Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kalimantan Sering Terjadi Karhutla? Ini Alasannya

Kenapa Kalimantan Sering Terjadi Karhutla? Ini Alasannya
ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Emma Renly)
  • Karhutla kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan, memicu kabut asap tebal yang mengganggu lingkungan dan aktivitas masyarakat.

  • Lahan gambut luas yang mengering saat kemarau, terutama Juli hingga September, membuat api mudah menyebar di bawah tanah dan sulit dipadamkan.

  • Pembukaan lahan dengan pembakaran, pembalakan liar, serta konversi lahan mengurangi vegetasi dan meningkatkan kerentanan hutan maupun gambut terhadap kebakaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan hingga menyebabkan kabut asap tebal. Bukan kali pertama terjadi, karhutla telah berulang kali menjadi persoalan yang berdampak pada lingkungan dan aktivitas masyarakat.

Lantas, kenapa Kalimantan sering terjadi karhutla? Ada beberapa faktor yang membuat wilayah ini lebih rentan terbakar, mulai dari luasnya lahan gambut, kondisi cuaca yang kering, fenomena El Nino, hingga aktivitas manusia seperti pembukaan lahan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyebab karhutla di Kalimantan, simak penjelasan berikut.

  1. 1. Lahan gambut yang mudah terbakar

    Salah satu alasan Kalimantan sering mengalami karhutla adalah keberadaan lahan gambut yang sangat luas, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang menumpuk selama ribuan tahun dan secara alami memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Namun, ketika musim kemarau tiba dan gambut kehilangan banyak air, lapisannya menjadi kering sehingga jauh lebih mudah terbakar.

    Risikonya semakin besar ketika lahan gambut dikeringkan akibat pembangunan kanal atau perubahan tata guna lahan. Penurunan muka air tanah membuat gambut kehilangan kelembapannya dan menjadi lebih rentan terhadap api. Kebakaran di lahan gambut juga berbeda dari kebakaran biasa karena api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Bara bahkan bisa bertahan selama berhari-hari atau berminggu-minggu sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.

  2. 2. Kemarau membuat kondisi lahan semakin kering

    Musim kemarau menjadi salah satu periode yang paling rawan karhutla di Kalimantan. Ketika hujan berkurang, kelembapan tanah menurun dan berbagai jenis vegetasi mulai mengering. Kondisi tersebut membuat bahan-bahan yang berada di sekitar hutan dan lahan lebih mudah terbakar. Di Kalimantan, periode rawan ini umumnya terjadi sekitar Juli hingga September, bertepatan dengan puncak musim kemarau.

    Risikonya dapat meningkat ketika kemarau berlangsung lebih panjang dan diperkuat oleh fenomena El Nino. BMKG menjelaskan bahwa kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena yang berbeda, tetapi jika terjadi bersamaan, kondisi wilayah dapat menjadi jauh lebih kering. Keadaan tersebut membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

    Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, juga menjelaskan bahwa kondisi iklim yang kering membuat lahan lebih mudah dibakar dan meningkatkan kemunculan asap. Dengan kata lain, cuaca kering bukan selalu menjadi penyebab awal kebakaran, tetapi dapat memperbesar risiko dan membuat karhutla semakin sulit dikendalikan.

  3. 3. Pembukaan lahan dengan api

    Kenapa Kalimantan Sering Terjadi Karhutla
    ilustrasi kebakaran hutan (commons.wikimedia.org/ National Archives and Records Administration)

    Faktor manusia juga memiliki peran besar dalam terjadinya karhutla. Salah satunya praktik pembukaan lahan dengan cara membakar karena dianggap lebih cepat dan murah. Persoalannya, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat menyebar tanpa kendali, terutama ketika kondisi sekitar sedang kering dan angin bertiup cukup kencang.

    Risiko tersebut semakin besar di kawasan gambut. Api dapat merambat melalui lapisan bawah tanah sehingga kebakaran tidak selalu terlihat jelas dari permukaan. Kondisi ini membuat api berpotensi menyebar ke wilayah yang lebih luas dan bertahan dalam waktu lama.

    Studi yang disusun Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan UGM pada 2025 juga menunjukkan bahwa sebagian besar karhutla di Indonesia berkaitan dengan aktivitas manusia atau faktor antropogenik. Pembukaan lahan dengan pembakaran masih dilakukan oleh sebagian korporasi hingga petani skala kecil karena dinilai efisien, meski dampaknya dapat menimbulkan kerugian lingkungan dan ekonomi yang jauh lebih besar.

  4. 4. Kerusakan hutan membuat lingkungan makin rentan

    Selain pembakaran lahan, aktivitas seperti pembalakan liar dan konversi lahan secara besar-besaran turut memperparah kerentanan kawasan terhadap karhutla. Berkurangnya tutupan vegetasi dapat mengubah kondisi lingkungan di sekitar hutan, termasuk mikroklimat setempat. Area yang kehilangan tutupan vegetasi kemudian dapat menjadi lebih kering dan lebih mudah terbakar ketika musim kemarau.

    Kondisi tersebut juga dapat saling memperkuat dengan masalah di lahan gambut. Ketika kawasan gambut mengalami pengeringan dan tutupan vegetasi berkurang, lingkungan menjadi semakin rentan terhadap munculnya api. Jika kebakaran terjadi, api dapat merambat di bawah permukaan dan lebih sulit untuk dipadamkan.

    Itulah berbagai penyebab yang menjelaskan kenapa Kalimantan sering terjadi karhutla, mulai dari kondisi lahan hingga aktivitas manusia. Semoga ulasan ini bermanfaat, ya.

    Referensi

    "Sejarah Kebakaran Hutan di Kalimantan dan Sumatra: Pembelajaran dalam Mitigasi Karhutla". BNPB. Diakses Agustus 2026.
    "Kalimantan Dalam Kepungan Api: Kabut Asap Tebal Kembali Lumpuhkan Aktivitas Warga". FPIPS UPI. Diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More