Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Situs Kuno yang Pernah Mengamati Worm Moon Sebelum Adanya Kalender
ilustrasi situs kuno yang mengamati worm moon (commons.wikimedia.org/Silar)
  • Sebelum kalender modern, manusia kuno membaca waktu lewat langit. Worm Moon, purnama dekat ekuinoks Maret, jadi penanda penting transisi musim dan kebangkitan alam di belahan utara.
  • Lima situs kuno seperti Mnajdra di Malta hingga Loughcrew di Irlandia menunjukkan keselarasan arsitektur dengan posisi matahari dan bulan, menandakan pemahaman astronomi tinggi sejak ribuan tahun lalu.
  • Fenomena Worm Moon mencerminkan hubungan spiritual dan praktis antara manusia dan kosmos, menjadi simbol keseimbangan musim serta panduan bagi ritual agraris dan siklus kehidupan nenek moyang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebelum kalender dicetak dan angka-angka tahun disepakati, manusia sudah punya cara membaca waktu. Mereka tidak melihat jam, “membaca” langit. Bulan purnama, terutama yang muncul dekat ekuinoks Maret, seperti Worm Moon, menjadi salah satu penanda transisi musim yang paling mudah diamati.

Menurut The Old Farmer’s Almanac, Worm Moon adalah nama tradisional untuk bulan purnama Maret yang menandai kebangkitan musim semi di belahan utara. Namun jauh sebelum istilah itu populer, sejumlah peradaban kuno kemungkinan telah mengamati purnama dekat ekuinoks sebagai bagian dari sistem waktu mereka. Berikut situs-situs yang menunjukkan jejak pengamatan kosmik tersebut.

1. Mnajdra Temples di Malta

ilustrasi mnajdra temples (commons.wikimedia.org/Docrgd)

Mnajdra Temples berdiri di tepi laut Malta sejak sekitar 3600 SM. Kompleks ini terdiri dari beberapa struktur batu besar yang disusun dengan presisi mengejutkan untuk ukuran zaman Neolitik.

Kuil Selatan Mnajdra secara khusus dirancang agar selaras dengan posisi Matahari saat ekuinoks dan solstis. Menurut dokumentasi UNESCO World Heritage, saat ekuinoks cahaya matahari masuk melalui ambang pintu dan menerangi dinding bagian dalam secara simetris. Ini menunjukkan bahwa masyarakat pembangunnya memahami pola tahunan matahari dengan sangat rinci.

Jika matahari diperhitungkan sedemikian presisi, besar kemungkinan fase bulan—termasuk purnama dekat ekuinoks seperti Worm Moon—juga masuk dalam sistem ritual mereka. Dalam banyak budaya agraris kuno, kalender bukan hanya solar atau lunar, tetapi lunisolar. Artinya, purnama yang muncul dekat momen keseimbangan musim hampir pasti memiliki makna simbolik dan praktis.

2. Chimney Rock di Colorado

ilustrasi chimney rock (commons.wikimedia.org/Krzysztof Ziarnek, Kenraiz)

Chimney Rock National Monument adalah situs budaya Puebloan yang berkembang sekitar abad ke-11 Masehi. Situs ini berada di ketinggian dan dikelilingi dua pilar batu alami yang menjulang dramatis.

Penelitian arkeoastronomi menunjukkan bahwa pada saat major lunar standstill, yang merupakan siklus 18,6 tahunan dalam pergerakan bulan, ternyata bulan terbit tepat di antara dua pilar tersebut. Data ini didokumentasikan oleh U.S. Forest Service dan berbagai studi arkeologi Amerika.

Kemampuan mengamati siklus lunar kompleks seperti ini membuktikan bahwa masyarakat Chacoan tidak hanya mengamati bulan secara kasual. Mereka memahami pola jangka panjangnya. Jika siklus 18,6 tahun saja dipetakan, maka purnama tahunan dekat ekuinoks, seperti Worm Moon hampir pasti menjadi bagian dari kalender upacara mereka. Hal ini dimungkinkan sebagai penanda awal musim tanam atau ritual kesuburan.

3. El Infiernito di Kolombia

ilustrasi el infiernito (commons.wikimedia.org/Juanme17)

El Infiernito terletak di wilayah Monquirá dan merupakan situs batu tegak milik peradaban Muisca.

Susunan pilar-pilarnya menunjukkan orientasi terhadap titik terbit matahari saat ekuinoks dan solstis. Penelitian arkeologi Kolombia menyebutkan bahwa situs ini kemungkinan berfungsi sebagai observatorium sekaligus pusat ritual kesuburan.

Bagi masyarakat agraris seperti Muisca, mengetahui momen pergantian musim sangat vital. Ekuinoks menandai keseimbangan cahaya dan perubahan pola cuaca. Jika mereka memantau matahari pada titik tersebut, maka purnama yang muncul di sekitar waktu itu, seperti Worm Moon. Kemungkinan menjadi indikator visual tambahan dalam sistem penanggalan tradisional mereka.

4. Oyu Stone Circles di Jepang

ilustrasi oyu stone circle (commons.wikimedia.org/Thirteen-fri)

Oyu Stone Circles berasal dari periode Jōmon, sekitar 2000 sampai 1500 SM.

Lingkaran batu ini terdiri dari dua formasi utama yang kemungkinan memiliki orientasi astronomis musiman. Budaya Jōmon hidup sangat bergantung pada ritme alam—mereka berburu, meramu, dan memancing mengikuti pola migrasi hewan serta perubahan musim.

Walaupun penelitian lebih sering menyoroti orientasi matahari, simbolisme bulan dalam budaya Jōmon juga tercatat dalam artefak dan pola ritual. Purnama dekat ekuinoks, seperti Worm Moon kemungkinan menjadi bagian dari momen sakral yang menandai transisi musim dan pembaruan siklus hidup.

5. Loughcrew Cairn di Irlandia

ilustrasi loughcrew cairn (commons.wikimedia.org/Delsheen80)

Loughcrew Cairn dibangun sekitar 3.000 SM dan merupakan kompleks makam lorong di puncak bukit Irlandia.

Saat ekuinoks musim semi dan gugur, cahaya matahari menembus lorong sempit dan menyinari ruang makam bagian dalam, memperlihatkan ukiran spiral dan simbol batu yang tersembunyi dalam gelap sepanjang tahun. Fenomena ini masih bisa disaksikan hingga kini.

Jika masyarakat Neolitik Irlandia menandai ekuinoks dengan presisi seperti itu, maka bulan purnama yang muncul tepat di sekitar waktu tersebut hampir pasti memiliki makna simbolis. Worm Moon yang datang membawa cahaya penuh di sekitar keseimbangan musim, mungkin dipandang sebagai simbol kebangkitan, transisi, atau siklus hidup dan mati.

Worm Moon bukan sekadar istilah folklor tentang cacing yang muncul dari tanah. Ia adalah representasi dari purnama yang hadir di momen keseimbangan kosmik. Ketika siang dan malam berdiri sejajar.

Situs-situs kuno ini membuktikan bahwa manusia telah lama menjadikan langit sebagai kalender. Mereka membaca cahaya yang masuk di antara batu, lorong, dan tebing sebagai pesan waktu. Dan saat Worm Moon kembali bersinar setiap Maret, kita mungkin sedang melihat bulan yang sama, yang dulu membantu nenek moyang dunia memahami kapan harus menanam, merayakan, dan berharap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team