3 Bagian Rumah yang Paling Menyerap Panas Matahari saat Cuaca Terik

- Cuaca panas di Indonesia diperparah fenomena El Niño, membuat suhu siang hari meningkat dan rumah terasa gerah meski sudah memakai pendingin udara.
- Atap, dinding, dan jendela kaca menjadi bagian rumah yang paling banyak menyerap serta menyimpan panas dari sinar Matahari sepanjang hari.
- Pemilihan warna atap terang, penggunaan insulasi dinding, serta kaca low-e atau tirai dapat membantu mengurangi panas berlebih di dalam rumah.
Belakangan ini, cuaca panas mulai terasa di berbagai wilayah Indonesia, terutama di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Niño, sehingga suhu udara pada siang hari bisa terasa lebih menyengat dari biasanya. Jadi, walaupun kipas angin atau pendingin ruangan sudah dinyalakan, banyak orang merasa rumah mereka tetap gerah atau panas.
Bahkan, suhu panas sering kali masih terasa hingga malam meskipun Matahari sudah terbenam. Usut punya usut, ternyata kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh suhu udara di luar, tetapi juga oleh cara rumah menyerap dan menyimpan panas. Faktanya, beberapa bagian rumah dapat menerima panas lebih banyak dibandingkan bagian lainnya.
Lalu, bagian rumah mana saja yang paling banyak menyerap panas saat cuaca terik? Yuk, simak uraian lengkapnya di bawah ini!
1. Atap rumah jadi bagian yang cepat panas

Atap merupakan bagian rumah yang paling banyak menerima paparan sinar Matahari sepanjang hari. Karena berada di bagian paling atas, permukaan atap menyerap panas secara langsung sejak pagi hingga sore hari. Mengutip dari United States Department of Energy, panas yang diserap atap kemudian dapat merambat ke bagian dalam rumah sehingga membuat suhu ruangan ikut meningkat.
Semakin gelap warna atap dan semakin mudah materialnya menyerap panas maka semakin besar pula panas yang masuk ke dalam bangunan. Itulah sebabnya ruangan di lantai atas atau tepat di bawah atap sering terasa lebih gerah dibandingkan bagian rumah lainnya. So, pemilihan bahan dan warna atap dapat membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah saat cuaca terik.
Atap berwarna gelap seperti hitam, abu-abu tua, atau cokelat tua cenderung menyerap lebih banyak panas dibandingkan warna terang seperti putih atau abu-abu muda. Material atap seperti aspal (asphalt shingles) dan logam tanpa lapisan pemantul panas juga dapat menjadi sangat panas saat terkena sinar Matahari langsung. Sebaliknya, atap berwarna terang atau menggunakan material yang dirancang untuk memantulkan panas (cool roof) dapat membantu menjaga suhu di dalam rumah tetap lebih sejuk.
2. Dinding yang terkena Matahari bisa menyerap dan menyimpan panas

Tak hanya atap, dinding rumah yang terkena sinar Matahari langsung juga dapat menyerap panas dalam jumlah besar. Mengutip dari YourHome, situs panduan rumah hemat energi milik Pemerintah Australia, dinding berbahan bata, beton, atau batu mampu menyimpan panas selama siang hari. Panas tersebut kemudian dilepaskan kembali secara perlahan sehingga rumah masih terasa gerah meski Matahari sudah terbenam.
Kondisi ini biasanya lebih terasa pada dinding yang menghadap ke arah datangnya sinar Matahari pada siang hingga sore hari. Oleh karena itu, penggunaan insulasi atau pelapis dinding yang tepat dapat membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah. Untuk mengatasinya, dinding dapat dilengkapi dengan insulasi berbahan fiberglass, wol mineral (mineral wool), atau busa kaku (rigid foam) yang membantu menghambat perpindahan panas dari luar ke dalam rumah.
3. Jendela kaca membuat ruangan terasa lebih gerah

Jendela kaca dapat membuat ruangan terasa lebih gerah, terutama saat terkena sinar Matahari secara langsung. Hal ini terjadi karena cahaya Matahari dapat dengan mudah menembus kaca dan masuk ke dalam rumah. U.S. Department of Energy menyebutkan bahwa sekitar 25–30 persen panas yang memengaruhi kebutuhan pendinginan dan pemanasan rumah berkaitan dengan perpindahan panas melalui jendela.
Setelah masuk, panas tersebut akan diserap oleh lantai, dinding, dan furnitur, kemudian dipancarkan kembali sehingga suhu ruangan terasa lebih tinggi. Sebab itu, ruangan yang memiliki banyak jendela kaca tanpa pelindung biasanya akan terasa lebih panas pada siang hari. Penggunaan kaca low-e (kaca berlapis khusus untuk mengurangi panas), tirai, atau peneduh jendela dapat membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam ruangan.
FYI, suhu panas yang melanda beberapa wilayah di Indonesia ternyata juga terjadi di sejumlah negara lain di kawasan Asia, Amerika, hingga Eripa. BMKG menjelaskan bahwa puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 sehingga cuaca panas masih berpotensi dirasakan di berbagai daerah. Setelah mengetahui fakta ini, apakah kamu sudah mulai menerapkan cara-cara sederhana untuk menjaga rumah tetap sejuk saat cuaca terik?

















