung adalah ular arboreal seperti Boiga dendrophila.
2. Suara burung yang keras dipercaya sebagai pertanda buruk

burung bersuara keras (commons.wikimedia.org/Marie-Lan Taÿ Pamart) Dilansir Audubon dan Bird Spot, suara burung yang keras kerap diasosiakan sebagai malapetaka, pertanda buruk, atau isyarat kesialan. Hal ini sering terjadi pada burung predator seperti gagak. Padahal, mitos tersebut sama sekali tidak berdasar dan tanpan bukti. Sebaliknya, mitos ini bisa muncul karena ketakutan manusia terhadap hewan berwarna gelap dan bersuara keras. Sejatinya, suara keras burung tak ada hubungannya dengan nasib manusia. Sebab, suara keras yang dikeluarkan burung merupakan upaya mereka untuk berkomunikasi dengan sesamanya.
3. Burung hantu bisa memutar kepala hingga 360 derajat

burung hantu (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp) Burung hantu tak bisa memutar kepalanya hingga 360 derajat. Dilansir National Geographic, burung nokturnal tersebut hanya mampu memutar kepalanya hingga 270 derajat. Dalam hal ini, memutar kepala hingga 360 derajat sangat tidak mungkin karena tulang, sistem syaraf, otot, dan tendon akan putus jika hal tersebut dilakukan. Walau begitu, kemampuan memutar kepala yang dimiliki burung hantu tetaplah sangat menakjubkan. Saat memutar kepala, burung hantu bisa melihat ke banyak arah. Alhasil, hewan ini mampu menghindari predator dan mendeteksi mangsa yang ada di segala arah.
4. Burung berkicau karena merasa senang

burung berkicau (commons.wikimedia.org/Madeline Popelka) Kicauan burung memang terdengar merdu dan indah. Namun, bukan berarti ia berkicau karena merasa senang. Dilansir The Nature Education, burung akan berkicau untuk menarik perhatian lawan jenis atau menandai wilayah kekuasaan. Selain itu, terkadang burung juga berkicau untuk meminta bantuan, menakut-nakuti predator, berkomunikasi, atau pamer. Jadi, kicauan tak selalu berhubungan dengan perasaan senang. Sebaliknya, kicauan merupakan metode komunikasi yang dimiliki oleh burung.
5. Anak burung akan ditinggalkan induknya jika disentuh manusia

anak burung (commons.wikimedia.org/Bernd Thaller) Dilansir Scientific American dan All About Birds, tak akan bukti ilmiah yang membuktikan bahwa induk burung akan meninggalkan anaknya setelah disentuh oleh manusia. Jadi, mitos ini hanya bualan semata dan sama sekali tidak benar. Sebaliknya, burung merupakan hewan penyayang yang akan menjaga anaknya dari kecil sampai bisa hidup mandiri. Walau anaknya terjatuh, kotor, atau sudah disentuh burung tetap akan menjaganya. Walau begitu, kamu tetap tak boleh menyentuh anak burung dengan sembarangan karena mereka sangat kecil, rapuh, dan lemah.
Setelah diulik, kamu jadi tahu bahwa mitos tentang burung sama sekali tidak valid. Tak ada dasar yang melatarbelakanginya dan semua mitos tersebut hanya muncul dari asumsi belaka. Maka dari itu, kamu tak boleh percaya dengan mitos-mitos tersebut. Sebaliknya, kamu harus mengupas tuntas kebenarannya dan kemudian memberitahukan faktanya kepada orang lain.




















