7 Fakta Burung Cekakak Batu, Lebih Sering Terdengar daripada Terlihat!

- Cekakak batu memiliki dimorfisme seksual yang mencolok
- Penampilan jantan dengan warna biru cerah, sementara betina didominasi warna oranye
- Habitat cekakak batu tersebar luas di Asia Tenggara, bukan pemakan ikan utama
Cekakak batu (Lacedo pulchella) adalah burung dari keluarga Halcyonidae, yaitu keluarga cekakak atau raja udang, yang juga dikenal sebagai kingfisher. Nama "cekakak batu" berasal dari suaranya yang nyaring dan kebiasaannya bertengger diam di pohon. Burung yang pertama kali dideskripsikan pada tahun 1821 ini terbagi menjadi tiga subspesies, yaitu jenis asli L. p. pulchella (Sumatra, Jawa), L. p. amabilis (Malaysia Utara) yang lebih besar, dan L. p. melanops (Brunei) yang jantannya memiliki corak kepala hitam.
Lebih dari itu, cekakak batu juga memiliki segudang fakta menarik lainnya yang wajib kamu ketahui. Berikut faktanya!
1. Penampilan cekakak batu jantan lebih mencolok dibandingkan betina

Cekakak batu adalah salah satu burung raja udang yang paling menarik karena memiliki dimorfisme seksual—perbedaan penampilan antara jantan dan betina—yang sangat jelas. Cekakak batu jantan memiliki penampilan yang sangat mencolok, dengan panjang tubuh sekitar 20 cm.
Ciri khas utamanya adalah kombinasi warna biru cerah dan garis-garis hitam-putih yang halus di seluruh tubuhnya. Bagian kepala dan mahkota berwarna biru terang dengan pola garis-garis berselang-seling hitam dan putih. Warna biru cerah ini juga mendominasi punggung dan sayapnya, dihiasi dengan pola bergaris yang unik. Paruhnya tebal dan kuat, berwarna merah cerah. Sementara itu, bagian dada dan perutnya berwarna keputih-putihan.
2. Penampilan betina didominasi oleh warna oranye

Cekakak batu betina memiliki penampilan yang sama menariknya dengan jantan, tetapi didominasi oleh warna oranye. Secara keseluruhan, corak betina lebih hangat dibandingkan dengan pola garis-garis tegas pada jantan.
Kepala, mahkota, dan bagian punggungnya berwarna oranye dengan pola garis-garis hitam halus yang memberikan tampilan seperti bintik. Paruh betina, seperti jantan, juga tebal dan kuat dengan warna merah cerah. Tubuh bagian bawahnya cenderung putih, tetapi ditandai dengan garis-garis hitam tipis yang terlihat jelas pada dada dan sisi tubuhnya.
3. Tersebar luas di Asia Tenggara

Habitat burung cekakak batu sangat khas dan berbeda dari kebanyakan jenis raja udang atau cekakak lainnya. Mereka tidak terlalu bergantung pada aliran air atau sungai, melainkan hidup di hutan dataran rendah hingga perbukitan. Sarang mereka berupa lubang di cabang pohon mati atau menggunakan bekas sarang rayap.
Cekakak batu tersebar luas di Asia Tenggara, mulai dari Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, hingga Semenanjung Malaysia. Habitat mereka juga termasuk di pulau-pulau besar Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Pulau Bangka. Namun, spesies ini dikabarkan telah punah di Singapura. Meskipun di Jawa populasi cekakak batu langka, tetapi secara umum, burung ini dapat ditemukan pada ketinggian 1.000 meter di Sumatra, atau bahkan 1.300 meter di hulu sungai Kalimantan.
4. Bukan pemakan ikan utama

