6 Fakta Damaskus, Kota Kuno yang Menolak Lenyap Ditelan Zaman

- Damaskus adalah salah satu kota tertua di dunia yang tak pernah mati
- Tata kotanya yang modern ternyata berakar dari zaman Romawi
- Masjid Agung Umayyah dibangun di atas situs suci ribuan tahun
Damaskus, ibu kota Suriah, sering kali hanya terlintas di benak kita sebagai sebuah nama dalam berita konflik. Namun, jauh di balik citra itu, tersembunyi sebuah kota yang telah menyaksikan ribuan tahun peradaban manusia silih berganti. Kota ini adalah salah satu permukiman tertua di dunia yang terus-menerus dihuni, sebuah museum hidup yang dinding-dindingnya menyimpan gema dari berbagai zaman. Berdiri kokoh di persimpangan jalur perdagangan kuno antara Asia dan Afrika, Damaskus telah menjadi saksi bisu kebangkitan dan keruntuhan kekaisaran besar.
Keberadaannya yang abadi ini bukan tanpa alasan. Terletak di sebuah oasis subur yang dialiri oleh Sungai Barada, kota ini seolah menjadi permata hijau di tepi padang pasir. Keindahan dan posisinya yang strategis membuatnya menjadi rebutan banyak penguasa, mulai dari Firaun Mesir, kaisar Romawi, hingga khalifah Islam. Setiap peradaban yang datang tidak hanya menaklukkan, tetapi juga meninggalkan jejaknya, membentuk Damaskus menjadi sebuah mozaik budaya yang kaya dan kompleks seperti yang kita kenal hari ini.
1. Damaskus adalah salah satu kota tertua di dunia yang tak pernah mati

Banyak kota kuno di dunia yang kini hanya tersisa reruntuhannya, menjadi situs arkeologi yang senyap. Namun, Damaskus berbeda. Kota ini terus berdenyut dan menjadi rumah bagi jutaan orang selama ribuan tahun tanpa jeda. Bukti arkeologis yang ditemukan di Tell Ramad, sebuah situs di pinggiran kota, menunjukkan bahwa wilayah ini sudah dihuni sejak 8.000 hingga 10.000 tahun sebelum Masehi.
Menurut UNESCO, Damaskus secara resmi diakui sebagai salah satu kota yang terus dihuni tertua di dunia, dengan sejarah pendiriannya tercatat sejak milenium ketiga sebelum Masehi. Kota ini telah melihat semuanya, mulai dari kedatangan bangsa Aram, penaklukan oleh Alexander Agung, hingga menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi, Bizantium, dan berbagai dinasti Islam. Fakta bahwa Damaskus tidak pernah ditinggalkan penghuninya menjadikannya sebuah kapsul waktu yang unik, di mana kehidupan modern berjalan di atas lapisan-lapisan sejarah yang tak terhitung jumlahnya.
2. Tata kotanya yang modern ternyata berakar dari zaman Romawi

Jika berjalan-jalan di Kota Tua Damaskus, kita akan merasakan sebuah keteraturan yang tak terduga di tengah gang-gangnya yang padat. Keteraturan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan warisan dari para perencana kota Kekaisaran Romawi lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Dilansir dari Britannica, jantung Kota Tua Damaskus pada dasarnya masih mengikuti tata letak (grid) kota Helenistik-Romawi, dengan jalan-jalan utamanya yang berorientasi dari utara ke selatan dan timur ke barat.
Jalan utama yang membentang dari gerbang timur (Bab Sharqi) ke gerbang barat (Bab al-Jabiya) dulunya adalah decumanus maximus atau jalan poros timur-barat Romawi. Jalan yang dalam Alkitab disebut sebagai "Jalan Lurus" ini masih menjadi salah satu arteri utama di dalam tembok kota tua. Meskipun bangunan-bangunan baru telah tumbuh selama berabad-abad, struktur dasarnya tetap bertahan, menunjukkan betapa canggih dan berpengaruhnya desain perkotaan Romawi yang mampu bertahan melintasi milenium.
3. Masjid Agung Umayyah dibangun di atas situs suci ribuan tahun

