Kebakaran hutan menjadi masalah yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir di seluruh dunia. Terlebih lagi, banyak negara melaporkan suhu tertinggi dalam beberapa dekade terakhir yang dipengaruhi dan berpengaruh terhadap fenomena ini. Contohnya saja gelombang panas yang terjadi di Eropa pada Juli 2026 lalu. Nah, tahun ini, kebakaran hutan melanda beberapa negara bagian AS, negara-negara Eropa, dan Asia, termasuk Indonesia, tepatnya di Kalimantan.
Dikutip Mongabay Indonesia, sebenarnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terjadi sejak Januari 2026. Namun, api semakin meluas seiring masuknya musim kemarau pada Agustus 2026 ini. Terlihat bagaimana kepulan asap menghalangi jarak pandang dan membuat kualitas udara memburuk. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, jarak pandang bahkan hanya 2—10 meter. Hal ini pun memicu kecelakaan lalu lintas. Tak hanya itu, banyak masyarakat yang juga terkena dampaknya, seperti menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Nah, karena kebakaran ini terus meluas dan sulit dikendalikan, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kebakaran dimulai agar bisa mencegah terjadinya lebih banyak kebakaran. Seperti halnya kebakaran lainnya, kebakaran hutan bisa terjadi karena tiga hal: bahan bakar, panas, dan oksigen. Kondisi ini disebut sebagai "segitiga api", seperti yang dijelaskan NC State University's College of Natural Resources.
Nah, karena betapa keringnya beberapa lokasi selama musim panas atau kemarau, banyak pohon, semak, rumput, daun kering, dan lainnya menjadi sangat mudah terbakar. Inilah yang akhirnya menjadi bahan bakar yang sempurna untuk menciptakan kebakaran. Gabungkan itu dengan oksigen dari udara dan panasnya musim kemarau, dan hanya dibutuhkan percikan kecil untuk memicu kebakaran. Bagaimana, ya, penjelasan lengkapnya?
