Apa yang Terjadi jika Serangan Rudal Nuklir Hantam Suatu Wilayah?

Kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel memicu balasan besar dari Iran, meningkatkan ketegangan militer di Timur Tengah dengan ledakan terdengar hingga Qatar dan Uni Emirat Arab.
Dampak mengerikan serangan nuklir, mulai dari awan jamur, radiasi termal dan sisa, hingga electromagnetic pulse yang dapat melumpuhkan sistem elektronik vital dunia.
Dampak lanjutan seperti musim gugur dan musim dingin nuklir berpotensi menyebabkan kelaparan global, kehancuran lingkungan, serta gangguan sosial-politik berskala besar di seluruh dunia.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi telah tewas akibat serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, pada Sabtu (28/2/2026), seperti dilansir Al Jazeera. Hal ini dibenarkan oleh media Iran Tasnim dan Mehr. Setelah hal ini terjadi, Korps Garda Revolusi Iran berjanji akan membalas dendam dan mengaku telah melancarkan serangan terhadap 27 pangkalan yang menampung pasukan AS di Timur Tengah, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv. Ledakan terus terdengar di Qatar dan Uni Emirat Arab. Sampai detik ini, ketegangan pun masih berlangsung dan saling balas. Pertanyaannya, mungkinkah serangan ini akan berubah menjadi serangan nuklir? Begitulah sekiranya kekhawatiran netizen.
Nah, salah satu bencana yang melibatkan tenaga nuklir yang paling diingat adalah insiden Chernobyl pada tahun 1986. Tragedi ini meninggalkan noda yang hampir tak bisa dihapuskan di benak banyak orang, meskipun teknologi bertenaga nuklir saat ini dikatakan jauh lebih aman. Kamu mungkin tidak menyadari banyaknya aplikasi ilmu nuklir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kedokteran hingga produksi makanan, dan dari keselamatan, transportasi, hingga senjata, seperti yang dikutip World Nuclear Association.
Namun demikian, peperangan nuklir menjadi masalah yang tak bisa dipandang remeh. Dikutip Science Focus, setidaknya ada 19.000 hulu ledak nuklir di seluruh dunia, berdasarkan perhitungan Federasi Ilmuwan Amerika. Akurasi perkiraan ini tidak dapat diverifikasi secara pasti, karena pengembangan senjata nuklir cenderung sangat rahasia di negara-negara yang memiliki kapasitas untuk memajukannya. Namun, sekitar 95 persen dari senjata nuklir ini berasal dari Amerika Serikat dan Rusia, dengan sekitar 200 dari Inggris. Nah, jika salah satu senjata ini dilepaskan ke wilayah atau penduduk yang tidak tahu, hasilnya pasti akan mengerikan.
Serangan nuklir adalah hal yang sering digambarkan dalam fiksi ilmiah tentang masa depan pasca-apokaliptik dan realitas distopia. Namun, dunia cukup beruntung karena telah menyaksikan kehancuran yang dapat ditimbulkannya dan seharusnya bisa dijadikan pertimbangan oleh pemimpin-pemimpin dunia. Berikut ini kita akan membahas apa yang bisa terjadi jika serangan rudal nuklir menghantam suatu wilayah.
1. Munculnya awan jamur

