Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Taman Nasional Way Kambas, Bukan Sekadar Rumah bagi Gajah Sumatera

5 Fakta Taman Nasional Way Kambas, Bukan Sekadar Rumah bagi Gajah Sumatera
Taman Nasional Way Kambas (flickr.com/Querida)
  • Taman Nasional Way Kambas di Lampung mendapat perlindungan sejak 1936 dan resmi menjadi taman nasional pada 1989, setelah melalui sejumlah perubahan status konservasi.
  • Way Kambas menjadi habitat lima mamalia besar Sumatera—gajah, harimau, badak, tapir, dan beruang madu—serta menaungi Sumatran Rhino Sanctuary dan Pusat Latihan Gajah.
  • Kawasan dengan lima tipe ekosistem ini mengalami kebakaran sekitar 673 hektare di Kuala Penet pada Agustus 2026; api padam, sementara pemantauan satwa dan pendinginan berlanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Taman Nasional Way Kambas menjadi salah satu kawasan konservasi paling terkenal di Indonesia, terutama karena keberadaan gajah sumatera di dalamnya. Namun, kawasan di Lampung ini menyimpan lebih banyak hal menarik daripada sekadar rumah bagi satwa berbelalai tersebut. Sejarah panjang, kekayaan satwa, hingga beragam ekosistem membuat Way Kambas memiliki peran penting bagi kelestarian alam.

Di balik luasnya kawasan ini, Way Kambas juga menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga kelestarian habitatnya, salah satunya ancaman kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini. Lantas, apa saja fakta menarik tentang kawasan konservasi ini? Simak lima faktanya berikut ini!

  1. 1. Sudah dilindungi sejak era kolonial

    Taman Nasional Way Kambas
    Taman Nasional Way Kambas (flickr.com/benyeuda)

    Jejak perlindungan Taman Nasional Way Kambas ternyata memiliki sejarah yang panjang, bahkan dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Upaya perlindungan kawasan ini dimulai pada 1936 oleh Resident Lampung saat itu, Mr. Rookmaker, yang kemudian disusul dengan Surat Keputusan Gubernur Belanda pada 26 Januari 1937. Sejak saat itu, kawasan Way Kambas mulai mendapat perlindungan secara resmi.

    Pada 1978, statusnya berubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam, kemudian pada 1985 ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam. Perjalanan tersebut berlanjut hingga Way Kambas dideklarasikan sebagai Taman Nasional pada 1 April 1989. Status tersebut kemudian ditegaskan kembali pada 1991, sebelum Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas dinyatakan sebagai Balai Taman Nasional Way Kambas pada 1997.

  2. 2. Rumah bagi lima mamalia besar Sumatera

    badak sumatera di Way Kambas
    badak sumatera di Way Kambas (commons.wikimedia.org/Willem v Strien)

    Taman Nasional Way Kambas memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati karena menjadi rumah bagi lima mamalia besar Sumatera. Kelima satwa tersebut terdiri dari gajah sumatera, harimau sumatera, badak sumatera, tapir, dan beruang madu. Keberadaan lima mamalia besar dalam satu kawasan konservasi membuat Way Kambas menjadi salah satu kawasan penting untuk menjaga kelestarian satwa liar di Sumatera.

    Selain menjadi habitat bagi kelima mamalia besar tersebut, Way Kambas juga menjadi lokasi Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Fasilitas ini secara khusus mendukung upaya perlindungan dan pengembangbiakan badak sumatera. Keberadaan SRS semakin menegaskan pentingnya kawasan ini dalam upaya menjaga badak sumatera yang keberadaannya semakin terancam.

  3. 3. Punya lima tipe ekosistem

    sungai di Taman Nasional Way Kambas
    sungai di Taman Nasional Way Kambas (flickr.com/Laura McLemore)

    Tak hanya luas, Taman Nasional Way Kambas memiliki bentang alam yang sangat bervariasi. Kawasan ini terdiri dari lima tipe ekosistem utama, yaitu hutan hujan dataran rendah, rawa, hutan pantai, hutan mangrove, dan hutan riparian. Setiap ekosistem menyimpan karakteristik lingkungan serta vegetasi yang khas.

    Di hutan hujan dataran rendah, dijumpai vegetasi seperti beringin dan meranti. Kawasan mangrove ditumbuhi spesies api-api, Rhizophora, dan Bruguiera, sementara hutan pantai didominasi pandan serta cemara pantai. Adapun area riparian di sepanjang aliran sungai banyak ditumbuhi pohon rengas dan waru. Perpaduan inilah yang membentuk lanskap di Way Kambas.

  4. 4. Menjadi tempat penting bagi konservasi gajah

    gajah-gajah yang ada di Way Kambas
    gajah-gajah yang ada di Way Kambas (flickr.com/Écologique Solidaire)

    Peran Way Kambas dalam konservasi gajah tidak hanya terbatas pada perlindungan kawasan, melainkan juga pengelolaan aktif. Salah satunya melalui Pusat Latihan Gajah (PLG) yang dikelola sejak 1985. Di area seluas 2.300 hektare ini, gajah-gajah dipantau secara berkala dan didampingi oleh mahout (pawang gajah) yang merawat serta memantau perkembangan mereka. Kebutuhan pakan juga didukung oleh kebun rumput gajah yang dikelola secara berkelanjutan.

    Upaya ini turut melibatkan Elephant Response Unit (ERU), tim khusus yang dibentuk untuk menangani konflik antara manusia dan gajah. Selain mitigasi konflik, gajah jinak di unit ini juga dilatih untuk patroli pengamanan kawasan dan penertiban jerat liar.

  5. 5. Menghadapi ancaman kebakaran hutan

    ilustrasi kebakaran hutan
    ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Dmytro Glazunov)

    Taman Nasional Way Kambas baru-baru ini menghadapi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Resor Kuala Penet, Lampung Timur. Kebakaran yang terjadi sejak Jumat, 21 Agustus 2026, diperkirakan berdampak pada sekitar 673 hektare kawasan. Upaya pemadaman melibatkan ratusan personel gabungan dan berhasil dilakukan pada Sabtu, 22 Agustus 2026 sekitar pukul 19.00 WIB. Meski api telah padam, pendinginan dan pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api kembali.

    Pemadaman tidak mudah karena lokasi terdampak memiliki lahan bergambut, akses yang sulit, serta sumber air yang cukup jauh sehingga sebagian titik harus dijangkau dengan berjalan kaki. Di tengah kondisi tersebut, keselamatan satwa tetap menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan petugas, gajah liar maupun gajah di Pusat Konservasi Gajah berada jauh dari lokasi kebakaran dan tidak terdampak langsung. Pemantauan terhadap satwa dan kondisi kawasan pun terus dilakukan untuk memastikan situasi tetap aman.

    Di balik luasnya Way Kambas, ada banyak kehidupan yang bergantung pada hutan, rawa, dan pesisirnya. Kebakaran yang baru terjadi menjadi pengingat bahwa kawasan seperti ini bisa terancam oleh berbagai faktor, baik kondisi alam maupun aktivitas manusia, termasuk kelalaian dan pembakaran yang disengaja. Karena itu, kesadaran manusia untuk lebih bijak memperlakukan alam menjadi penting agar berbagai kehidupan di dalamnya tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More