Bagaimana Kebakaran Hutan Bisa Terjadi? Ini Kata Ahli!

- Karhutla di Kalimantan yang berlangsung sejak Januari 2026 meluas saat kemarau Agustus, memperburuk kualitas udara, memangkas jarak pandang di Banjarbaru hingga 2–10 meter, serta memicu kecelakaan dan ISPA.
- Kebakaran muncul ketika bahan bakar kering, panas, dan oksigen bertemu; hampir 85 persen dipicu aktivitas manusia. Penyebarannya dipercepat banyaknya vegetasi, cuaca kering, dan topografi lereng.
- PBB menyebut perubahan iklim menciptakan kondisi lebih panas dan kering yang memperbesar risiko kebakaran. UNEP mendorong 66 persen pendanaan dialokasikan untuk perencanaan, pencegahan, kesiapsiagaan, dan pemulihan.
Kebakaran hutan menjadi masalah yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir di seluruh dunia. Terlebih lagi, banyak negara melaporkan suhu tertinggi dalam beberapa dekade terakhir yang dipengaruhi dan berpengaruh terhadap fenomena ini. Contohnya saja gelombang panas yang terjadi di Eropa pada Juli 2026 lalu. Nah, tahun ini, kebakaran hutan melanda beberapa negara bagian AS, negara-negara Eropa, dan Asia, termasuk Indonesia, tepatnya di Kalimantan.
Dikutip Mongabay Indonesia, sebenarnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terjadi sejak Januari 2026. Namun, api semakin meluas seiring masuknya musim kemarau pada Agustus 2026 ini. Terlihat bagaimana kepulan asap menghalangi jarak pandang dan membuat kualitas udara memburuk. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, jarak pandang bahkan hanya 2—10 meter. Hal ini pun memicu kecelakaan lalu lintas. Tak hanya itu, banyak masyarakat yang juga terkena dampaknya, seperti menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Nah, karena kebakaran ini terus meluas dan sulit dikendalikan, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kebakaran dimulai agar bisa mencegah terjadinya lebih banyak kebakaran. Seperti halnya kebakaran lainnya, kebakaran hutan bisa terjadi karena tiga hal: bahan bakar, panas, dan oksigen. Kondisi ini disebut sebagai "segitiga api", seperti yang dijelaskan NC State University's College of Natural Resources.
Nah, karena betapa keringnya beberapa lokasi selama musim panas atau kemarau, banyak pohon, semak, rumput, daun kering, dan lainnya menjadi sangat mudah terbakar. Inilah yang akhirnya menjadi bahan bakar yang sempurna untuk menciptakan kebakaran. Gabungkan itu dengan oksigen dari udara dan panasnya musim kemarau, dan hanya dibutuhkan percikan kecil untuk memicu kebakaran. Bagaimana, ya, penjelasan lengkapnya?
1. Kebakaran hutan bisa terjadi secara alami atau disebabkan oleh manusia

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Dirk Erasmus) Kebakaran hutan bisa dipicu oleh penyebab alami maupun manusia. Nah, penyebab alami kebakaran hutan yang paling umum adalah akibat sambaran petir, tetapi gunung berapi dan meteor juga terkadang bisa menyebabkan kebakaran hutan. Meskipun penyebabnya ada yang dari alam, tapi sebagian besar kebakaran hutan tidak disebabkan oleh alam itu sendiri. Yap, benar banget, National Park Service melaporkan bahwa hampir 85 persen kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia, lho.
Ada banyak aktivitas manusia yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Idaho Firewise menyatakan bahwa 1 dari 5 kebakaran hutan disebabkan oleh pembakaran sampah dan puing-puing. Kontributor utama lainnya adalah api unggun yang dibiarkan tanpa pengawasan dan sembrono.
Aktivitas lain yang bisa memicu kebakaran hutan termasuk membuang puntung rokok sembarangan, penggunaan peralatan yang menimbulkan percikan api, dan pembakaran yang disengaja, seperti membakar sampah atau pembukaan lahan. Bahkan aktivitas yang tampaknya tidak berbahaya dan menyenangkan seperti menyalakan kembang api ternyata bisa memicu kebakaran hutan.
Menurut analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), ditemukan 25.524 hotspot (titik panas) atau sekitar 74 persen dari total hotspot di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan. Sebanyak 10.739 hotspot berada di dalam HGU perkebunan kelapa sawit, 7.880 hotspot berada di konsesi pertambangan, dan 6.905 hotspot berada di konsesi PBPH. Itu berarti, pemerintah punya peran penting untuk masalah tersebut.
Seperti yang dikatakan Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional, Uli Arta Siagian, "Data kami menunjukkan bahwa 74 persen hotspot di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan. Lagi-lagi data ini membuktikan bahwa akar persoalan karhutla adalah gagalnya negara memastikan perlindungan ekosistem penting seperti gambut dan hutan dan lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan penjahat lingkungan."
2. Kebakaran hutan bisa menyebar dengan cepat karena beberapa faktor

