Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Fakta Museum Fatahillah, Dulu Balai Kota Batavia Kini Jadi Museum

7 Fakta Museum Fatahillah, Dulu Balai Kota Batavia Kini Jadi Museum
Museum Sejarah Jakarta, yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah, yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, Indonesia. (unsplash.com/Mareno Tene)
Intinya Sih
  • Museum Fatahillah, yang kini bernama resmi Museum Sejarah Jakarta, dulunya adalah Balai Kota Batavia dan diresmikan sebagai museum pada 30 Maret 1974 oleh Gubernur Ali Sadikin.
  • Bangunan bergaya Neoklasik abad ke-17 ini meniru Istana Dam di Amsterdam, memiliki penjara bawah tanah sempit yang dulu menampung tokoh penting seperti Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien.
  • Museum menyimpan lebih dari 23.500 artefak sejarah, termasuk Meriam Si Jagur, Patung Hermes, serta replika prasasti kuno yang menggambarkan perjalanan panjang sejarah Jakarta dari masa prasejarah hingga kolonial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta adalah kota yang kaya akan jejak sejarah. Kalau kita keliling kota ini, kita bisa menemukan banyak banget peninggalan masa kolonial hingga cerita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nah, ngomongin soal tempat bersejarah, Museum Fatahillah pasti sudah gak asing lagi di telinga kita, khususnya bagi warga Jakarta. Museum yang berlokasi di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia ini adalah bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta.

Tapi, tahukah kamu bagaimana sejarah panjang di balik berdirinya gedung megah ini? Yuk, langsung saja kita simak sejarah dan fakta menariknya dalam artikel ini!

1. Nama resminya adalah museum sejarah jakarta

Museum Sejarah Jakarta, yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah, yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, Indonesia.
Museum Sejarah Jakarta, yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah, yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, Indonesia. (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)

Banyak orang yang menyebut tempat ini sebagai Museum Fatahillah, tapi sebenarnya nama resmi yang terdaftar adalah Museum Sejarah Jakarta. Ayo, siapa nih yang baru tahu fakta ini? Nama "Fatahillah" yang sering kita ucapkan itu sebenarnya diambil dari nama alun-alun atau taman luas yang ada persis di depan bangunan museum tersebut, yaitu Taman Fatahillah.

Pemberian nama Fatahillah sendiri bukan tanpa alasan, melainkan untuk menghormati seorang pahlawan besar dari Kesultanan Demak. Beliau adalah sosok yang berjasa merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada tahun 1527, lalu mengubah nama wilayah tersebut menjadi Jayakarta, yang menjadi cikal bakal kota Jakarta saat ini.

2. Berfungsi sebagai balai kota batavia

Stadhuis van Batavia (Balai Kota Batavia), yang kini dikenal sebagai Museum Fatahillah.
Stadhuis van Batavia (Balai Kota Batavia), yang kini dikenal sebagai Museum Fatahillah. (commons.wikimedia.org/Unknown author/Wereldmuseum Amsterdam)

Sebelum resmi dibuka sebagai museum oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 30 Maret 1974, gedung ini punya peran yang sangat penting di masa lalu. Bangunan ini selesai dibangun secara utuh pada tahun 1710 di bawah perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, lalu diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. So, sebelum jadi tempat wisata seperti sekarang, gedung ini adalah pusat pemerintahan yang sibuk banget.

Dulu, bangunan megah ini berfungsi sebagai Balai Kota Batavia (Stadhuis van Batavia). Gak cuma jadi kantor wali kota zaman Belanda, gedung ini juga dipakai untuk banyak urusan penting lainnya, mulai dari tempat pengadilan, kantor catatan sipil, kantor dewan kotapraja, sampai tempat ibadah bagi warga sekitar pada hari Minggu.

3. Arsitekturnya menyerupai istana dam di amsterdam

Paleis op de Dam, yang juga dikenal sebagai Istana Kerajaan Amsterdam (Koninklijk Paleis Amsterdam) yang terletak di Dam Square, Amsterdam, Belanda.
Paleis op de Dam, yang juga dikenal sebagai Istana Kerajaan Amsterdam (Koninklijk Paleis Amsterdam) yang terletak di Dam Square, Amsterdam, Belanda. (commons.wikimedia.org/C messier)

Kamu sudah tahu belum kalau arsitektur Museum Fatahillah ini ternyata mirip banget dengan Istana Dam (Paleis op de Dam) di Amsterdam, Belanda? Gedung bergaya Neoklasik abad ke-17 ini punya luas lebih dari 1.300 meter persegi dengan ciri khas cat dinding berwarna kuning tanah serta kusen pintu dan jendela dari kayu jati hijau tua. Bagian depannya juga makin cantik dengan pekarangan beralaskan konblok, sebuah kolam, dan beberapa pohon tua yang rindang.

Kemiripan utama dengan istana di Belanda bisa kamu lihat dari adanya kubah menara kecil di atas atapnya yang dilengkapi penunjuk arah mata angin. Struktur bangunannya sendiri dibuat simetris, terdiri dari bangunan utama tiga lantai dan dua sayap di sisi timur dan barat. Dulu, selain bangunan utama, ada juga bangunan samping yang dipakai untuk ruang kantor, ruang pengadilan, hingga ruang bawah tanah yang dijadikan penjara.

