Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Burung Menemukan Jalan Pulang?
ilustrasi kumpulan burung bermigrasi (pexels.com/dalia nava)
  • Burung bernavigasi dengan konsep peta dan kompas alami: mereka memperkirakan posisi terhadap tujuan lalu mempertahankan arah perjalanan.
  • Medan magnet Bumi, posisi Matahari dengan jam biologis, serta pola rotasi bintang membantu burung menentukan arah pada siang maupun malam hari.
  • Burung juga memakai aroma, penanda visual, ingatan rute, dan pengalaman; berbagai sistem ini digabungkan agar migrasi serta perjalanan pulang tetap akurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap tahun, miliaran burung melakukan perjalanan ribuan kilometer melintasi hutan, lautan, pegunungan, hingga kota-kota besar. Hebatnya, mereka mampu kembali ke lokasi yang sama untuk berkembang biak atau menghabiskan musim dingin. Bahkan, beberapa spesies seperti merpati pos dapat dilepaskan di tempat yang sama sekali asing dan tetap berhasil menemukan jalan pulang.

Lalu, bagaimana burung bisa mengetahui arah tanpa bantuan jalan, peta, atau GPS? Para ilmuwan menemukan bahwa burung mengandalkan kombinasi berbagai sistem navigasi alami, mulai dari medan magnet Bumi, posisi Matahari, bintang, penciuman, hingga tanda-tanda visual di lingkungan sekitar. Mari, kita bahas lebih dalam seputar kemampuan ini!

1. Burung memiliki peta dan kompas alami

Para peneliti menjelaskan kemampuan navigasi burung melalui konsep map-and-compass atau "peta dan kompas". Sederhananya, burung terlebih dahulu memperkirakan posisi mereka terhadap tujuan, layaknya seseorang melihat peta sebelum bepergian. Setelah itu, mereka menentukan arah dan mempertahankan jalur penerbangan menggunakan "kompas biologis".

Dengan kata lain, mengetahui ke mana arah pulang berbeda dengan mengetahui lokasi persis tempat tinggalnya. Burung harus memahami keduanya agar perjalanan migrasi berjalan dengan tepat.

Menariknya, peta yang dimiliki burung diduga berasal dari berbagai informasi lingkungan. Salah satunya adalah variasi medan magnet Bumi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Perbedaan tersebut membantu burung memperkirakan apakah mereka berada di sebelah utara, selatan, timur, atau barat dari tujuan. Meski demikian, hingga kini ilmuwan masih terus meneliti bagaimana burung membangun "peta magnetik" tersebut di dalam otaknya.

2. Medan magnet Bumi menjadi kompas rahasia

Salah satu kemampuan paling luar biasa yang dimiliki burung adalah magnetoresepsi, yaitu kemampuan mendeteksi medan magnet Bumi. Dalam sejumlah eksperimen terhadap burung robin Eropa, para peneliti mengubah medan magnet di sekitar burung. Hasilnya, arah yang dipilih burung untuk bermigrasi ikut berubah. Hal ini menunjukkan bahwa medan magnet memang berfungsi sebagai kompas alami. (The Auk, 2009)

Namun, kompas burung ternyata berbeda dengan kompas biasa. Jika kompas konvensional selalu menunjuk ke utara magnetik, burung justru diperkirakan membaca sudut kemiringan garis medan magnet yang masuk dan keluar dari permukaan Bumi. Sistem ini dikenal sebagai inclination compass.

Selain itu, diyakini bahwa unggas memiliki protein peka cahaya bernama cryptochrome di retina mata burung yang membantu mereka mendeteksi informasi magnetik. Walaupun begitu, mekanisme biologisnya masih menjadi bahan penelitian hingga sekarang.

3. Matahari membantu burung terbang pada siang hari

ilustrasi burung yang sedang bermigrasi (pexels.com/Soumadeep Das)

Saat bermigrasi di siang hari, banyak burung menggunakan posisi Matahari sebagai penunjuk arah. Karena Matahari tampak bergerak dari timur ke barat sepanjang hari, burung harus mengombinasikan posisinya dengan jam biologis yang dimiliki tubuh mereka. Jam internal ini membantu burung mengetahui apakah Matahari sedang terbit, berada di atas kepala, atau mulai terbenam sehingga arah penerbangan tetap akurat. Tanpa jam biologis tersebut, posisi Matahari justru bisa membuat burung salah menentukan arah.

