ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/Gerd Altmann)
Kebakaran hutan merupakan faktor gangguan utama bagi banyak bioma, khususnya hutan, sabana, semak belukar, dan padang rumput. Petir merupakan penyebab umum, tetapi tindakan manusialah yang sering berperan. Yap, selama ribuan tahun, manusia telah membakar hutan untuk meningkatkan habitat bagi hewan buruan agar datang ke area yang baru terbakar karena ada tunas muda. Manusia juga suka membakar untuk membantu pertumbuhan tanaman liar yang bisa dimakan, menyediakan padang rumput yang subur bagi ternak, dan membuka lahan untuk ditinggali atau ditanami.
Pengaruh antropogenik, perubahan lingkungan akibat campur tangan manusia, tampaknya punya manfaat dalam mempertahankan ekosistem, contohnya seperti sabana ek di Midwest dan lembah Lereng Pasifik Amerika. Ada juga ekosistem yang sering terbakar, seperti hutan pinus ponderosa di Intermountain West (Amerika Serikat bagian barat), yang mengalami kebakaran di permukaannya dengan intensitas rendah. Hal ini merupakan siklus alami mengingat pembakaran secara berkala tersebut mencegah penumpukan material yang mudah terbakar dan menjaga struktur kanopi tetap terbuka. Adapun, pohon pinus sendiri tahan dengan api, sebagaimana yang dijelaskan Science Direct.
Menurut World Resources Institute, kebakaran bisa sangat merugikan jika menimpa bioma hutan hujan tropis, contohnya saja hutan-hutan di Indonesia. Sebab, hutan hujan seperti ini menyimpan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi. Jadi, jika terbakar dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi, hal ini menimbulkan sisi negatifnya tersendiri. Selain flora dan fauna yang hangus terbakar, keseimbangan alam juga akan terganggu serta tidak lagi menjadi paru-paru Bumi penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen maupun sumber obat-obatan alami.