Masjid Agung Umayyah adalah salah satu monumen paling spektakuler di Damaskus dan dianggap sebagai mahakarya arsitektur Islam awal. Namun, kesucian lokasi tempat masjid ini berdiri sudah berusia jauh lebih tua daripada masjid itu sendiri. Sejarah mencatat, lokasi ini pertama kali digunakan sebagai tempat suci bangsa Aram untuk memuja dewa Hadad. Kemudian, di bawah kekuasaan Romawi, sebuah kuil megah untuk Dewa Jupiter dibangun di atasnya.
Ketika Kekaisaran Romawi memeluk Kristen, kuil tersebut diubah menjadi sebuah basilika yang didedikasikan untuk Yohanes Pembaptis. Saat Islam masuk pada abad ke-7, umat Muslim awalnya berbagi tempat ibadah dengan umat Kristen. Hingga pada awal abad ke-8, Khalifah Al-Walid I dari Dinasti Umayyah membangun masjid megah yang ada saat ini, namun tetap mempertahankan satu kuil di dalamnya yang diyakini menyimpan jenazah Yohanes Pembaptis, seorang nabi yang dihormati dalam Islam (dikenal sebagai Nabi Yahya) dan Kristen.
4. Kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan kekhalifahan Islam pertama

Pada tahun 661 Masehi, Damaskus mengalami masa keemasan yang mengubah wajah dunia. Kota ini ditunjuk sebagai ibu kota Kekhalifahan Umayyah, kekhalifahan besar pertama dalam sejarah Islam. Di bawah pemerintahan Umayyah, Damaskus menjadi pusat dari sebuah imperium yang membentang dari Spanyol di Eropa hingga perbatasan India di Asia. Keputusan ini menjadikan Damaskus sebagai pusat politik, ekonomi, dan kebudayaan paling penting di dunia pada masanya.
Selama periode inilah, seperti dilansir dari UNESCO, Damaskus menjadi model teladan bagi perkembangan kota-kota Arab di masa depan. Dengan Masjid Agung di jantungnya dan tata kota yang mengadopsi warisan Romawi, Damaskus menjadi cetak biru peradaban kota Islam. Meskipun masa kejayaan ini berakhir pada tahun 750 Masehi ketika Dinasti Abbasiyah memindahkan ibu kota ke Baghdad, peran historis Damaskus sebagai ibu kota pertama kekhalifahan Islam meninggalkan warisan yang tak terhapuskan.
5. Damaskus dijuluki "Mutiara dari Timur" karena keindahannya yang legendaris

Jauh sebelum menjadi kota metropolitan yang sibuk, Damaskus terkenal di seluruh dunia karena keindahannya yang memukau, membuatnya dijuluki sebagai "Mutiara dari Timur". Pujian ini lahir dari lanskapnya yang subur, sebuah anomali hijau di tengah bentang alam Timur Tengah yang kering. Kota ini dikelilingi oleh al-Ghouta, sabuk oasis dan kebun buah-buahan yang diairi oleh tujuh cabang Sungai Barada. Pemandangan inilah yang mempesona para pelancong, penyair, dan penakluk selama berabad-abad.
Penulis perjalanan legendaris seperti Ibn Battutah pada abad ke-14 menggambarkannya sebagai kota yang keindahannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan penulis Amerika, Mark Twain, saat berkunjung pada tahun 1867, menulis bahwa "Bagi Damaskus, tahun-tahun hanyalah momen... Dia adalah tipe keabadian." Julukan "Kota Jasmine" juga melekat padanya karena aroma bunga melati yang konon menyebar di seluruh penjuru kota, menambah pesona puitisnya.
6. Warisan budayanya dilindungi dunia meski terus menghadapi ancaman

Dengan kekayaan sejarah yang luar biasa, tidak mengherankan jika Kota Tua Damaskus ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1979. Pengakuan ini mencakup sekitar 125 monumen yang dilindungi, termasuk Masjid Agung Umayyah, Benteng Damaskus, istana, dan rumah-rumah bersejarah. Penetapan ini bertujuan untuk melindungi warisan kota yang tak ternilai dari kerusakan akibat modernisasi yang tidak terkendali dan pelapukan zaman.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, warisan ini menghadapi ancaman serius. Mulai dari pembangunan perkotaan yang tidak terencana hingga dampak tragis dari Perang Saudara Suriah yang dimulai pada 2011. Akibat konflik, UNESCO menempatkan Damaskus dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya pada tahun 2013. Meskipun demikian, semangat penduduknya untuk bertahan dan memelihara identitas kota mereka tetap kuat, menunjukkan ketangguhan yang sama yang telah membuat kota ini bertahan selama ribuan tahun.
Sebagai salah satu panggung tertua dalam sejarah peradaban manusia, Damaskus lebih dari sekadar sebuah kota. Ia adalah bukti hidup dari kemampuan manusia untuk membangun, beradaptasi, dan bertahan melintasi berbagai zaman.


