4. Bintang menjadi penunjuk arah pada malam hari

Tidak semua burung bermigrasi pada siang hari. Banyak spesies justru terbang saat malam untuk menghindari suhu panas dan predator. Penelitian terhadap burung indigo bunting menunjukkan bahwa burung muda belajar mengenali arah berdasarkan pola rotasi langit malam, bukan hanya mengandalkan satu bintang tertentu seperti Bintang Utara. (The Auk, 2009)

Mereka mengenali susunan bintang yang mengelilingi kutub langit sebagai acuan tetap untuk menentukan arah utara maupun selatan. Dengan cara ini, burung tetap dapat bernavigasi meski posisi bintang-bintang berubah sepanjang malam.

5. Mengandalkan aroma dan penanda alam

Selain mengandalkan langit dan medan magnet, burung juga menggunakan indra penciuman. Penelitian pada merpati pos menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali pola aroma khas yang terbawa angin dari berbagai wilayah. Aroma tersebut menjadi salah satu petunjuk lokasi yang membantu mereka menyusun "peta" perjalanan. (Journal of Ornithology, 2015)

Ketika mendekati daerah yang sudah dikenal, burung mulai lebih mengandalkan penanda visual, seperti:

  • Sungai

  • Garis pantai

  • Pegunungan

  • Hutan

  • Danau

  • Bangunan atau jalan buatan manusia

Burung yang sudah berpengalaman biasanya mengingat ciri-ciri lingkungan tersebut. Bahkan, pada beberapa spesies, burung muda mempelajari rute migrasi dengan mengikuti burung yang lebih tua.

6. Burung menggabungkan banyak sistem navigasi sekaligus

ilustrasi burung bermigrasi (unsplash.com/Adrien)

Burung tidak hanya mengandalkan satu cara untuk menemukan jalan pulang. Mereka akan menggabungkan berbagai sumber informasi sekaligus agar perjalanan tetap aman.

Misalnya, ketika awan menutupi Matahari, burung dapat mengandalkan medan magnet Bumi. Saat cuaca buruk mengganggu orientasi magnetik, mereka bisa memanfaatkan tanda-tanda visual atau ingatan terhadap rute yang pernah dilewati.

Sebagian kemampuan navigasi memang diwariskan secara genetik sebagai naluri migrasi. Namun, detail rute perjalanan serta pengenalan lingkungan berkembang seiring pengalaman burung selama bertahun-tahun. Fleksibilitas inilah yang membuat burung mampu melakukan perjalanan luar biasa dengan tingkat ketepatan yang mengagumkan.

Meski masih menyimpan banyak misteri, kemampuan burung menemukan jalan pulang menunjukkan betapa luar biasanya sistem navigasi alami yang telah berevolusi selama jutaan tahun. 

Referensi

All About Birds. Diakses pada Agustus 2026. Navigation: How Birds Find Their Way When They Migrate
Kishkinev, D. (2015). Sensory mechanisms of long-distance navigation in birds: A recent advance in the context of previous studies. Journal of Ornithology, 156(Suppl. 1), S145–S161. https://doi.org/10.1007/s10336-015-1215-4
Science News Today. Diakses pada Agustus 2026. How Birds Navigate Thousands of Miles Without Maps
Smithsonian Magazine. Diakses pada Agustus 2026. How Do Birds Find Their Way Home? 
The Nature Network. Diakses pada Agustus 2026. How Do Migrating Birds Know Where to Go?
Tower Academic. Diakses pada Agustus 2026. The Science of Bird Migration: Navigation, Patterns, and Conservation
Wiltschko, R., & Wiltschko, W. (2009). Avian navigation. The Auk, 126(4), 717–743. https://doi.org/10.1525/auk.2009.11009

Curated For You

Editorial Team

Related Article