- Hotspot: Titik atau area dengan anomali suhu yang terdeteksi sensor satelit dan dapat mengindikasikan adanya kebakaran.
- El Niño: Fenomena iklim yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik tropis yang dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.
- Kelembapan: Banyaknya kandungan uap air di udara yang turut menentukan seberapa mudah vegetasi dan bahan organik mengering serta terbakar.
- Fire triangle: Tiga unsur yang dibutuhkan api untuk menyala dan bertahan, yakni panas, bahan bakar, dan oksigen.
- Smouldering: Pembakaran perlahan tanpa nyala api yang jelas, yang dapat berlangsung di bawah permukaan seperti pada lahan gambut.
- Smoke plume: Kolom atau kepulan asap yang bergerak dari sumber kebakaran ke atmosfer.
- Aerosol: Partikel padat atau cair berukuran sangat kecil yang melayang di atmosfer dan dapat berasal dari asap kebakaran.
- PM2.5: Partikel udara berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
- Black carbon: Partikel karbon hasil pembakaran tidak sempurna yang mampu menyerap radiasi matahari.
- Karbon monoksida (CO): Gas yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna dan menjadi salah satu komponen asap kebakaran.
10 Istilah Sains yang Sering Muncul saat Karhutla, Apa Artinya?

- Karhutla melibatkan interaksi bahan bakar, panas, oksigen, vegetasi, cuaca, dan topografi; kebakaran di Kalimantan juga menghasilkan asap, aerosol, serta gas yang terdeteksi di atmosfer.
- Sepuluh istilah penting mencakup hotspot, El Niño, kelembapan, fire triangle, smouldering, smoke plume, aerosol, PM2.5, black carbon, dan karbon monoksida.
- Hotspot membantu memetakan indikasi serta pola kebakaran, sedangkan PM2.5, aerosol, black carbon, dan karbon monoksida menjelaskan polutan asap yang memengaruhi kualitas udara.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan yang perlu diwaspadai di Indonesia, termasuk di sejumlah wilayah Kalimantan. Selain menghanguskan kawasan hutan dan lahan, kebakaran dapat menghasilkan asap dan berbagai polutan yang berdampak pada lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Dalam pemberitaan mengenai karhutla, berbagai istilah ilmiah kerap digunakan untuk menjelaskan proses, penyebab, hingga dampak kebakaran. Istilah seperti hotspot, particulate matter, dan emisi karbon mungkin sering terdengar, tetapi maknanya tidak selalu dipahami secara tepat. Padahal, memahami istilah-istilah tersebut penting untuk melihat karhutla tidak sekadar sebagai peristiwa kebakaran, melainkan juga sebagai fenomena lingkungan dan atmosfer. Berikut 10 istilah sains yang sering muncul dalam pembahasan karhutla dan penting untuk diketahui.
1. Fenomena sains di balik kebakaran hutan dan lahan

ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/Ylvers) Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar peristiwa ketika vegetasi terbakar, tetapi melibatkan proses fisik dan kimia yang kompleks. Dilansir United States Geological Survey (USGS), api membutuhkan tiga unsur utama untuk dapat menyala dan bertahan, yakni bahan bakar (fuel), panas (heat), dan oksigen (oxygen), yang dikenal sebagai fire triangle. USGS juga menjelaskan bahwa perilaku kebakaran hutan dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu vegetasi, cuaca, dan topografi.
Mengutip dari NASA, kebakaran di wilayah Borneo, termasuk Kalimantan, dapat menghasilkan kepulan asap yang terdeteksi hingga ketinggian tertentu di atmosfer dan mengandung aerosol serta berbagai gas. Sementara itu, BRIN menerangkan bahwa data hotspot dapat digunakan untuk memetakan area yang terindikasi mengalami kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan. Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya berkaitan dengan munculnya api, tetapi juga melibatkan interaksi antara bahan bakar, kondisi lingkungan, atmosfer, dan teknologi pemantauan.
2. Istilah-istilah sains yang sering muncul saat karhutla

ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/photo-graphe) Kebakaran hutan dan lahan dipengaruhi oleh berbagai kondisi alam dan proses pembakaran yang dapat dijelaskan melalui istilah-istilah sains. Beberapa istilah ini kerap muncul saat membahas karhutla, tetapi memiliki makna ilmiah yang spesifik. Berikut ini sepuluh istilah yang penting dipahami:
3. Dari hotspot hingga PM2.5, kenapa istilah Ini penting dipahami?

ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/fish96) Memahami istilah-istilah sains dalam karhutla di atas penting karena setiap istilah membantu menjelaskan bagian berbeda dari sebuah kebakaran. Data hotspot, misalnya, dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi lokasi yang terindikasi mengalami kebakaran serta melihat pola sebarannya di suatu wilayah. Di Kalimantan, informasi tersebut dapat membantu peneliti dan pemangku kebijakan memantau perubahan pola kebakaran dari waktu ke waktu.
Sementara itu, istilah seperti PM2.5, aerosol, dan black carbon membantu menjelaskan kandungan asap yang dihasilkan dari pembakaran dan bagaimana partikelnya dapat memengaruhi kualitas udara. NASA menunjukkan bahwa asap dari kebakaran di Borneo dapat membawa berbagai polutan, termasuk karbon monoksida, yang dapat terdeteksi hingga wilayah yang jauh dari sumber kebakaran. Dengan memahami istilah-istilah tersebut, masyarakat dapat membaca informasi tentang karhutla dengan lebih kritis sekaligus memahami dampaknya terhadap lingkungan dan kualitas udara.
Karhutla yang melanda Kalimantan menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan api, tetapi fenomena yang kompleks. Berbagai faktor seperti kondisi cuaca, vegetasi, dan kualitas udara saling berkaitan dalam membentuk dampaknya. Karena itu, istilah-istilah sains tersebut penting untuk melihat karhutla secara lebih utuh.



