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Karsten Winegeart) Kerusakan akibat kebakaran hutan merupakan masalah utama, begitu pula kecepatan penyebarannya. Kebakaran hutan yang tidak terkendali bisa dengan cepat menghancurkan ribuan hektar lahan hanya dalam hitungan menit. Sama seperti adanya segitiga api untuk menggambarkan bagaimana kebakaran dimulai, terdapat pula "segitiga perilaku api" yang menentukan seberapa cepat penyebarannya. Faktor-faktor yang membentuk segitiga perilaku api meliputi bahan bakar, cuaca, dan topografi, seperti yang dijelaskan National Park Service.
Jadi, semakin banyak "bahan bakar", semakin cepat api menyebar. Di hutan yang dipenuhi pohon dan tumbuhan lain, kebakaran hutan bisa meluas dengan sangat cepat. Kondisi cuaca, seperti kekeringan, dapat mempercepat proses ini, membuat tumbuhan di daerah tersebut kering dan sangat mudah terbakar. Terakhir, topografi dapat memengaruhi seberapa cepat kebakaran hutan menyebar. Menurut Rob Gazzard, penasihat teknis Komisi Kehutanan di Inggris, menjelaskan bahwa jika lereng punya kemiringan 10 persen, maka api akan menyebar dengan lebih cepat lagi. Jadi jika api menjalar ke atas gunung, api akan menyebar sangat cepat, seperti yang dilansir BBC News.
3. PBB menyatakan bahwa kebakaran hutan diperparah oleh perubahan iklim

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Marcus Kauffman) Seiring dengan terus meningkatnya jumlah kebakaran hutan setiap tahunnya, pemerintah dunia dan badan-badan perlindungan lingkungan sangat membutuhkan solusi. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa perubahan iklim berkontribusi pada krisis kebakaran hutan global yang akan terus memburuk selama beberapa dekade mendatang.
Dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut, sebuah tim yang terdiri lebih dari 50 peneliti menyimpulkan bahwa risiko kebakaran hutan yang dahsyat di seluruh dunia bisa meningkat hingga 57 persen sebelum akhir abad ini. Laporan tersebut menyatakan bahwa perubahan iklim kemungkinan besar merupakan penyebab utamanya. Kebakaran hutan terjadi karena perubahan iklim berkontribusi pada cuaca yang lebih panas dan kering di banyak bagian dunia, termasuk kekeringan parah di beberapa tempat, termasuk Indonesia. Kondisi kering dan panas ini sangat ideal untuk terjadinya kebakaran, sehingga api mudah menyebar.
4. Program Lingkungan PBB membuat Formula Kesiapsiagaan Kebakaran

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/fabian jones) Pada 2022, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menciptakan Formula Kesiapsiagaan Kebakaran baru yang digunakan negara-negara sebagai referensi untuk mengalokasikan sumber daya guna mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan. Rumus ini bertujuan untuk mengurangi jumlah dan tingkat keparahan kebakaran dengan memastikan tidak ada sumber daya yang terbuang selama keadaan darurat kebakaran hutan.
Formula Kesiapsiagaan Kebakaran menyatakan bahwa 66 persen pendanaan untuk pengendalian kebakaran hutan harus digunakan untuk perencanaan, pencegahan, kesiapsiagaan, dan pemulihan, sementara 34 persen sisanya digunakan untuk penanggulangan, sebagaimana yang dilansir Down to Earth. Nah, dengan mengalokasikan sebagian besar sumber daya untuk mencegah dan bersiap menghadapi kebakaran, lebih sedikit sumber daya yang harus dihabiskan untuk memadamkannya. Laporan UNEP menguraikan tindakan spesifik yang direkomendasikan untuk dilakukan di daerah yang berisiko kebakaran hutan, termasuk membuat rencana evakuasi, pelatihan, dan strategi untuk mengurangi bahaya.
5. Bagaimana cara mencegah kebakaran hutan?

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Caleb Cook) Selain upaya lembaga perlindungan lingkungan, ada hal-hal yang bisa dilakukan individu untuk mengurangi jumlah kebakaran hutan. Jika kamu berencana menyalakan api saat berkemah, sebaiknya buat api unggun di area terbuka, dan segera padamkan api dengan air hingga dingin. Di sisi lain, jangan buang puntung rokok sembarang. Di Indonesia sendiri, salah satu penyebab kebakaran hutan adalah kebiasaan warga yang selalu membakar sampah atau dedaunan kering. Sebaiknya hindari hal ini di musim kemarau.
Pasalnya, para ahli sepakat bahwa 85—90 persen kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia, tulis National Interagency Fire Center. Namun, di sisi lain, hal ini bukanlah kesalahan individu saja. Sebab, hektar demi hektar hutan hujan di Indonesia memang sengaja dibakar oleh perusahaan untuk membuka lahan. Yap, lahan ini akan digantikan dengan kelapa sawit, pohon akasia untuk pembuatan kertas, dan pohon karet. Apalagi, upaya termurah untuk membuka lahan adalah dengan cara membakarnya, sebagaimana yang dijelaskan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Itu berarti, penguasa harus menegakkan hukum dengan mengevaluasi masalah perizinan pembukaan lahan, terutama yang berada di ekosistem gambut dan hutan alam. Pemerintah juga harus tegas, seperti mencabut izin perusahaan yang bermasalah dan melanggar undang-undang. Korporasi yang terlibat juga harus dipastikan membayar ganti rugi untuk pemulihan ekosistem dan penanganan karhutla.
Kebakaran hutan bukan masalah individu, tetapi masalah kita bersama. Di samping itu, kebijakan suatu pemerintah juga sangat penting dalam mengurangi kebakaran hutan yang memang dilakukan secara sengaja. Mengingat bukti dan temuannya sudah sangat jelas perihal masalah ini.



















