Apakah Orang Utan Akan Punah karena Karhutla?

Orang utan menjadi salah satu satwa yang ikut terdampak ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan habitat mereka di Kalimantan. Sebagai satwa yang banyak menghabiskan waktu di atas pohon, orang utan bergantung pada hutan untuk mendapatkan makanan, berlindung, dan berkembang biak. Ketika hutan terbakar, ruang hidup dan sumber pakan mereka dapat ikut hilang atau rusak.
Asap dan panas juga dapat membuat orang utan meninggalkan habitat mereka untuk mencari kawasan yang lebih aman. Namun, berpindah ke tempat lain bukan berarti mereka terbebas dari ancaman, terutama ketika habitat yang tersisa semakin terbatas. Lalu, apakah karhutla bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong orang utan menuju kepunahan? Berikut dampak dan risiko jangka panjang karhutla terhadap orang utan yang harus kamu tahu.
1. Karhutla menghancurkan habitat dan sumber makanan orang utan

ilustrasi orang utan (pexels.com/Cecilia Pérez Lobo) Karhutla dapat merusak hutan yang menjadi tempat orang utan mencari makan, berlindung, dan menjalani sebagian besar kehidupan mereka. Ketika pepohonan terbakar, orang utan tidak hanya kehilangan tempat tinggal, melainkan juga berbagai sumber makanan, seperti buah dan tumbuhan yang tersedia di hutan. Berdasarkan studi yang terbit dalam International Journal of Primatology pada 2021, kebakaran hutan dapat diikuti oleh periode panjang rendahnya produktivitas buah di hutan.
Kondisi tersebut membuat orang utan harus menyesuaikan pola makan dan perilaku mereka untuk bertahan hidup setelah kebakaran. Dampaknya pun tidak selalu berhenti ketika api sudah padam karena pemulihan vegetasi dan sumber makanan membutuhkan waktu. Dengan kata lain, karhutla dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap habitat dan kehidupan orang utan.
2. Selamat dari api bukan berarti orang utan terbebas dari ancaman

ilustrasi orang utan (pexels.com/Wesley Klijnstra) Selamat dari kobaran api bukan berarti orang utan langsung terbebas dari dampak karhutla. Asap yang tersisa dapat menyelimuti kawasan hutan dan tetap memengaruhi satwa yang hidup di sekitar. Berdasarkan penelitian yang terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 2018, paparan asap kebakaran hutan berdampak pada aktivitas dan kondisi energi orang utan di Kalimantan.
Penelitian tersebut dilakukan dengan mengamati orang utan sebelum, selama, dan setelah kebakaran gambut pada 2015 di Kalimantan Tengah. Selama periode asap, orang utan tercatat lebih banyak beristirahat dibandingkan sebelumnya. Setelah periode asap berlalu, mereka juga menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bepergian dan menempuh jarak yang lebih pendek.
Para peneliti juga menemukan tanda bahwa orang utan lebih banyak menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi setelah terpapar asap. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran dapat bertahan bahkan setelah asap mulai menghilang. Karena itu, orang utan yang berhasil selamat dari api masih dapat menghadapi tekanan lain yang memengaruhi kondisi dan kemampuan mereka untuk bertahan hidup.
3. Karhutla memperbesar risiko kepunahan orang utan dalam jangka panjang

ilustrasi orang utan (pexels.com/Noel Snpr) Karhutla memang tidak serta-merta membuat orang utan langsung berada di ambang kepunahan, tetapi kebakaran yang berulang bisa memperbesar tekanan terhadap populasi mereka. Orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) sendiri telah berstatus Critically Endangered atau kritis menurut IUCN. Kehilangan dan kerusakan habitat menjadi salah satu ancaman utama bagi kelangsungan hidup satwa endemik Indonesia tersebut.
Ketika hutan terbakar, habitat yang tersisa dapat semakin menyusut dan terfragmentasi sehingga ruang hidup orang utan menjadi lebih terbatas. Studi dalam Perspectives in Ecology and Conservation pada 2022 juga menunjukkan bahwa hilangnya habitat akibat deforestasi dapat berdampak besar terhadap populasi orang utan kalimantan dalam beberapa dekade mendatang. Jika karhutla terus berulang di kawasan habitat orang utan, tekanan tersebut berpotensi memperburuk kondisi populasi dan meningkatkan risiko kepunahan dalam jangka panjang.
Karhutla pada Agustus 2026 kembali mengancam habitat orang utan di Kalimantan, termasuk kawasan sekitar pusat rehabilitasi orang utan yang sempat terdampak kebakaran. Peristiwa ini menunjukkan bahwa orang utan membutuhkan perlindungan bukan hanya saat api berkobar, melainkan juga setelah kebakaran berlalu. Semoga upaya penanganan karhutla dan perlindungan habitat orang utan terus diperkuat agar satwa ini tetap dapat bertahan di alam.




















