3 Ancaman Besar bagi Bioma, Ada Kebakaran Hutan!

Kebakaran hutan, badai, dan letusan gunung berapi merupakan gangguan ekologis yang dapat mengubah ekosistem.
Kebakaran dapat merusak keanekaragaman hayati, sedangkan badai dan letusan dapat menghancurkan habitat secara langsung.
Skala dan lamanya gangguan memengaruhi kemampuan ekosistem untuk pulih.
Peristiwa atau kekuatan yang disertai dengan perubahan lingkungan, struktur, dan sumber daya ekosistem secara substansial merupakan sebuah gangguan ekologis. Gangguan ini sering kali dramatis, seperti ketika gunung berapi menyemburkan lava yang melewati hutan di lereng gunung atau tornado menerjang padang rumput. Dalam kasus lain, gangguannya lebih halus, misalnya penyebaran jamur yang mematikan pohon secara diam-diam, seperti yang dikutip Britannica.
Sekalipun tampak merusak, gangguan ekologis merupakan faktor lingkungan normal dalam bioma, wilayah geografis alami berskala besar, seperti sabana tropis, tundra Arktik, dan sejenisnya, yang didefinisikan oleh pengaruh geologis dan iklim yang berbeda. Lalu, apa saja, ya, gangguan ekologis yang merusak bioma?
Dasar-dasar gangguan ekologis

Hutan pinus kulit putih (Pinus albicaulis) mengalami penurunan di sebagian besar wilayah di Amerika Utara bagian barat karena efek dari patogen Cronartium ribicola, kebakaran hutan, dan perubahan iklim. (commons.wikimedia.org/BLMIdaho) The Conservation Foundation menjelaskan bahwa gangguan ekologis penting bagi bioma dan ekosistem karena dapat memengaruhi suksesi, proses perubahan vegetasi di suatu tempat dari waktu ke waktu. Ada istilahnya rezim gangguan (disturbance regime) yang merupakan pola, frekuensi, jenis, intensitas, dan tingkat keparahan dari peristiwa gangguan alami maupun buatan manusia yang memengaruhi suatu ekosistem atau bentang alam dari waktu ke waktu. Adapun, intensitasnya mengacu pada energi gangguan, seperti kecepatan angin dalam badai dan pelepasan panas dari kebakaran. Nah, tingkat keparahannya menggambarkan besarnya dampak gangguan ekologis tersebut pada ekosistem.
1. Kebakaran hutan

ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/Gerd Altmann) Kebakaran hutan merupakan faktor gangguan utama bagi banyak bioma, khususnya hutan, sabana, semak belukar, dan padang rumput. Petir merupakan penyebab umum, tetapi tindakan manusialah yang sering berperan. Yap, selama ribuan tahun, manusia telah membakar hutan untuk meningkatkan habitat bagi hewan buruan agar datang ke area yang baru terbakar karena ada tunas muda. Manusia juga suka membakar untuk membantu pertumbuhan tanaman liar yang bisa dimakan, menyediakan padang rumput yang subur bagi ternak, dan membuka lahan untuk ditinggali atau ditanami.
Pengaruh antropogenik, perubahan lingkungan akibat campur tangan manusia, tampaknya punya manfaat dalam mempertahankan ekosistem, contohnya seperti sabana ek di Midwest dan lembah Lereng Pasifik Amerika. Ada juga ekosistem yang sering terbakar, seperti hutan pinus ponderosa di Intermountain West (Amerika Serikat bagian barat), yang mengalami kebakaran di permukaannya dengan intensitas rendah. Hal ini merupakan siklus alami mengingat pembakaran secara berkala tersebut mencegah penumpukan material yang mudah terbakar dan menjaga struktur kanopi tetap terbuka. Adapun, pohon pinus sendiri tahan dengan api, sebagaimana yang dijelaskan Science Direct.
Menurut World Resources Institute, kebakaran bisa sangat merugikan jika menimpa bioma hutan hujan tropis, contohnya saja hutan-hutan di Indonesia. Sebab, hutan hujan seperti ini menyimpan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi. Jadi, jika terbakar dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi, hal ini menimbulkan sisi negatifnya tersendiri. Selain flora dan fauna yang hangus terbakar, keseimbangan alam juga akan terganggu serta tidak lagi menjadi paru-paru Bumi penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen maupun sumber obat-obatan alami.
2. Badai

