Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Lalat Kalajengking, Serangga Unik yang Mirip Kalajengking

Lalat kalajengking jantan (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera.
Lalat kalajengking jantan (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera. (commons.wikimedia.org/gailhampshire)
Intinya sih...
  • Lalat kalajengking bukan lalat sejati, tetapi termasuk ordo Mecoptera dengan ciri khas tubuh ramping dan perut melengkung.
  • Bagian ujung perut jantan yang menyeramkan sebenarnya tidak berbahaya, hanya alat reproduksi untuk memegang betina saat kawin.
  • Larva lalat kalajengking mirip ulat bulu, memiliki banyak kaki dan alat penghisap untuk mencari makan di tanah lembap.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Siapa yang tidak kenal dengan lalat? Serangga yang satu ini hampir selalu ada di sekitar kita, mulai dari lalat rumah yang hobi hinggap di makanan hingga lalat hijau yang gemar bermain di tempat sampah. Di dunia ini, ragam lalat sangatlah luar biasa, para ilmuwan mencatat ada lebih dari 150.000 spesies dengan bentuk dan kebiasaan yang berbeda-beda. Namun, di antara ribuan jenis tersebut, ada satu spesies yang seringkali membuat orang merinding hanya dengan mendengar namanya, yaitu Scorpionflies alias Lalat Kalajengking.

Meski memiliki embel-embel nama "kalajengking" dan ekor yang terlihat mengancam, tapi, apakah serangga ini benar-benar berbahaya atau justru menyimpan rahasia unik yang tak terduga? Yuk, kita bedah bersama fakta-fakta menariknya dalam artikel berikut ini!

1. Bukan lalat sejati

Lalat kalajengking jantan (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera.
Lalat kalajengking jantan (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera. (commons.wikimedia.org/Wolfgang Beckert)

Meskipun namanya lalat kalajengking, tetapi secara taksonomi mereka bukan termasuk lalat sejati, melainkan termasuk dalam ordo Mecoptera—sebuah nama dari bahasa Yunani yang berarti "sayap panjang". Secara fisik, mereka memiliki tubuh ramping berukuran 2–35 mm dengan ciri khas wajah yang memanjang menyerupai paruh serta mata majemuk di sisi kepalanya. Meskipun saat ini ada sekitar 600 spesies yang masih hidup, sebagian besar anggota kelompok ini sebenarnya lebih banyak dikenal melalui ratusan jenis fosil yang menunjukkan bahwa mereka adalah kelompok serangga yang sangat purba.

Ciri paling ikonik dari serangga ini adalah perutnya yang terdiri dari sebelas segmen, di mana pada jantan bagian ujungnya melengkung ke atas menyerupai ekor kalajengking. Mereka memiliki dua pasang sayap tipis yang panjang dan sempit dengan banyak urat, mirip dengan sayap serangga primitif seperti lalat capung. Di kalangan ilmuwan, silsilah keluarga mereka sempat memicu perdebatan, terutama mengenai hubungan kekerabatan mereka dengan ordo kutu (Siphonaptera). Kini, mayoritas spesies lalat kalajengking yang masih bisa kita temukan di alam berasal dari keluarga Panorpidae dan Bittacidae.

2. “Ekor” kalajengking yang menipu

Lalat kalajengking jantan (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera.
Lalat kalajengking jantan (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera. (commons.wikimedia.org/Jerzy Strzelecki)

Tampilan fisik lalat kalajengking jantan yang terlihat sangat mengancam itu sebenarnya tidak berbahaya. Bagian ujung perutnya melengkung ke atas dengan bonggol yang sangat mirip dengan sengat kalajengking asli, padahal organ tersebut sama sekali tidak memiliki jarum ataupun racun. Alih-alih digunakan untuk menyerang, bagian ini sebenarnya adalah alat reproduksi yang berfungsi sebagai penjepit untuk memegang betina agar tidak terlepas saat sedang kawin di dedaunan.

Penampilan menyeramkan ini merupakan strategi pertahanan alami agar predator merasa takut dan menjauh. Menariknya, fitur unik ini hanya dimiliki oleh jantan, sementara betina memiliki ujung perut lurus yang berfungsi murni untuk bertelur.

3. Larva yang mirip ulat bulu

Lalat kalajengking betina (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera.
Lalat kalajengking betina (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera. (commons.wikimedia.org/NobbiP)

Sebelum berubah menjadi serangga dewasa yang unik, lalat kalajengking memulai hidupnya sebagai larva yang bentuknya sangat mirip dengan ulat bulu. Larva ini memiliki kepala yang keras dan kuat untuk mengunyah, serta dilengkapi dengan banyak kaki, mulai dari tiga pasang kaki asli di bagian dada hingga delapan pasang kaki semu di bagian perutnya. Di ujung tubuhnya, terdapat alat penghisap atau kait khusus yang membantu mereka bergerak dengan stabil di tempat tinggalnya.

Selama masa pertumbuhan, larva ini bersembunyi di dalam tanah yang lembap untuk mencari makan. Mereka biasanya mengonsumsi sisa-sisa bahan organik atau bangkai serangga kecil yang mereka temukan di permukaan tanah. Setelah kenyang dan cukup umur, mereka akan memasuki tahap pupa, alias kepompong. Uniknya, dalam fase pupa ini, anggota tubuh mereka tidak menempel rapat pada tubuh melainkan bebas bergerak di dalam kepompongnya sebelum akhirnya muncul sebagai lalat kalajengking dewasa.

