Kenapa Kebakaran Hutan Bisa Menyala Lagi setelah Dipadamkan?

- Kobaran yang hilang tidak selalu menandakan kebakaran selesai, karena panas dan bara dapat tersimpan dalam material terbakar; tandanya bisa berupa asap, abu putih, uap, atau gelombang panas.
- Pada lahan gambut kering, pembakaran membara dapat berlangsung di bawah permukaan tanpa nyala jelas selama berhari-hari, bahkan saat hujan, sehingga berpotensi memicu penyalaan kembali.
- Pemadaman membutuhkan pendinginan dan pemeriksaan titik panas secara menyeluruh; air di permukaan belum tentu menjangkau inti gambut, sehingga petugas melakukan pembasahan, patroli, dan verifikasi lapangan.
Ada satu hal yang mudah membuat kita keliru saat melihat kebakaran hutan, mengira api yang sudah tak terlihat berarti kebakaran sudah benar-benar selesai. Namun, petugas belum tentu langsung meninggalkan lokasi. Mengapa? Sebab, bagian yang paling berbahaya justru tidak selalu tampak dari permukaan.
Panas dan bara dapat bertahan di dalam material yang terbakar. Pada lahan gambut, pembakaran membara bahkan dapat berlangsung di bawah permukaan tanpa menghasilkan kobaran api yang jelas. Kondisi seperti ini dapat memicu pembakaran kembali ketika situasi memungkinkan.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi setelah api terlihat padam? Kenapa kebakaran hutan bisa terjadi lagi setelah api dipadamkan? Begini penjelasannya!
1. Api yang terlihat padam belum tentu benar-benar mati

ilustrasi penanganan kebakaran hutan (unsplash.com/Troy Olson) Tidak terlihatnya kobaran api belum berarti seluruh sumber panas sudah hilang. Material yang terbakar masih dapat menyimpan panas atau bara yang tidak tampak dari permukaan.
Tanda-tandanya pun tidak selalu berupa api. USDA Forest Service menyebut bau asap, abu putih, uap, gelombang panas, suara derak bara, hingga desisan uap sebagai beberapa petunjuk bahwa panas masih tersisa di area bekas kebakaran.
2. Ada pembakaran yang tidak menghasilkan kobaran api

ilustrasi penanganan kebakaran hutan (unsplash.com/Emma Renly) Selama ini kita mungkin lebih mudah membayangkan kebakaran sebagai nyala api yang terang dan bergerak cepat. Padahal, proses pembakaran tidak selalu menghasilkan kobaran seperti itu.
Salah satunya adalah smoldering combustion, atau pembakaran membara. Prosesnya berlangsung lebih lambat dan tidak menghasilkan nyala api yang jelas, tetapi tetap menghasilkan panas.
Penelitian gambut di Sumatra melalui International Journal of Wildland Fire menunjukkan bahwa smoldering merupakan karakteristik penting dari kebakaran gambut. Eksperimen lapangan yang dilakukan mengamati pembakaran membara selama 4–10 hari, termasuk ketika terjadi hujan selama periode eksperimen.
Kedalaman gambut yang terbakar dalam eksperimen tersebut rata-rata sekitar 25 cm. Proses seperti inilah yang membuat kebakaran tidak selalu mudah dikenali hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
3. Pada lahan gambut, bara bisa bertahan di bawah permukaan

ilustrasi penanganan kebakaran hutan (unsplash.com/Emma Renly) Gambut memiliki banyak kandungan bahan organik. Ketika kondisinya cukup kering, material tersebut dapat menjadi bahan bakar.
Ditjen Penegakan Hukum Kehutanan menjelaskan bahwa bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun nyala api sudah padam. Kondisi ini membuat proses pembakaran pada gambut tidak selalu mudah dipantau dari permukaan.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pematang Pudu, Bengkalis, memberikan gambaran tentang sulitnya memastikan kebakaran benar-benar selesai. Kementerian Kehutanan melaporkan tim gabungan membutuhkan sekitar seminggu untuk menuntaskan kebakaran di lokasi tersebut.
4. Kenapa api bisa menyala lagi meski sudah disiram air?

ilustrasi penanganan kebakaran hutan (unsplash.com/Slava Taukachou) Pertanyaan ini cukup masuk akal. Kalau sumber panas masih ada, bukankah tinggal disiram air sampai padam? Air memang dapat digunakan untuk memadamkan sekaligus mendinginkan material yang terbakar. Persoalannya, air yang mengenai permukaan belum tentu langsung menghilangkan panas yang tersimpan lebih dalam.
Mahasiswa Universitas Indonesia menguji pengaruh penyemprotan air terhadap pembakaran membara gambut dari Papua dan Sumatra Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemadaman dalam waktu singkat tidak selalu berhasil menghentikan kebakaran gambut. Peneliti juga menemukan fenomena reignition atau penyalaan kembali ketika panas masih tersimpan di bagian inti gambut.
Eksperimen tersebut membandingkan beberapa kondisi penyemprotan air, termasuk pemadaman selama 15 menit dan pemadaman hingga api benar-benar berhenti yang dilakukan sekitar 2 jam. Penelitian itu memperkirakan kebutuhan air untuk pemadaman penuh pada sampel yang diuji sekitar 6 liter per kilogram gambut.
Angka tersebut tidak bisa dianggap sebagai kebutuhan air untuk setiap kebakaran gambut. Kondisi di lapangan tentu jauh lebih kompleks daripada eksperimen pada sampel penelitian.
5. Bagaimana petugas memastikan kebakaran benar-benar padam?

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/RDNE Stock project) Pekerjaan petugas belum selesai ketika kobaran api berhasil dikendalikan. Masih ada bagian yang perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada panas atau bara yang dapat memicu kebakaran kembali.
Salah satu upayanya adalah cooling atau pendinginan, yaitu menurunkan suhu material yang masih panas. Air dapat digunakan untuk membantu proses tersebut. Petugas juga melakukan mopping up, yakni memeriksa dan menangani titik panas, bara, atau bagian lain yang masih berpotensi terbakar. Kedua proses ini dapat dilakukan bersamaan sesuai kondisi di lapangan.
Penanganan karhutla di Kalimantan juga menunjukkan bahwa pekerjaan tidak berhenti ketika kobaran api berhasil dikendalikan. Dilansir Kementerian Kehutanan, petugas melakukan pembasahan, pendinginan, patroli, pemeriksaan lapangan, dan penjagaan area dalam operasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Operasi tersebut diperkuat pada pertengahan Agustus 2026 setelah terjadi peningkatan hotspot atau titik panas.
Namun, Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa hotspot yang terdeteksi satelit tidak otomatis berarti terjadi kebakaran. Titik tersebut tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Kobaran api memang bagian yang paling mudah terlihat dari sebuah kebakaran. Ketika nyala itu hilang, kita cenderung menganggap semuanya sudah selesai.
Padahal, pada lahan gambut, pembakaran membara dapat bertahan di bawah permukaan selama berhari-hari. Panas yang tersisa masih bisa memicu kebakaran kembali ketika kondisi memungkinkan. Api yang padam dari pandangan belum tentu padam sepenuhnya.





















