Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berapa Lama Abu Vulkanik Bisa Bertahan di Udara? Ini Fakta Sainsnya!

Berapa Lama Abu Vulkanik Bisa Bertahan di Udara? Ini Fakta Sainsnya!
gambar letusan Gunung Sinabung di Indonesia (unsplash.com/Yosh Ginsu)
  • Abu vulkanik tersusun dari partikel batuan, mineral, dan kaca berukuran kecil namun keras serta bergerigi, yang dapat mengiritasi tubuh, mengganggu mesin jet, dan menumpuk sebagai hujan abu.
  • Saat erupsi besar, abu dapat terlontar hingga 50 kilometer, masuk troposfer maupun stratosfer, lalu terbawa angin ribuan kilometer; letusan di khatulistiwa berpotensi menyebarkannya secara global.
  • Abu di stratosfer dapat bertahan beberapa hari hingga minggu. Gas vulkanik juga dapat membentuk aerosol sulfat yang memantulkan radiasi Matahari dan mendinginkan atmosfer bawah Bumi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Salah satu dampak terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau adalah semburan abu vulkanik. Berbeda dengan dampak lainnya, abu vulkanik hasil erupsi gunung berapi kerap kali dianggap sepele. Gak sedikit orang berpikir, abu vulkanik akan menghilang dengan sendirinya. Namun faktanya tidak sesederhana itu.

Berbeda dengan abu dari hasil pembakaran, abu vulkanik terdiri dari partikel yang sangat kecil sehingga mata manusia akan sulit untuk melihatnya. Hanya karena ukurannya kecil, bukan berarti abu vulkanik bisa hilang begitu saja. Sebaliknya, bahkan setelah erupsi berhenti, abu vulkanik tetap melayang di atmosfer dan menyebar ke mana-mana. Lantas berapa lama abu vulkanik bisa bertahan di udara?

  1. 1. Abu vulkanik terdiri dari campuran berbagai partikel

    Erupsi gunung berapi di malam hari
    gambar e upsi gunung berapi di malam hari (unsplash.com/Charlie Orellana)

    Sekilas abu vulkanik memang gak ada bedanya dengan abu hasil pembakaran lainnya. Dilansir National Geographic, abu vulkanik terdiri dari campuran partikel batuan, mineral, dan kaca yang dikeluarkan oleh gunung berapi selama letusan. Partikel tersebut memiliki ukuran beragam, tetapi umumnya memiliki diameter kurang dari dua milimeter. Partikel abu vulkanik yang terbesar memiliki ukuran antara 10-100 mikrometer, sedangkan partikel terkecil memiliki ukuran kurang dari 4 mikrometer.

    Meski berukuran sangat kecil, partikel abu vulkanik sangat keras dan biasanya memiliki tepian bergerigi yang dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, bahkan paru-paru. Di udara, abu vulkanik dapat menyebabkan masalah pada mesin jet, hingga membuat sejumlah penerbangan dibatalkan. Sedangkan saat jatuh ke tanah sebagai hujan abu, partikel-partikel ini dapat membentuk lapisan tebal yang dapat mengotori rumah bahkan meruntuhkan atap.

  2. 2. Seberapa jauh abu vulkanik dapat menyebar?

    Erupsi Gunung Karthala dari pantauan satelit
    gambar erupsi Gunung Karthala dari pantauan satelit (nasa.gov/Jeff Schmaltz, MODIS Rapid Response Team, Goddard Space Flight Center)

    Seperti yang kita ketahui, ketika meletus, gunung berapi akan melontarkan berbagai material ke segala arah. Dilansir ESKP, pada letusan gunung yang sangat dahsyat, sejumlah besar abu, gas, dan batuan bahkan dapat terlontar dengan kecepatan hingga 300 km/jam ke atmosfer. Partikel yang lebih besar umumnya akan turun kembali sebagai hujan. Namun berbeda dengan batuan, abu vulkanik memiliki ukuran yang sangat kecil dan kepadatan yang rendah.

    Alhasil ketika dikeluarkan dari gunung berapi, abu vulkanik dapat terlontar hingga ketinggian 50 kilometer bahkan mencapai lapisan atmosfer terendah seperti troposfer dan stratosfer. Gak berhenti di sana, partikel abu yang berada di troposfer akan terbawa angin dan menyebar hingga ribuan kilometer dari lokasi letusan. Jika letusan gunung berapi terjadi di khatulistiwa, partikel-partikel abu tersebut bahkan bisa tersebar ke seluruh dunia.

  3. 3. Berapa lama abu vulkanik bisa bertahan di udara?

    Sebaran sulfur dioksida dari letusan gunung berapi
    gambar sebaran sulfur dioksida dari letusan gunung berapi (nasa.gov)

    Berbeda dengan abu yang berada di troposfer, abu vulkanik yang mencapai stratosfer akan bertahan di sana dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, dan memberikan sedikit dampak pada perubahan iklim. Namun bahkan setelah gas vulkanik menghilang dari atmosfer, bukan berarti dampak letusan gunung berapi berakhir. Dilansir USGS, sementara abu vulkanik menyebar dan akhirnya jatuh kembali ke permukaan, gas-gas vulkanik bereaksi di atmosfer dengan berbagai cara, salah satunya konversi sulfur dioksida (SO2) menjadi asam sulfat, dan mengembun di stratosfer sebagai aerosol sulfat.

    Aerosol ini meningkatkan pantulan radiasi dari matahari kembali ke luar angkasa, dan mendinginkan lapisan atmosfer bawah Bumi. Hal ini juga lah yang terjadi ketika Gunung Krakatau meletus hebat pada tahun 1883 lalu. Letusan itu melepaskan sulfur dioksida ke udara, dan menjadi penyebab menurunnya suhu rata-rata Bumi sebanyak 0,6 derajat Celsius selama beberapa bulan setelahnya. 

    Abu vulkanik memang hanya partikel kecil. Namun justru partikel terkecil inilah yang memberikan dampak cukup besar setelah letusan terjadi. Bukan hanya berdampak pada area sekitar letusan, tetapi juga wilayah lain yang berjarak ribuan kilometer dari lokasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More