4. Tersebar di berbagai belahan dunia

Lalat kalajengking betina (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera.
Lalat kalajengking betina (Panorpa communis), sejenis serangga dalam ordo Mecoptera. (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Lalat kalajengking adalah serangga petualang yang tersebar luas di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika, Asia, hingga Australia. Mereka sangat menyukai tempat-tempat yang lembap dan rimbun seperti tepi hutan, semak belukar, taman kota, hingga lahan pertanian yang dekat dengan sumber air. Mereka mudah ditemukan di antara tanaman pagar, tanaman jelatang, atau tumpukan daun gugur yang basah, di mana mereka biasanya mencari makan dan berlindung.

Uniknya, setiap keluarga lalat kalajengking memiliki preferensi tempat tinggal yang sangat spesifik. Ada kelompok yang betah tinggal di hutan berdaun lebar, ada "lalat gantung" yang lebih suka bersembunyi di gua atau padang rumput yang sangat lembap, bahkan ada spesies "kalajengking salju" yang justru aktif di atas hamparan salju saat musim dingin.

5. Diet "pembersih" ekosistem

Lalat kalajengking betina (Panorpa communis) sedang menghisap netar bunga.
Lalat kalajengking betina (Panorpa communis) sedang menghisap netar bunga. (commons.wikimedia.org/Björn S...)

Lalat kalajengking adalah hewan pemakan segala (omnivora), yang berperan penting dalam mengurai bangkai serangga kecil atau hewan invertebrata yang sudah mati. Uniknya, beberapa spesies seperti Panorpa bahkan sangat berani mencuri makanan dari jaring laba-laba, atau malah memangsa laba-laba itu sendiri. Karena sangat bergantung pada kelembapan, serangga dewasa biasanya lebih sering terlihat aktif di waktu-waktu tertentu saja, terutama saat cuaca tidak terlalu panas.

Selain mengonsumsi daging dan bangkai, lalat kalajengking juga memiliki menu makanan yang sangat beragam. Mereka sering terlihat menghisap nektar bunga, memakan serbuk sari, lumut, hingga menikmati sari dari buah-buahan yang sudah membusuk. Variasi makanan ini, mulai dari serangga kecil hingga tumbuh-tumbuhan yang mulai hancur, membuat mereka mampu bertahan hidup dengan baik di berbagai habitat selama lingkungan tempat tinggal mereka tetap basah dan sejuk.

6. Ritual perkawinan yang "materialistis"

Seekor lalat kalajengking jantan (Panorpa communis) yang sedang memangsa korbannya.
Seekor lalat kalajengking jantan (Panorpa communis) yang sedang memangsa korbannya. (commons.wikimedia.org/Richard Bartz , Munich alias Makro Freak)

Proses kawin lalat kalajengking ternyata sangat unik dan penuh usaha, di mana para jantan menggunakan berbagai cara mulai dari parfum alami (feromon) hingga tarian sayap untuk memikat betina. Beberapa spesies bahkan punya trik fisik yang khusus, seperti jantan dari keluarga Boreidae yang menggunakan sayap berbentuk kait untuk mengangkat betina ke punggungnya. Ada juga jantan yang lebih suka pamer suara dengan cara menggetarkan sayapnya atau mengeluarkan bunyi gesekan demi mendapatkan perhatian sang pasangan.

Salah satu tradisi paling menarik dalam ritual kawin mereka adalah pemberian "mahar" berupa makanan lezat, seperti serangga mati atau cairan air liur yang bergizi. Pada jenis lalat gantung (Bittacidae), si jantan akan menyuguhkan mangsa segar kepada betina, selama betina sibuk menyantap hadiah tersebut, barulah proses kawin terjadi. Menariknya, ukuran hadiah sangat menentukan keberhasilan mereka—semakin besar makanan yang dibawa jantan, semakin lama waktu kawin yang diberikan betina, yang artinya peluang jantan untuk menghasilkan banyak keturunan pun jadi semakin besar.

7. Detektif forensik alami

Lalat kalajengking sedang memakan kecoa yang mati.
Lalat kalajengking sedang memakan kecoa yang mati. (commons.wikimedia.org/Pavel Kirillov)

Meskipun penampilannya sering dianggap menyeramkan karena "ekor" jantannya yang mirip sengat kalajengking, serangga ini sebenarnya punya peran yang sangat penting di dunia kepolisian. Lalat kalajengking memiliki penciuman yang sangat tajam terhadap jaringan yang membusuk, sehingga mereka sering menjadi serangga pertama yang tiba di lokasi mayat, bahkan sebelum lalat lainnya datang. Kehadiran mereka menjadi petunjuk berharga bagi ahli forensik untuk menentukan waktu kematian seseorang secara lebih akurat.

Di bidang sains forensik, serangga dari keluarga Panorpidae ini biasanya hanya akan hinggap pada mayat yang kondisinya masih sangat segar selama satu atau dua hari pertama. Hal ini pun sekaligus mematahkan ketakutan masyarakat yang menganggap mereka berbahaya, tapi kenyataannya, mereka tidak bisa menyengat atau melukai manusia. Alih-alih menjadi ancaman, lalat kalajengking justru menjadi "asisten" alami yang membantu mengungkap fakta di balik sebuah kejadian penting.

Lalat kalajengking adalah bukti nyata bahwa penampilan luar sering kali menipu, karena di balik sosoknya yang terlihat sangar dan mirip kalajengking, ia hanyalah serangga unik yang sama sekali tidak berbahaya bagi kita. Jadi, jika suatu saat kamu beruntung menjumpai serangga ini di taman atau tepi hutan, tak perlu merasa takut karena kamu sedang melihat salah satu keajaiban evolusi yang paling menarik!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Menarik Long Tailed Jaeger, Camar Kejar Kecil dengan Ekor Unik

09 Feb 2026, 21:29 WIBScience