Referensi :
Atsarissajad. (2025). Keanekaragaman Konduktivitas Hidrolik Pembuluh Xilem Tumbuhan Pada Lahan Gambut Guna Menentukan Spesies yang Sesuai untuk Restorasi. IPB University.
GUNAWAN, H., MUDIYARSO, D., MIZUNO, K., KOZAN, O., SOFIYANTI, N., INDRIYANI, D., ... & LESTARI, I. (2016). Taksiran akumulasi biomassa atas permukaan pada eksperimen restorasi lahan gambut bekas terbakar, area transisi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau, Sumatera Indonesia. Jurnal Riau Biologia, 1(1), 8-16.
Smith, S. W., Rahman, N. E. B., Harrison, M. E., Shiodera, S., Giesen, W., Lampela, M., ... & Lee, J. S. (2022). Tree species that ‘live slow, die older’enhance tropical peat swamp restoration: evidence from a systematic review. Journal of Applied Ecology, 59(8), 1950-1966.
Indonesia, K. K. B. K. R., & Basah, Y. L. Peta Jalan (Road Map) Mitigasi dan Adaptasi Amblesan (Subsiden) Tanah di Dataran Rendah Pesisir.
Kenapa Menanam Pohon di Lahan Gambut Harus Jenis Tertentu?

- Lahan gambut yang masam, jenuh air, dan minim oksigen hanya cocok bagi pohon beradaptasi khusus; penelitian mengidentifikasi 14 spesies berpotensi mendukung restorasi.
- Ketidaksesuaian jenis meningkatkan kematian bibit: jelutung rawa mencatat kelangsungan hidup 98% di Riau, sementara pisang-pisang 35%; spesies tumbuh lambat cenderung bertahan lebih lama.
- Pemilihan spesies asli dan adaptif membantu memulihkan penyimpanan karbon serta tata air gambut; rehabilitasi fungsi lindung diutamakan memakai tanaman asli.
Lahan gambut adalah ekosistem unik yang terbentuk dari tumpukan bahan organik selama ribuan tahun dalam kondisi tergenang air. Sifatnya yang masam, minim oksigen, dan jenuh air menyebabkan tidak semua tanaman bisa bertahan hidup di sini, bahkan banyak bibit yang mati sia-sia jika salah pilih jenis. Lantas, mengapa pemilihan jenis pohon di lahan gambut menjadi hal yang krusial? Berikut penjelasannya.
1. Bukan tempat yang ramah bagi sembarang pohon

Potret lahan gambut (commons.wikimedia.org/Sarah777) Bayangkan kamu dipaksa tinggal di ruangan tanpa jendela dan udara pengap—itulah gambaran kondisi lahan gambut bagi tanaman kebanyakan. Tanah gambut punya tingkat keasaman (pH) yang sangat rendah, kondisi tergenang air (anaerobik), serta ketersediaan oksigen yang minim di zona perakaran. Cekaman genangan air yang konstan membuat akar tanaman kesulitan bernapas dan menyerap nutrisi. Alhasil, cuma spesies dengan adaptasi khusus yang sanggup bertahan.
Penelitian Atsarissajad (2025) di Sumatra Selatan memberikan gambaran mengenai pentingnya karakter fisiologis dalam memilih spesies. Dari 157 spesies tumbuhan yang diamati, peneliti menemukan variasi konduktivitas hidrolik xilem (Kh), yaitu kemampuan jaringan xilem dalam menghantarkan air. Berdasarkan pola nilai Kh pada akar, batang, dan ranting, terdapat 14 spesies yang menunjukkan nilai Kh konsisten pada kategori menengah dan dinilai berpotensi untuk mendukung restorasi hutan gambut. Ke-14 spesies tersebut meliputi Cratoxylum arborescens (geronggang), Dialium kunstleri (keranji), Rubroshorea uliginosa (meranti bakau), Aglaia rubiginosa (parak api), Dillenia pulchella (simpoh paya), Litsea gracilipes (medang kasai), Garcinia cuspidata (kandis daun kecil), Cryptocarya impressa (medang), Drepananthus biovulatus (kerandau), Pometia ridleyi (kasai), Durio carinatus (durian hutan), Litsea firma (medang kuning belukar), Diospyros maingayi (pisang-pisang), dan Calophyllum aureum (bintangor).
2. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang jauh berbeda

Potret pepohonan di rawa gambut (pexels.com/Evelin Magnus) Di lahan gambut terdegradasi, tingkat kematian bibit bisa meningkat tajam ketika jenis pohon yang ditanam tidak sesuai dengan kondisi lingkungan. Penelitian restorasi di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau, menemukan perbedaan mencolok antara jelutung rawa (Dyera polyphylla) dan spesies pisang-pisang (Mezzettia parviflora). Jelutung rawa mencatat tingkat kelangsungan hidup mencapai 98%, sedangkan pisang-pisang berada pada angka 35%.
Disisi lain, kajian sistematis di Asia Tenggara juga mengungkap kecenderungan spesies dengan strategi hidup “lambat” (slow-growing) untuk bertahan lebih baik di lahan gambut terdegradasi. Hal ini didasarkan pada hubungan negatif antara relative growth rate (RGR) dan half-life, yaitu semakin lambat pertumbuhan, semakin lama spesies tersebut bertahan. Meski demikian, pemilihan pohon tetap perlu disesuaikan dengan kondisi hidrologis, karakteristik lokasi, dan tujuan pemulihan.
3. Memulihkan fungsi ekosistem gambut

Ilustrasi ekosistem lahan gambut (unsplash.com/Hidde Joustra) Lahan gambut berperan vital sebagai penyimpan karbon raksasa dan pengatur tata air, bahkan disebut sebagai spons raksasa alami. Pemilihan jenis pohon yang tepat bertujuan agar tanaman dapat tumbuh sekaligus mendukung pemulihan fungsi ekologis gambut yang mengalami kerusakan akibat kebakaran atau drainase. Spesies asli seperti jelutung dan meranti bakau diketahui mampu menghasilkan biomassa atas permukaan yang signifikan, sehingga berkontribusi terhadap penyerapan dan penyimpanan karbon dalam ekosistem.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pemulihan ekosistem gambut di Indonesia. Pemerintah menyebut bahwa rehabilitasi vegetasi pada fungsi lindung sedapat mungkin menggunakan jenis-jenis tanaman asli, sedangkan pada fungsi budidaya boleh menggunakan jenis lain yang adaptif terhadap lahan basah dan memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, pemilihan jenis tanaman yang sesuai tidak hanya mendukung keberhasilan rehabilitasi, tetapi juga memperkuat fungsi gambut sebagai penyimpan karbon dan pengatur tata air secara berkelanjutan.
Kedepannya, restorasi gambut yang sukses akan sangat bergantung pada penggunaan ilmu pengetahuan ini di lapangan. Maka dari itu, sebelum menanam, pastikan kamu mengenal siapa yang akan kamu tanam, karena di lahan gambut, ketepatan jenis adalah segalanya.




