Kamu pasti tahu, salah satu hal yang akan terjadi dari serangan nuklir adalah awan berbentuk jamur raksasa yang muncul dari lokasi serangan. Seperti yang dijelaskan Britannica, bola api nuklir yang muncul segera setelah rudal mengenai targetnya biasanya mengandung gas yang sangat panas dan mengembang ke luar. Ekspansi ini, yang disebabkan oleh tekanan yang sangat besar di dalam bola api, menciptakan gelombang kejut dan angin kencang dengan kehancuran yang mengerikan. Tergantung pada ukuran dan kekuatan bom, daya ledaknya bisa menghancurkan rumah dan bangunan, serta menerbangkan berbagai jenis puing besar, seperti kaca, logam, dan kayu. Kemungkinan, seseorang tidak selamat jika berada di sekitar ledakan.
Menurut International Committee of the Red Cross (ICRC), bom yang menghantam Nagasaki dan Hiroshima di Jepang pada Perang Dunia II itu berukuran cukup kecil menurut standar saat ini. Bom tersebut diledakkan dari 914 meter di atas kota-kota tersebut. Sayangnya, senjata nuklir saat ini diperkirakan 30 kali lebih besar dibandingkan bom yang diledakkan di Nagasaki dan Hiroshima. Alhasil, potensi kehancurannya juga akan lebih parah.
Tentu, kerusakannya tidak berhenti sampai disitu saja. Itu hanyalah awal dari bencana. Gelombang radiasi termal dan nuklir yang kuat pun menyusul, yang akan menyebabkan lebih banyak kehancuran dan kematian.
2. Munculnya radiasi termal

Dalam serangan nuklir, lebih dari sepertiga energi ledakan di udara keluar dalam bentuk panas yang sangat tinggi. Gelombang radiasi termal yang kuat ini dapat menyebabkan kerusakan serius pada mata dan kulit orang-orang yang berada di area terdampak. Selain itu, dapat membakar material, bahkan yang berada pada jarak yang cukup jauh dari lokasi tersebut.
Menurut ICRC, suhu tanah di bawah lokasi nuklir dapat mencapai puncaknya pada 7.000 derajat Celcius. Pada titik itu, sebagian besar makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, manusia—akan lenyap begitu saja. Adapun, para penyintas di dekatnya kemungkinan akan mengalami luka bakar parah pada kulit dan retina, bekas luka, dan bahkan kebutaan sementara.
Gelombang kejut yang mengikuti serangan nuklir berpotensi memperburuk keadaan dengan menyebarkan api yang sudah berkobar lebih jauh lagi. Jika diberi cukup waktu untuk menyebar dan terbakar, api-api ini dapat menciptakan badai api raksasa. Kemudian badai api ini menciptakan pilar gas yang sangat panas dan dapat membakar hampir semua yang ada di lokasi tersebut. Namun, lokasi geografis serangan nuklir dapat memengaruhi seberapa dahsyatnya badai api yang dihasilkan, seperti yang diamati dalam kasus Nagasaki dan Hiroshima. Nah, karena medan Nagasaki penuh dengan perbukitan, kerusakannya hanya sekitar seperempat dari apa yang terlihat di permukaan datar Hiroshima.
3. Munculnya radiasi awal

Setelah munculnya bola api yang dihasilkan akibat ledakan senjata nuklir, radiasi nuklir dipancarkan dalam dua fase: radiasi langsung atau awal, dan radiasi sisa. Dalam waktu 60 detik setelah ledakan, sinar gamma dan neutron dihasilkan, serta partikel alfa dan beta. Seperti yang dijelaskan NASA, sinar gamma—yang sangat panas dan kuat seperti lubang hitam dan supernova ini—mengandung energi paling besar di antara semua gelombang di seluruh spektrum elektromagnetik. Tidak mengherankan jika gelombang berenergi tinggi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius bagi makhluk hidup yang cukup sial berada di sekitarnya. Dengan demikian, radiasi gamma inilah yang menyebabkan kematian setelah serangan nuklir. Ini terlepas dari fakta bahwa sinar gamma dan neutron hanya menyumbang kurang dari 5 persen dari total energi yang dihasilkan oleh ledakan senjata nuklir.
ICRC mencantumkan sejumlah penyakit yang akan dialami seseorang akibat terkena sinar gamma. Pertama-tama, orang tersebut kemungkinan akan menderita diare, mual, dan muntah akibat kerusakan saluran pencernaan. Tubuh korban juga akan kesulitan memproses nutrisi, dan bahkan bisa meninggal karena dehidrasi. Korban juga tidak akan mampu menghasilkan sel darah baru, sehingga lebih rentan terhadap infeksi dan pendarahan yang tidak terkontrol. Jika orang tersebut terpapar dosis yang sangat tinggi, sistem saraf pusatnya akan berhenti berfungsi.
4. Radiasi sisa dan dampak jatuhan radioaktif

