Cek Fakta: Benarkah Iran Punya Program Senjata Nuklir?

- IAEA menegaskan tidak ada bukti Iran memiliki atau menjalankan program senjata nuklir, membantah klaim Amerika Serikat dan Israel yang menuduh Teheran mengembangkan senjata pemusnah massal.
- Iran diketahui memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, di atas kebutuhan sipil, namun belum terbukti digunakan untuk membuat bom; hal ini tetap menjadi perhatian internasional.
- Mantan Presiden AS Donald Trump menuding Iran sudah punya senjata nuklir dan menyalahkan Barack Obama atas kesepakatan JCPOA, meski laporan independen menunjukkan Iran masih mematuhi perjanjian tersebut.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Israel menyatakan serangan mereka ke Iran yang masih berlanjut hingga kini dikarenakan Iran tidak mau menyerah untuk membuat senjata nuklir.
Mereka mengaku terancam karena Iran dinilai punya senjata pemusnah massal yang membahayakan bagi kawasan, namun hal tersebut terus dibantah Iran. Teheran menyatakan tak ada senjata nuklir yang dimiliki negara tersebut.
Dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta kemarin, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan, bahkan AS dan Israel membunuh pemimpin tertinggi mereka Ayatollah Ali Khamenei yang mengeluarkan fatwa haram untuk senjata nuklir.
Lantas, apakah benar Iran memiliki senjata nuklir seperti klaim AS dan Israel? Cek faktanya di sini!
1. Laporan IAEA tak ada bukti kepemilikan senjata nuklir Iran

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi mengatakan, tidak ada bukti program senjata nuklir Iran.
“Para inspektur IAEA belum menemukan bukti program Iran yang terkoordinasi untuk membangun senjata nuklir,” kata Grossi, mematahkan klaim AS dan Israel.
Kepada NBC News, Selasa (3/3/2026), Grossi mengatakan, badan tersebut belum mengidentifikasi unsur-unsur program sistematis dan terstruktur untuk memproduksi senjata nuklir di Iran.
2. Kepemilikan uranium hingga kemurnian 60 persen dipertanyakan

Pada saat yang sama, ia menegaskan, Teheran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, tingkat yang jauh melampaui kebutuhan energi sipil. Grossi mengatakan pengayaan semacam itu adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh negara-negara dengan senjata nuklir.
Ia menekankan, para inspektur tidak dapat menyimpulkan bahwa , Iran bermaksud untuk membangun bom, tetapi mengatakan penimbunan tersebut menimbulkan pertanyaan serius.
“Pengayaan ini adalah sumber kekhawatiran yang kami miliki dan tidak ada tujuan yang jelas untuk mengakumulasi material pada tingkat tersebut,” katanya.
“Sentrifuganya berputar terus-menerus dan menghasilkan semakin banyak material itu,” ujar Grossi.
Ia menambahkan, secara teoritis ini akan cukup untuk menghasilkan lebih dari 10 hulu ledak nuklir.
“Tetapi apakah mereka memilikinya (senjata nuklir)? Tidak,” tegasnya.
3. Trump klaim Iran punya senjata nuklir dan salahkan Obama

Presiden AS Donald Trump mengklaim, tanpa bukti apa pun untuk mendukung pernyataannya, seandainya ia tidak membatalkan kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani oleh pendahulunya, Barack Obama, Teheran pasti sudah memiliki bom nuklir sekarang.
“Jika saya tidak mengakhiri Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) yang mengerikan dari Obama, Iran pasti sudah memiliki senjata nuklir tiga tahun lalu. Itu adalah transaksi paling berbahaya yang pernah kita lakukan, dan seandainya dibiarkan, dunia akan menjadi tempat yang sama sekali berbeda sekarang. Anda bisa menyalahkan Barack Hussein Obama, dan Joe Biden yang mengantuk,” tulisnya di platform Truth Social miliknya.
Sebagian besar analis dan inspektur independen pada saat itu menyimpulkan, Iran telah mematuhi JCPOA dan menjaga pengayaan uraniumnya di bawah batas, jauh dari tingkat yang dibutuhkan untuk membangun senjata nuklir.

















