Potret hutan setelah hujan (pexels.com/Mick Haupt)
Ungkapan bahwa hutan menghadirkan hujan sendiri sebenarnya perlu dipahami secara utuh. Pepohonan tidak memunculkan air baru dari ruang kosong. Yang terjadi ialah pengedaran ulang air yang telah tersedia di alam.
Di sisi lain, suhu permukaan laut, arah angin, tekanan udara, serta fenomena iklim global juga memberi pengaruh besar. Curah hujan lahir dari interaksi banyak faktor yang bekerja bersamaan. Kendati demikian, keberadaan hutan tetap memegang peranan vital dalam menopang kesehatan siklus air.
Jadi, benarkah hutan bisa mendatangkan hujannya sendiri? Jawabannya ya, meskipun bukan dengan menciptakan air dari nol. Itulah sebabnya upaya melindungi hutan bukan semata urusan konservasi satwa atau keanekaragaman hayati, melainkan juga langkah penting guna menjaga ketersediaan air, kestabilan iklim lokal, dan keberlanjutan kehidupan manusia.
Sumber Referensi :
NASA Science Editorial Team. (2017). New study shows the Amazon makes its own rainy season. science.nasa.gov.
NASA Earth Observatory. (2017). The Amazon Makes its Own Wet Season. science.nasa.gov.
O'Connor, J. C., Dekker, S. C., Staal, A., Tuinenburg, O. A., Rebel, K. T., & Santos, M. J. (2021). Forests buffer against variations in precipitation. Global Change Biology, 27(19), 4686-4696.
Spracklen, D. V., Arnold, S. R., & Taylor, C. M. (2012). Observations of increased tropical rainfall preceded by air passage over forests. Nature, 489(7415), 282-285.
Smith, C., Baker, J. C. A., & Spracklen, D. V. (2023). Tropical deforestation causes large reductions in observed precipitation. Nature, 615(7951), 270-275.