Emisi radiasi yang terjadi satu menit setelah ledakan senjata nuklir disebut radiasi residual, dan melibatkan lebih dari 300 isotop berbeda dari berbagai unsur, seperti yang dikutip Britannica. Sumber dan penyebaran radiasi tersebut bervariasi, tergantung pada lokasi ledakan senjata tersebut. Dalam kasus ledakan di udara, radiasi residual berasal dari bagian-bagian senjata yang meledak itu sendiri. Ledakan nuklir yang lebih dekat ke permukaan akan menarik air, tanah, dan puing-puing dari area tersebut yang menciptakan awan jamur.
Saat partikel-partikel yang terpapar radiasi ini mulai turun dan menyebar di daratan, hal ini menyebabkan dampak lokal dan global. Dampak lokalnya terjadi dalam sehari dan dampak globalnya terjadi beberapa hari kemudian. Dampak lokal terjadi ketika partikel-partikel tersebut jatuh kembali ke tanah dalam waktu 24 jam setelah terkontaminasi. Nah, secara tidak sengaja mengubah area tempat partikel tersebut menjadi area yang berbahaya dan terkontaminasi. Partikel lain yang terbawa angin dapat menyebar ke berbagai area di Bumi, mengontaminasi tempat-tempat yang bahkan bukan bagian dari radius ledakan senjata nuklir. Meskipun demikian, para ahli mengatakan bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh radiasi sisa berkurang secara eksponensial seiring berjalannya waktu setelah ledakan.
Adapun, misalkan selamat dari paparan awal radiasi nuklir, ternyata tidak memberikan jaminan apa pun bagi para korban. Penyakit radiasi dapat menyerang para penyintas beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan kemudian. Risiko mereka terkena kanker tiroid, leukemia, dan jenis kanker lainnya juga akan meningkat.
5. Munculnya electromagnetic pulse (EMP)

Serangan nuklir juga menciptakan electromagnetic pulse (EMP), yang merupakan hasil dari sinar gamma dari radiasi awal yang bertabrakan dengan molekul udara. Tabrakan ini menghasilkan elektron berenergi tinggi. Dalam prosesnya, elektron bermuatan negatif (yang lebih ringan) tersebar menjauh dari lokasi serangan nuklir. Sementara molekul udara bermuatan positif (yang lebih berat) tetap berada di tempatnya. Distribusi elektron ini menghasilkan medan listrik yang bentuknya dipengaruhi oleh variasi kepadatan udara berdasarkan ketinggian, seberapa dekat ledakan nuklir dengan planet ini saat terjadi, dan faktor-faktor lainnya. Ketika EMP mengenai peralatan elektronik yang tidak terlindungi, ia dapat melumpuhkan sistem komunikasi, komputer, dan peralatan vital lainnya.
Salah satu contoh paling terkenal dari kerusakan EMP yang disebabkan oleh senjata nuklir terjadi pada 9 Juli 1962, selama uji senjata militer dengan kode nama Starfish Prime, sebagaimana yang ditulis Smithsonian Magazine. Sebuah bom hidrogen 1,45 megaton meledak sekitar 402 kilometer di atas Pulau Johnston di Samudra Pasifik utara. Segera setelah ledakan bom—atau sekitar seratus kali lebih kuat daripada bom yang menghantam Hiroshima pada tahun 1945—EMP menyebabkan gangguan listrik besar-besaran di Hawaii. Ledakan itu juga menciptakan cahaya warna-warni yang spektakuler selama tiga menit dan bahkan terlihat oleh orang-orang yang berada sejauh 3.218 kilometer dari lokasi tersebut.
Sejak para ilmuwan memperhatikan EMP dan efeknya yang sangat merusak pada elektronik pada tahun 1950-an, mereka pun mengembangkan cara untuk "memperkuat" atau meningkatkan pertahanan mereka terhadap medan tersebut.
6. Potensi musim gugur nuklir

