Ilustrasi dinosaurus (pexels.com/Antonio Mistretta)
Ilmuwan juga melihat bentuk gigi dalam skala yang lebih besar. Salah satu pendekatannya disebut dental mesowear, yaitu pengamatan terhadap tingkat ketumpulan atau ketajaman tonjolan pada gigi.
Gigi yang sangat aus dan tumpul dapat memberikan petunjuk bahwa hewan sering mengonsumsi makanan yang mengandung material abrasif, seperti rumput. Sebaliknya, bentuk dan tingkat keausan tertentu dapat lebih sesuai dengan pola makan yang didominasi makanan yang lebih lunak, seperti daun.
Tidak hanya gigi, bentuk rahang, tengkorak, serta lokasi melekatnya otot juga diperhatikan. Struktur tersebut dapat menunjukkan seberapa kuat rahang bekerja dan jenis gerakan yang mampu dilakukan ketika mengunyah. Meski begitu, anatomi saja tidak selalu memberikan jawaban yang tepat.
Salah satu contoh menarik adalah Paranthropus boisei, kerabat manusia purba yang memiliki gigi geraham sangat besar dan datar serta rahang yang kuat. Pada awalnya, karakteristik tersebut membuat ilmuwan menduga bahwa spesies ini terbiasa mengonsumsi makanan keras.
Namun, ketika peneliti menggabungkan informasi dari keausan mikroskopis gigi dan analisis isotop, gambaran yang muncul menjadi lebih kompleks. Data tersebut justru menunjukkan bahwa P. boisei kemungkinan lebih sering mengonsumsi tumbuhan yang lunak, tetapi alot daripada makanan keras seperti yang sebelumnya diperkirakan. Contoh ini menunjukkan mengapa ilmuwan tidak bisa hanya mengandalkan bentuk gigi ketika mencoba mengetahui makanan hewan purba. (American Journal of Physical Anthropology, 2012)