- Masuk dan bertahan di dalam bangunan. Tutup pintu, jendela, serta celah yang menghadap ke luar. Matikan kipas atau pendingin ruangan yang menarik udara dari luar. Sediakan satu pintu keluar-masuk dan tinggalkan sepatu serta pakaian berabu di dekat pintu.
- Gunakan N95 bila harus keluar. Pastikan respirator menutup hidung dan mulut serta melekat rapat tanpa celah. Dalam pengujian laboratorium, bahan respirator setara N95 menyaring lebih dari 98 persen partikel abu, sedangkan bahan kain yang diuji tidak mencapai lebih dari 44 persen. Angka tersebut mengukur kemampuan bahan; perlindungan nyata tetap bergantung pada kerapatan masker di wajah.
- Lindungi mata dan kulit. Gunakan kacamata pelindung, baju lengan panjang, dan celana panjang. Hindari mengucek mata karena butiran abu dapat menggores permukaannya.
- Batasi berkendara. Kendaraan dapat menerbangkan kembali abu yang telah mengendap. Jika perjalanan tidak dapat dihindari, tutup jendela dan jangan menyalakan sistem pendingin yang memasukkan udara luar.
- Bersihkan tanpa menerbangkan debu. Tunggu hingga abu selesai turun dan ikuti petunjuk petugas. Basahi endapan secukupnya sebelum dipindahkan dan gunakan kain lembap untuk membersihkan bagian dalam rumah. Jangan memakai penyedot debu yang dapat menyemburkan kembali partikel halus.
Anak Krakatau Erupsi, Ini Cara Melindungi Diri

- Anak Krakatau erupsi sejak 4 September 2026 dengan aktivitas air mancur lava; status tetap Level III Siaga meski pengamatan visual terhalang kabut.
- Masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah serta diminta memantau informasi resmi PVMBG, BNPB, dan BPBD.
- Jika abu mencapai permukiman, berlindung di dalam bangunan, gunakan N95 saat keluar, lindungi mata dan kulit, batasi berkendara, serta ikuti arahan evakuasi petugas.
Dentuman dan suara gemuruh terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran pada Jumat malam. Di tengah Selat Sunda, gunung api yang masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan itu mengalami erupsi.
Aktivitas dilaporkan dimulai pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung. Secara visual, aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau air mancur lava. Lontaran material bahkan mengenai kamera pemantau hingga tidak dapat beroperasi.
Pembaruan MAGMA Indonesia pada Minggu, 6 September 2026, pukul 00.00–06.00 WIB menyebut gunung tertutup kabut dan asap kawah tidak teramati. Keterangan ini tidak dapat diartikan bahwa aktivitas telah berakhir karena pandangan memang terhalang. Status Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga.
Table of Content
Apa yang perlu diketahui masyarakat?
Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, di antara pesisir Lampung dan Banten. Karena material pijar dapat terlontar dari kawah, masyarakat, wisatawan, pengunjung, pendaki, dan nelayan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Larangan ini berlaku untuk mengurangi risiko terkena lontaran batu pijar dan material erupsi lainnya.
Penyebaran abu vulkanik di luar kawasan gunung dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak perlu memantau informasi resmi dari PVMBG, BNPB, dan BPBD setempat, terutama jika abu mulai mencapai permukiman.
Kekhawatiran mengenai tsunami juga muncul karena peristiwa runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 yang memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung. Namun, berdasarkan evaluasi PVMBG yang dikutip BNPB pada 5 September 2026, tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali masih relatif kecil dan saat itu tidak dinilai berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Penilaian tersebut berlaku berdasarkan kondisi gunung saat evaluasi dilakukan. Pemantauan tetap diperlukan karena aktivitas vulkanik dan bentuk tubuh gunung dapat berubah.
Jika abu mulai turun di permukiman

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar) Abu vulkanik dapat terbawa jauh dari sumbernya. Partikel kecilnya dapat mengiritasi mata dan saluran napas serta memperburuk asma atau penyakit paru. Besarnya risiko dipengaruhi oleh konsentrasi, ukuran dan komposisi partikel, serta lamanya seseorang terpapar.
Jika abu mencapai kawasan tempat tinggal, lakukan langkah-langkah berikut ini:
Jika abu turun terus selama berjam-jam, dengarkan arahan evakuasi. Endapan tebal dapat membebani atap dan menutup saluran udara bangunan.
N95 tidak melindungi dari gas vulkanik
Respirator N95 hanya menyaring partikel. Alat ini tidak menyaring gas atau uap beracun. Beberapa gas vulkanik juga tidak berwarna dan tidak berbau sehingga keberadaannya sulit dikenali tanpa alat pemantau.
Segera menjauh apabila muncul iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala, pusing, muntah, atau kesulitan bernapas. Jika keluhan tidak membaik setelah meninggalkan area paparan, cari pertolongan medis.
Bayi, anak-anak, lansia, penderita asma, serta orang dengan penyakit paru atau jantung perlu mendapat perlindungan lebih ketat. Penderita asma sebaiknya membawa obat, mengikuti rencana penanganan dari dokter, dan membatasi aktivitas fisik ketika udara berabu.
Jadikan arahan otorotas setempat menjadi acuan.
Referensi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana, “Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Disertai Dentuman, BNPB Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada,” 5 September, 2026.
MAGMA Indonesia, “Laporan Aktivitas Gunung Api: Anak Krakatau, Periode 00.00–06.00 WIB,” 6 September, 2026.
Carol Stewart et al., “Volcanic Air Pollution and Human Health: Recent Advances and Future Directions,” Bulletin of Volcanology 84 (2022): 11, https://doi.org/10.1007/s00445-021-01513-9.
Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Guidelines: During a Volcanic Eruption,” diakses September 2026.
William Mueller et al., “The Effectiveness of Respiratory Protection Worn by Communities to Protect from Volcanic Ash Inhalation. Part I: Filtration Efficiency Tests,” International Journal of Hygiene and Environmental Health 221, no. 6 (2018): 967–76, https://doi.org/10.1016/j.ijheh.2018.03.012.
International Volcanic Health Hazard Network, “Protection from Breathing Ash,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Health Effects of Volcanic Air Pollution,” diakses September 2026.











![[QUIZ] Berdasarkan Tujuan Kamu, Ini Jenis Diet yang Paling Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)