Ada lima negara pemilik senjata nuklir sebagai Nuclear Weapon States (NWS) yang diakui di dunia: Amerika Serikat, Inggris Raya, Prancis, China, dan Rusia. Kelima negara tersebut dikonfirmasi oleh Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT) tahun 1968 sebagai negara yang memiliki senjata nuklir. Namun, bukan lima negara itu saja, karena India, Israel, Korea Utara, dan Pakistan juga memiliki senjata nuklir. Adapun, Iran yang menandatangani Traktat Non-Proliferasi (NPT), rupanya tidak diakui sebagai negara pemilik senjata nuklir. Meskipun Iran punya kapabilitas nuklir yang sangat canggih dan dicurigai Amerika. Namun, konflik yang terjadi antar negara yang memiliki senjata nuklir bisa membuat senjata nuklir itu diledakan dan menciptakan musim gugur nuklir.
Dalam musim gugur nuklir, asap hitam yang dihasilkan dari ledakan senjata nuklir dapat mempercepat perubahan iklim, yang sangat memengaruhi suhu global dan produksi pangan. Musim gugur nuklir dapat menurunkan suhu dunia lebih rendah ketimbang Zaman Es Kecil yang terjadi dari abad ke-14 hingga ke-19. Hal ini bisa mengganggu produksi pangan, seperti menurunkan produksi jagung, beras, gandum, dan hasil pertanian penting lainnya hingga 40 persen hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Penurunan drastis dalam produksi pangan ini akan menempatkan miliaran orang di seluruh dunia—khususnya di Eropa, Amerika Latin, Amerika Utara, dan Asia Tenggara—dalam risiko kelaparan.
Hal ini juga dapat memicu perang nuklir lainnya, karena negara-negara adidaya nuklir berebut kendali atas pasokan pangan global yang sudah menipis untuk memberi makan warganya. Nah yang terburuk, hanya dibutuhkan lima bom nuklir konvensional untuk memicu skenario mimpi buruk ini, sebagaimana yang dikutip ZME Science.
7. Kemungkinan terjadinya musim dingin nuklir

Jika prospek perubahan iklim dunia akibat beberapa bom nuklir terdengar menakutkan bagi kita, maka perang nuklir habis-habisan antara negara-negara adidaya nuklir utama bisa jadi akan menyebabkan kepunahan umat manusia. Wah, seram banget, ya!
Seperti yang dijelaskan Vox, apa yang disebut musim dingin nuklir dapat terjadi jika dua negara dengan senjata nuklir canggih (seperti Rusia dan Amerika Serikat) memutuskan untuk berperang. Senjata nuklir ini akan menghancurkan daerah-daerah padat penduduk dengan melancarkan 2.000 serangan nuklir ke wilayah masing-masing. Selain kematian dan kerusakan akibat ledakan itu sendiri, puing-puing dan asap yang dihasilkan dari perang semacam itu, cukup untuk menutupi matahari selama bertahun-tahun. Seperti musim gugur nuklir, ini akan memengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dan produksi pangan selama bertahun-tahun. Namun, dampaknya akan jauh, jauh lebih buruk.
Banyak orang di seluruh dunia— banyak di negara-negara yang awalnya tidak terlibat dalam perang nuklir—akan mati kelaparan. Adapun, dunia akan menjadi gelap dan dingin. Selain itu, tingkat curah hujan global akan turun hampir setengahnya, yang hampir menjamin bahwa sangat sedikit kehidupan yang akan bertahan. Itu bahkan belum memperhitungkan bagaimana planet ini akan dibombardir dengan radiasi ultraviolet akibat penipisan lapisan ozon. Manusia akan sampai pada titik di mana berjalan di luar ruangan pun dapat membuat seseorang terbakar sinar matahari.
8. Perempuan dan anak-anak cenderung lebih menderita

