Bagaimana Gunung Api Bisa Tumbuh? Ternyata Ini Prosesnya

- Magma dapat membuat gunung api bertambah besar dari bawah permukaan maupun lewat material yang menumpuk di luar.
- Intrusi terjadi saat magma mengkristal di dalam gunung, sedangkan ekstrusi menambah lava, abu, dan piroklastika di permukaan.
- Anak Krakatau tumbuh dari 199 meter pada 1992 menjadi 338 meter pada 2018, dengan intrusi disebut lebih dominan.
Gunung api bukanlah struktur yang ukurannya selalu tetap setelah terbentuk. Aktivitas magma yang berlangsung dari waktu ke waktu dapat membuat tubuh gunung terus bertambah besar, baik melalui material yang menumpuk di permukaan maupun magma yang bergerak dan membeku di bagian dalam gunung.
Proses pertumbuhan tersebut bisa diamati pada Gunung Anak Krakatau. Gunung api ini muncul setelah letusan besar Krakatau pada 1883 dan terus mengalami pertumbuhan. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menunjukkan tinggi Anak Krakatau dari permukaan laut pada 1992 mencapai 199 meter dan pada 2018 telah mencapai 338 meter. Artinya pertumbuhan gunung api tersebut ada sekitar 4,25 meter per tahun.
Secara umum, gunung api dapat tumbuh melalui dua mekanisme utama, yaitu intrusi dan ekstrusi. Keduanya sama-sama melibatkan magma, tetapi bekerja dengan cara berbeda karena intrusi berlangsung di dalam tubuh gunung, sedangkan ekstrusi menambahkan material baru pada bagian luarnya.
Gunung api bisa tumbuh dari dalam dan luar

ilustrasi gunung api pada level I (normal) (pexels.com/Ruyat Supriazi) Pertumbuhan gunung api tidak selalu membutuhkan letusan. Menurut Indonesia Baik, ada dua proses yang membuat gunung api bertambah besar, yakni ekstrusi yang menumpuk material di bagian luar gunung dan intrusi yang berlangsung ketika material terakumulasi di bawah permukaan.
Oregon State University melalui Volcano World juga menjelaskan mekanisme serupa. Intrusi terjadi ketika magma bergerak naik ke dalam gunung api tetapi tidak sampai mengalami erupsi, sementara ekstrusi terjadi ketika material dikeluarkan melalui erupsi dan menambah bagian luar tubuh gunung.
Perbedaan tersebut membuat pertumbuhan gunung api tidak selalu mudah diamati hanya dari aktivitas di permukaan. Gunung yang tidak sedang mengeluarkan lava tetap dapat mengalami perubahan dari dalam ketika magma bergerak naik dan terakumulasi di bawah permukaan.
Intrusi membuat gunung membesar tanpa harus meletus

ilustrasi gunung api pada level II (waspada) (pexels.com/Daniel Hindarto) Pada pertumbuhan intrusif, magma dari dalam bumi bergerak naik tetapi tidak berhasil mencapai permukaan. Magma kemudian menumpuk dan mengkristal di bawah permukaan gunung, membentuk batuan beku yang secara perlahan mendorong tubuh gunung dari dalam.
Proses tersebut dapat membuat bagian gunung terdorong ke atas sekaligus melebar meski tidak ada lava yang keluar. Indonesia Baik menggambarkannya sebagai pertumbuhan dari dalam, sementara Volcano World mengibaratkan proses ini seperti balon yang membesar karena perubahan terjadi pada bagian internalnya.
Ekstrusi menambah tubuh gunung melalui material erupsi

ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Diego Giron) Berbeda dari intrusi, pertumbuhan ekstrusif berlangsung di permukaan dan berkaitan langsung dengan erupsi. Magma yang berhasil keluar menjadi lava, sementara material seperti abu vulkanik dan piroklastika juga dapat dikeluarkan dan kemudian terakumulasi pada tubuh gunung.
Lava yang keluar dari kantong magma akan membeku setelah berada di permukaan. Material tersebut kemudian dapat tertimbun oleh material dari erupsi berikutnya, sehingga lapisan demi lapisan baru secara bertahap menambah ukuran tubuh gunung.
Oregon State University menjelaskan bahwa lava dan abu merupakan dua material utama yang membangun gunung api melalui proses tersebut. Proporsinya dapat berbeda pada setiap jenis gunung api, sehingga komposisi material yang dikeluarkan juga berpengaruh terhadap bentuk gunung yang akhirnya terbentuk.
Komposisi lava dan abu ikut menentukan bentuk gunung
Gunung api tidak selalu memiliki bentuk kerucut tinggi dengan lereng yang curam. Volcano World menjelaskan gunung api perisai seperti yang terdapat di Hawaii dan Galapagos dapat tersusun lebih dari 95 persen lava dan sekitar 5 persen abu dalam bentuk cinder. Lava basaltik pada gunung jenis ini sangat cair sehingga sulit menumpuk menjadi struktur yang curam, membuat lerengnya cenderung lebih landai.
Kondisinya berbeda pada stratovolcano atau gunung api komposit. Jenis ini dapat memiliki proporsi lava dan abu yang lebih berimbang, bahkan menurut Volcano World bisa mencapai sekitar 50 persen lava dan 50 persen abu. Abu yang lepas dapat menumpuk hingga membentuk kemiringan sekitar 30 derajat.
Lava pada stratovolcano juga lebih kental dibandingkan lava basaltik pada gunung api perisai sehingga tidak mengalir sejauh lava yang lebih cair. Kombinasi antara lava yang lebih kental dan tumpukan abu tersebut membuat stratovolcano memiliki bentuk yang lebih curam dibandingkan gunung api perisai.
Anak Krakatau menjadi contoh gunung api yang terus bertumbuh

Potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Tyke) Anak Krakatau menjadi contoh bagaimana kedua mekanisme tersebut dapat bekerja pada satu gunung api. Material yang keluar dari dalam gunung dapat membeku dan tertimbun sehingga menambah tubuhnya dari luar, sementara magma yang tidak mencapai permukaan dapat mengkristal di bawah tanah dan mendorong gunung dari dalam.
Pada kasus Anak Krakatau, pertumbuhan intrusif disebut jauh lebih dominan dibandingkan ekstrusif. Angka 93 persen untuk intrusi dan 7 persen untuk ekstrusi menunjukkan bahwa pertumbuhan gunung api tidak bisa dinilai hanya berdasarkan seberapa banyak lava atau material yang terlihat keluar ketika terjadi erupsi.
Proses tersebut pada akhirnya menjelaskan mengapa sebuah gunung api dapat terus berubah ukurannya dari waktu ke waktu. Erupsi memang dapat menambahkan lapisan lava dan abu di permukaan, tetapi aktivitas magma yang berlangsung tersembunyi di bawah gunung juga memiliki peran penting dalam membangun dan membesarkan tubuh gunung api.




