4. Ada penjara bawah tanah yang sangat sempit dan kejam

Penjara Bawah Tanah Pria yang terletak di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).
Penjara Bawah Tanah Pria yang terletak di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). (commons.wikimedia.org/T Taufiqqurrahman)

Kalau berkunjung ke sini, kamu bakal nemuin penjara bawah tanah yang terkenal sangat sempit dan kejam di bawah serambi dan bangunan samping museum. Penjara yang dibagi untuk sel laki-laki dan perempuan ini punya kondisi yang gak manusiawi karena langit-langitnya sangat rendah sampai kita harus membungkuk kalau masuk. Dulu, ruangan pengap dan gelap gulita ini bisa dijejali 50 sampai 70 orang sekaligus, bahkan tubuh para tahanan bakal terendam air kalau air laut lagi pasang.

Karena kondisinya yang sangat menyedihkan, banyak tahanan yang akhirnya tewas akibat penyakit sebelum sempat diadili. Sepanjang sejarahnya, penjara ini pernah menampung tokoh-tokoh penting, mulai dari mantan Gubernur Jenderal Belanda Petrus Vuyst, hingga para pejuang dan pahlawan besar Indonesia seperti Untung Surapati, Pangeran Diponegoro, dan Cut Nyak Dien.

5. Sumur tua jadi saksi bisu eksekusi

Penjara Bawah Tanah di Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta).
Penjara Bawah Tanah di Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta). (commons.wikimedia.org/Anonymous/http://hdl.handle.net/1887.1/item:771565)

Di halaman belakang museum, ada sebuah sumur tua berdiameter 2,3 meter yang menjadi salah satu sumur tertua di Jakarta. Pada masa kolonial Belanda, sumur ini awalnya berfungsi sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan para tahanan dan juga kuda patroli. Namun di balik fungsi tersebut, tempat ini ternyata menyimpan cerita kelam karena menjadi saksi bisu berbagai eksekusi mati.

Kondisi penjara bawah tanah yang sangat buruk dulu membuat banyak tahanan jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Karena jumlahnya yang banyak, jenazah para tawanan yang tewas tersebut langsung dibuang begitu saja ke dalam sumur ini. Kisah tragis inilah yang membuat sumur di area museum ini dikenal punya sejarah yang sangat menyeramkan.

6. Menyimpan lebih dari 23.500 artefak sejarah

Meriam Si Jagur yang terletak di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).
Meriam Si Jagur yang terletak di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)

Museum Fatahillah menyimpan lebih dari 23.500 artefak sejarah yang super lengkap. Di sini, kamu bisa melihat perjalanan sejarah Jakarta lewat replika peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, batu prasasti, hingga mebel antik perpaduan gaya Eropa, Tiongkok, dan Indonesia. Semua koleksi keren ini dipamerkan di berbagai ruangan khusus, mulai dari Ruang Prasejarah sampai Ruang Batavia.

Salah satu koleksi yang paling ikonis di sini adalah Meriam Si Jagur, sebuah meriam perunggu raksasa di halaman utara. Meriam buatan Portugis yang sempat direbut VOC ini terkenal karena punya dekorasi unik berbentuk kepalan tangan dengan jempol terselip. Di budaya Barat kuno, simbol ini sebenarnya berarti keberuntungan, walaupun sering disalahartikan oleh masyarakat kita.

Koleksi ikonis lainnya adalah Patung Hermes yang berada di halaman dalam museum. Dalam mitologi Yunani, Hermes dikenal sebagai dewa pelindung para pedagang. Nah, berdirinya patung perunggu ini di sana menjadi simbol sekaligus bukti sejarah kalau Batavia dulunya adalah kota pusat perdagangan maritim yang sangat besar.

7. Replika prasasti hingga lukisan mural juga ada di sini!

Mural karya Harijadi Sumodidjojo yang berjudul "Unfinished Mural" di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).
Mural karya Harijadi Sumodidjojo yang berjudul "Unfinished Mural" di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). (commons.wikimedia.org/22Kartika)

Gak cuma menyimpan barang-barang peninggalan zaman Belanda, Museum Fatahillah juga jadi tempat seru buat belajar sejarah Jakarta dari zaman purba atau prasejarah. Di sini, kamu bisa melihat replika Prasasti Tugu dan Prasasti Ciaruteun dari masa Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi. Di prasasti itu, ada cetakan telapak kaki Raja Purnawarman yang dianggap seperti kaki Dewa Wisnu, yang jadi bukti kalau peradaban di sekitar Jakarta sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa datang.

Selain prasasti kuno tersebut, ada banyak koleksi menarik lainnya yang gak boleh kamu lewatkan saat berkunjung. Mulai dari replika Padrão Sunda Kalapa yang bersejarah, pot keramik cantik asal Jepang dari abad ke-17, lempengan batu bergambar kapal VOC di dinding museum, hingga lukisan mural ikonik karya Harijadi Sumodidjojo yang sengaja dibiarkan belum selesai.

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan sejarah dan berbagai fakta menarik di balik megahnya Museum Fatahillah? Saat berkunjung nanti, kamu bisa melihat langsung penataan koleksi sejarah yang disajikan secara permanen berdasarkan urutan kronologis atau lini masa perjalanan kota Jakarta dari masa ke masa. Gak cuma itu, kamu juga bisa melakukan banyak aktivitas seru di area luar, seperti berfoto-foto, bersantai di alun-alun, atau keliling lapangan naik sepeda ontel hias.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More