Tidak akan ada cukup bantuan medis yang tersedia untuk semua orang yang membutuhkannya jika terjadi serangan nuklir. Namun, yang jarang disadari oleh sebagian orang adalah, perempuan dan anak-anak cenderung menderita secara fisik, mental, dan emosional yang lebih parah. Bayi yang bahkan belum lahir juga akan terkena dampaknya ketika senjata nuklir menghantam kota asal mereka.
United Nations Institute for Disarmament Research mengungkapkan bahwa radiasi pengion cenderung memengaruhi perempuan dengan tingkat yang lebih parah ketimbang laki-laki. Pasalnya, terjadinya kecelakaan di pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl, perempuan di wilayah terdekat dilaporkan cenderung lebih stres. Bahkan angka aborsi meningkat tajam, terutama di Ukraina. Dalam banyak kasus, aborsi direkomendasikan meskipun mereka tidak sepenuhnya memahami.
Norwegian Institute of International Affairs melaporkan bahwa dari tahun 1949 hingga 1991, Uni Soviet melakukan lebih dari 450 uji coba senjata di situs nuklir Semipalatinsk, Kazakhstan. Berdasarkan data yang tersedia, uji coba ini memengaruhi kesehatan lebih dari satu juta orang. Terjadi peningkatan drastis kasus kelainan sistem saraf dan kelainan bentuk wajah pada anak-anak yang lahir sebelum tahun 1985. Selain itu, jumlah anak yang meninggal karena leukemia dua kali lebih banyak dibandingkan statistik tahun 1945 hingga 1948.
9. Adanya pengungsian besar-besaran

Jika terjadi bencana nuklir, banyak keluarga yang akan mengungsi dari daerah yang terkena dampak. Seringkali, mereka yang terjebak di tengah konflik nuklir tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan diri. Sebab, tak ada satu pun yang mau terjebak dalam tragedi semacam itu.
Selain mengganggu rutinitas harian, keluarga yang mengungsi ini juga mengalami masalah keuangan. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah. Sementara itu, para orangtua akan berjuang mencari tempat tinggal dan pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka. Lebih jauh lagi, pindah ke lokasi baru dan asing berarti meningkatkan peluang untuk jatuh sakit atau menjadi korban kekerasan maupun diskriminasi rasial.
Tentu saja, ada trauma emosional yang menyertainya. Contohnya saja, perempuan yang selamat dari serangan di Hiroshima dan Nagasaki. Perempuan-perempuan ini mengaku dipermalukan dan diperlakukan buruk selama proses pemeriksaan yang harus mereka jalani untuk pindah ke lokasi yang lebih aman.
10. Kerusakan lingkungan dan kelaparan global

Diketahui bahwa satu serangan nuklir saja sudah cukup untuk memicu pendinginan iklim yang drastis, yang mengakibatkan kelaparan global. Saat jelaga, asap, puing-puing, dan partikel lain dikirim ke stratosfer akibat ledakan bom nuklir, partikel-partikel tersebut dapat menghalangi energi matahari untuk mencapai ke permukaan. Dan karena curah hujan juga akan berkurang setengahnya, tidak akan ada yang membersihkan penghalang tersebut dari stratosfer, yang berarti penghalang itu akan tetap ada di sana untuk waktu yang sangat lama. Tanpa energi matahari yang menopang kehidupan, organisme darat dan air di Bumi akan mati.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh International Physicians for the Prevention of Nuclear War, para ahli menguraikan beberapa dampak paling dahsyat dari bencana nuklir yang akan menyebabkan kelaparan meluas dan merusak lingkungan secara permanen. Hal ini termasuk penurunan produksi jagung, beras, dan kedelai secara progresif selama satu dekade, serta penurunan rata-rata produksi beras sebesar 21 persen di China selama empat tahun.
Nah, dengan berkurangnya pasokan pangan global secara drastis, harga pangan akan melonjak tajam. Alhasil, lebih dari 900 juta orang menderita kekurangan gizi jangka panjang. Angka itu akan membengkak hingga lebih dari satu miliar dalam waktu kurang dari 10 tahun.
11. Gangguan sosial dan politik yang terjadi besar-besaran