Cekakak Batu ternyata bukan pemakan ikan utama. Pola makan Ini adalah salah satu perbedaan paling mendasar antara cekakak batu dan banyak kerabatnya dalam keluarga raja udang.
Cekakak batu adalah jenis burung cekakak yang habitatnya di hutan, bukan di dekat perairan besar seperti jenis cekakak sungai atau cekakak merah yang umumnya memakan ikan. Makanan utamanya adalah invertebrata besar dan vertebrata kecil seperti serangga, belalang, jangkrik, laba-laba, siput, ikan kecil, dan kadal. Meskipun demikian, cekakak batu adalah pemburu yang lincah dan akan menukik ke air untuk menangkap ikan.
5. Lebih sering terdengar daripada terlihat

Cekakak batu lebih sering terdengar daripada terlihat di habitat aslinya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang berkaitan dengan perilaku dan lingkungannya. Cekakak batu hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan yang lebat, sehingga pepohonan yang rapat dan kanopi yang tebal membuat burung ini sulit diamati secara visual.
Meskipun cukup aktif, tetapi mereka berburu dengan cara bertengger diam di dahan tinggi atau rendah sambil mengamati mangsa di lantai hutan atau dedaunan. Birds of the World mengatakan bahwa mereka memiliki suara panggilan yang keras dan khas berupa siulan yang nyaring dan terdengar jauh, seperti “wheeeoo," diikuti sekitar 15 siulan pendek dalam 17 detik, biasanya merupakan indikasi pertama keberadaannya.
6. Dikategorikan sebagai Risiko Rendah

Status konservasi cekakak batu secara global saat ini dikategorikan sebagai Risiko Rendah atau Least Concern oleh IUCN. Meskipun belum diukur secara pasti, tetapi populasinya dianggap stabil atau menurun perlahan, tetapi tidak cukup cepat untuk dikategorikan sebagai terancam.
Sebagai burung yang sangat bergantung pada hutan primer, ancaman terbesar bagi mereka adalah deforestasi, penebangan liar, dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Dilansir Greeners.Co, banyak jenis burung yang termasuk dalam keluarga raja udang dilindungi oleh Peraturan Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Walaupun tidak selalu tercantum secara spesifik di setiap peraturan yang terbaru, perlindungan ini tetap penting untuk menjamin kelestariannya dari perburuan liar dan perdagangan.
7. Paruhnya menginspirasi teknologi

Tahukah kamu? Bentuk paruh burung dari keluarga kingfisher, termasuk cekakak batu, telah menginspirasi salah satu teknologi transportasi paling terkenal di dunia, yaitu Kereta Cepat Jepang bernama Shinkansen. Dilansir American Association for the Advancement of Science, konsep ini dikenal sebagai Biomimikri, yaitu meniru atau mengambil inspirasi dari alam untuk memecahkan masalah rekayasa manusia. Inspirasi ini digunakan untuk mendesain bagian moncong kereta Shinkansen, yang sering disebut kereta peluru.
Saat kereta Shinkansen pertama kali beroperasi dengan kecepatan tinggi lebih dari 320 km/jam dan memasuki terowongan, kereta ini mendorong udara di depannya, sehingga menyebabkan dua masalah serius, yaitu gelombang kejut dengan suara keras yang dapat terdengar hingga 400 meter jauhnya, sekaligus mengganggu penduduk sekitar; serta hambatan udara yang mengurangi efisiensi dan kecepatan kereta. Oleh karena itu, Eiji Nakatsu, seorang insinyur Jepang, mengamati bagaimana burung kingfisher menyelam. Dari situlah, moncong kereta Shinkansen dirancang ulang dengan meniru bentuk paruh kingfisher. Hasilnya, ia berhasil merancang desain moncong baja sepanjang 50 kaki yang dapat meningkatkan kecepatan kereta dan pengurangan suara bising, serta peningkatan efisiensi sebesar 15%.
Fakta-fakta ini menegaskan betapa uniknya cekakak batu dalam keluarga raja udang (kingfisher). Dengan dimorfisme seksual yang memesona, adaptasi paruh yang menginspirasi teknologi modern, dan peran pentingnya sebagai pemburu serangga di ekosistem hutan. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga hutan, agar burung berparuh merah ini tetap memiliki rumah yang aman dan memastikan suara “cekakak” mereka yang khas terus terdengar di alam liar.


















