Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Dampak Karhutla bagi Lingkungan, Tak Hanya Soal Asap

5 Dampak Karhutla bagi Lingkungan, Tak Hanya Soal Asap
ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Eclipse Chasers)
  • Karhutla menghasilkan polutan dan kabut asap yang menurunkan kualitas udara, mengurangi jarak pandang, serta dapat menyebar ke wilayah jauh mengikuti arah angin.
  • Kebakaran menghancurkan habitat dan sumber makanan satwa, merusak struktur serta mikroorganisme tanah, lalu meningkatkan risiko erosi dan menghambat pemulihan vegetasi.
  • Abu pembakaran dapat mencemari sungai, danau, atau waduk; hilangnya vegetasi mengganggu pasokan air tanah, sementara karbon tersimpan terlepas dan menambah gas rumah kaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan lingkungan dengan dampak yang cukup luas. Ketika hutan atau lahan terbakar, bukan hanya asap yang muncul, melainkan juga terjadi perubahan pada kondisi lingkungan di sekitarnya. Dampak tersebut dapat berlangsung selama kebakaran maupun setelah api berhasil dipadamkan.

Karhutla mengganggu keseimbangan ekosistem karena memengaruhi berbagai unsur lingkungan, mulai dari udara hingga habitat satwa. Dampaknya juga berkaitan dengan kualitas tanah, sumber air, serta emisi karbon ke atmosfer. Lantas, apa saja dampak karhutla bagi lingkungan? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

  1. 1. Menurunkan kualitas udara

    ilustrasi kabut asap
    ilustrasi kabut asap (commons.wikimedia.org/Lamiot)

    Proses pembakaran pada karhutla menghasilkan berbagai polutan yang dilepaskan ke atmosfer. Salah satu polutan yang paling dominan adalah partikel halus atau particulate matter, yaitu campuran partikel padat dan tetesan cairan yang melayang di udara. Asap dari kebakaran ini membawa berbagai zat berbahaya sehingga udara di sekitar lokasi menjadi tercemar.

    Polutan dan asap tersebut membentuk kabut pekat yang menyebar dari lokasi kebakaran ke daerah lain mengikuti arah angin. Kondisi ini membuat udara terlihat berkabut dan mengurangi jarak pandang, terutama ketika konsentrasi asap cukup tinggi. Dampak karhutla terhadap udara pun tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga meluas ke wilayah yang jauh dari sumber api.

  2. 2. Mengganggu habitat satwa

    ilustrasi satwa yang kehilangan habitatnya
    ilustrasi satwa yang kehilangan habitatnya (unsplash.com/Colin Hobson)

    Karhutla melahap kawasan yang menjadi tempat satwa mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Ketika kawasan hutan terbakar, ruang hidup yang tersedia bagi satwa berkurang drastis. Kondisi ini menjadi ancaman serius, terutama bagi spesies yang bergantung pada lokasi tertentu untuk berkembang biak atau membuat sarang.

    Hilangnya habitat dan sumber makanan membuat satwa harus berpindah ke wilayah lain untuk bertahan hidup. Karena itu, satwa liar dapat muncul di tempat yang tidak biasa, termasuk mendekati kawasan permukiman, saat mencari perlindungan dan makanan. Di wilayah baru tersebut, satwa juga harus bersaing dengan hewan lain untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas.

  3. 3. Merusak kualitas tanah

    ilustrasi tanah rusak setelah kebakaran
    ilustrasi tanah rusak setelah kebakaran (commons.wikimedia.org/Thyrome)

    Tidak hanya memusnahkan vegetasi di atasnya, karhutla juga merusak kondisi tanah di area yang terbakar. Panas ekstrem dari api dapat mengubah struktur fisik dan mengurangi daya ikat (kohesi) tanah, sehingga tanah menjadi rentan rusak. Kebakaran ini turut mematikan mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam proses pelapukan dan penyediaan nutrisi alami.

    Pasca-kebakaran, tanah yang strukturnya telah rusak menjadi sangat mudah terkikis saat hujan turun. Kondisi tersebut mempercepat erosi dan menghambat proses pemulihan vegetasi di area bekas kebakaran. Dampaknya bisa makin serius pada kawasan yang mengalami kebakaran berulang atau berintensitas tinggi.

  4. 4. Mencemari sumber air

    ilustrasi air yang tercemar abu kebakaran
    ilustrasi air yang tercemar abu kebakaran (commons.wikimedia.org/David Bremner)

    Dampak karhutla tidak berhenti di daratan dan udara, melainkan juga merambah ke ekosistem perairan. Saat kebakaran terjadi, abu dan berbagai kontaminan sisa pembakaran menumpuk di permukaan tanah. Ketika hujan turun, material tersebut dapat terbawa masuk ke sungai, danau, atau waduk, sehingga menurunkan kualitas air dan mengancam kehidupan biota perairan.

    Selain mencemari kualitas air, karhutla mengganggu fungsi hutan dalam mengatur ketersediaan air tanah. Vegetasi yang hangus tidak lagi mampu menahan dan menyerap air hujan seperti biasa. Akibatnya, pola aliran air di kawasan tersebut berubah dan mengganggu pasokan air bersih bahkan setelah api berhasil dipadamkan.

  5. 5. Meningkatkan emisi karbon

    kebakaran melepaskan karbon yang tersimpan dalam vegetasi ke atmosfer
    kebakaran melepaskan karbon yang tersimpan dalam vegetasi ke atmosfer (commons.wikimedia.org/Salam2009)

    Hutan dan vegetasi memiliki peran vital sebagai penyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer yang kemudian disimpan dalam biomassa dan tanah. Namun saat terjadi karhutla, fungsi alami tersebut terhenti. Pohon dan tumbuhan yang terbakar justru melepaskan kembali cadangan karbon yang tersimpan selama ini ke atmosfer.

    Dampak pelepasan karbon ini berkaitan langsung dengan perubahan iklim dalam skala global. Kebakaran pada kawasan hutan, khususnya lahan gambut, mampu melepaskan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Lonjakan emisi ini meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang mempercepat proses pemanasan global.

    Kelima poin di atas hanyalah sebagian dari dampak yang ditimbulkan oleh karhutla. Masih ada dampak lain, mulai dari gangguan kesehatan hingga kerugian ekonomi, yang dapat muncul setelah kebakaran terjadi. Ini menunjukkan bahwa ketika api padam, persoalan yang ditinggalkannya belum tentu selesai karena lingkungan membutuhkan waktu untuk kembali pulih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More