Realitanya adalah tidak ada negara yang benar-benar siap sepenuhnya untuk menangani krisis medis setelah bencana nuklir terjadi. Fasilitas dan peralatan penyelamat nyawa kemungkinan besar akan berhenti berfungsi di daerah yang terkena dampak serangan nuklir. Petugas medis juga bisa tewas atau terluka.
Selain itu, banyak industri yang berpusat di daerah perkotaan pasti akan menderita, yang kemungkinan akan melumpuhkan perekonomian. Dari lembaga pendidikan, fasilitas penelitian hingga rantai manufaktur dan distribusi produk, masyarakat akan mengalami gangguan besar. Sementara itu, dari sisi politik, kerusakan dan hilangnya nyawa yang disebabkan oleh serangan nuklir membuat kantor pemerintah berhenti berfungsi, catatan dan dokumen resmi hilang, dan bahkan anggota politik bisa meninggal dunia.
Dalam sebuah presentasi di konferensi tahun 2013 di Oslo, Norwegia, Neil Buhne dari PBB merangkum tantangan-tantangan ini, terutama di negara-negara berkembang: "Sayangnya, bagi banyak negara berkembang, kapasitas pemerintah untuk manajemen bencana masih sangat terbatas. Jadi, masyarakat dari negara-negara ini akan jauh lebih rentan terhadap risiko yang lebih luas dan mendalam yang ditimbulkan oleh kontaminasi nuklir, termasuk dari ledakan nuklir."
12. Jumlah korban jiwa diprediksi sangat banyak

Meskipun dampak serangan nuklir terhadap masyarakat, politik, dan lingkungan tentu saja menakutkan untuk kita bayangkan, mungkin hilangnya nyawa yang sangat besar itulah yang benar-benar meninggalkan bekas trauma pada kesadaran umat manusia. Baik sebagai akibat dari panas dan radiasi nuklir, bangunan yang runtuh dan puing-puing yang beterbangan, kekuatan ledakan awal yang dahsyat, atau risiko kesehatan jangka panjang yang terkait dengan paparan nuklir, jumlah korban jiwa sungguh mengerikan untuk kita bayangkan.
Menurut standar saat ini, bom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki tergolong kecil. Namun, jumlah korban jiwa masing-masing sangat signifikan. Pada tahun 1950, korban jiwa akibat pengeboman Hiroshima mencapai 200.000, sedangkan korban jiwa di Nagasaki mencapai 140.000, seperti dilaporkan ICRC. Meskipun banyak yang selamat dari ledakan, para penyintas menderita penyakit serius, di antaranya kanker payudara, kerongkongan, usus besar, dan paru-paru akibat paparan radiasi. Terus terang saja, hanya dibutuhkan satu ledakan nuklir untuk membunuh ratusan ribu orang dalam hitungan menit dan mungkin jutaan orang lagi dalam beberapa hari, minggu, dan tahun berikutnya.
Terlepas dari banyak kegunaan praktisnya di dunia modern, tenaga nuklir sering kali dipandang negatif. Apalagi jika nuklir ini berubah menjadi senjata penghancur massal. Tentunya kita semua tak mau skenario buruk seperti ini terjadi. Namun, ketegangan yang terjadi baru-baru ini antara Amerika-Israel dan Iran, memberikan kita pandangan yang mengkhawatirkan tentang masa depan.


















