ilustrasi AI, DeepSeek, pengguna AI (pexels.com/Abdelrahman Ahmed)
Meskipun sebagian besar penggunaan air dan energi AI terjadi di balik layar, kita tetap dapat ikut mengurangi dampaknya melalui kebiasaan menggunakan teknologi secara lebih bijak. Langkahnya tidak harus besar, tetapi dapat dimulai dari cara kita memanfaatkan AI sehari-hari, seperti:
Hindari membuat permintaan atau menghasilkan konten berulang kali jika hasil sebelumnya sudah cukup sesuai. Semakin banyak permintaan diproses, makin besar pula sumber daya komputasi yang dibutuhkan.
Pilih tugas yang sesuai dengan kebutuhan. Tidak semua pekerjaan membutuhkan model AI dengan kemampuan komputasi tinggi. Untuk pertanyaan sederhana, sebaiknya gunakan fitur atau model yang lebih ringan jika tersedia.
Kurangi penggunaan AI untuk hal yang tidak diperlukan. Misalnya, tidak perlu menggunakan AI untuk setiap pencarian sederhana, membuat banyak variasi gambar hanya untuk memilih satu, atau menghasilkan ulang teks berkali-kali tanpa tujuan yang jelas.
Pertimbangkan kembali penggunaan AI untuk menghasilkan gambar atau video.
Gunakan hasil AI lebih lama dan lakukan penyuntingan secara manual. Jika sebuah teks, gambar, atau materi sudah cukup baik, memperbaikinya secara manual dapat mengurangi kebutuhan untuk terus menghasilkan versi baru dari AI.
Mempertimbangkan layanan yang transparan mengenai penggunaan energi, air, dan upaya mereka dalam mengurangi dampak lingkungan.
Jadi, benarkah AI bisa mengurangi air di Bumi berkaitan erat dengan besarnya kebutuhan air di balik pengoperasian teknologi ini. Dengan mengetahui proses dan dampaknya, kita dapat lebih memahami konsekuensi lingkungan dari penggunaan AI yang semakin luas.
Referensi
"Counting the Price of an Answer: When AI Intelligence Comes at the Price of Clean Water and Fresh Air". BMKG. Diakses September 2026.
"AI’s Thirst For Water". GOV.UK. Diakses September 2026.
"AI’s Environmental Costs Threaten Water, Land and Climate". United Nations. Diakses September 2026.