ilustrasi badai (pixabay.com/Захари Минчев) Di beberapa ekosistem, badai hebat memiliki pengaruh ekologis yang setara atau bahkan lebih besar daripada kebakaran hutan, mengingat angin dahsyat menjadi salah satu karakteristiknya yang paling menonjol. Dikutip Britannica, siklon tropis merupakan kekuatan dahsyat yang sering terjadi di beberapa bagian daerah tropis, subtropis, dan lintang tengah. Badai Atlantik dan Karibia, misalnya, sering menerjang hutan rimba Amerika Tengah hingga hutan maritim di Pantai Timur.
Tornado dan downburst, angin horizontal dahsyat yang dikeluarkan dari badai petir besar, merupakan gangguan ekologis di hutan campuran kayu keras di Amerika Serikat bagian tengah dan timur. Fenomena-fenomena tersebut terjadi hingga meratakan lahan kayu lokal. Hujan badai yang deras dapat mengakibatkan banjir, yang merupakan gangguan ekologis berbeda dan dapat membunuh tumbuhan, hewan, serta mengendapkan sedimen subur. Gelombang badai, banjir pesisir besar-besaran yang dipicu oleh badai tropis, dapat menenggelamkan atau mengikis ekosistem pulau penghalang dan mencekik hutan pesisir melalui intrusi air asin.
3. Letusan gunung berapi

ilustrasi letusan gunung berapi (pixabay.com/Gylfi Gylfason) Jika kebakaran hutan dan badai merupakan gangguan ekologis yang sangat dipengaruhi iklim, letusan gunung berapi terkait dengan gejolak tektonik. Karena itu, fenomena tersebut terjadi di seluruh spektrum bioma dari lapisan es kutub hingga hutan tropis. Baik itu ledakan dahsyat dari stratovolcano, aliran lumpur yang deras, atau lapisan lava basaltik yang bergerak lambat, ekosistem di jalur langsung letusan cenderung mengalami transformasi yang luar biasa. Ketidakaturan topografi, perbedaan bentuk permukaan yang tidak rata, dapat menyelamatkan beberapa bagian ekosistem dari aliran lava.
Menurut NASA, salah satu contoh ekosistem yang terdampak aktivitas vulkanik adalah kipuka, pulau hutan atau padang rumput yang terisolasi di tengah aliran lava. Istilah kipuka berasal dari bahasa Hawaii. Adapun, pulau vulkanik tersebut mencakup beberapa hutan hujan tropis. Ada pula kipuka berupa padang rumput dan semak belukar di hamparan lava Craters of the Moon, Idaho. Dampak aktivitas vulkanik juga dapat menjangkau ekosistem pesisir yang jauh dari gunung berapi. Letusan bawah laut atau aliran piroklastik yang masuk ke laut, misalnya, dapat memicu tsunami yang kemudian berdampak pada ekosistem pesisir.
Gangguan ekologis yang terjadi dalam skala besar dan berlangsung lama dapat menyulitkan pemulihan ekosistem alami. Dalam satu peristiwa, seperti badai hebat atau kebakaran hutan, variasi ukuran lahan yang terganggu menjadi faktor penting untuk pemulihan. Jadi, bagaimana menurutmu?



![[QUIZ] Bisakah Kamu Bertahan Hidup di Luar Angkasa? Cek dari Kuis Berikut](https://image.idntimes.com/post/20240628/kuis-apakah-kamu-bisa-bertahan-di-bulan-8-2399956a7c58b65e8d6093eb17d74fa7.jpg)


![[QUIZ] Pilih Lukisan Berikut, Kami Bisa Tebak Kepribadianmu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20240426/tebak-kepribadian-berdasar-lukisan-7e92dbcc72c112686b745dd77d025d35.jpg)










![[QUIZ] Tes Rumus Matematika Tingkat SMP, Bisa Jawab Berapa?](https://image.idntimes.com/post/20241027/quiz-tes-rumus-matematika-tingkat-smp-seberapa-paham-kamu-2-8a885fb7d63f4126f6b219777db07dc4.jpg)



