Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Malam Tanpa Gelap, Bagaimana Cahaya Kota Mengacaukan Kehidupan Hewan?

Malam Tanpa Gelap, Bagaimana Cahaya Kota Mengacaukan Kehidupan Hewan?
ilustrasi cahaya malam kota (unsplash.com/Yang)
Intinya Sih
  • Polusi cahaya kota mengganggu ritme biologis hewan yang bergantung pada siklus gelap-terang, termasuk tidur, aktivitas, reproduksi, dan migrasi.
  • Di Chicago, sekitar 1.000 burung migran mati menabrak kaca McCormick Place dalam satu malam setelah cuaca buruk dan cahaya gedung memicu disorientasi.
  • Lampu buatan juga membuat serangga kehilangan navigasi, membatasi ruang jelajah hewan nokturnal, serta mengganggu komunikasi kawin kunang-kunang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika matahari terbenam, kota-kota modern tidak lagi benar-benar gelap gulita. Lampu jalan, papan reklame, dan gemerlap gedung pencakar langit telah menyulap malam menjadi siang buatan yang serba terang. Bagi manusia, polusi cahaya ini mungkin terlihat sebagai simbol kemajuan dan rasa aman. Namun bagi spesies hewan yang mendiami alam sekitar, hilangnya kegelapan malam adalah awal dari bencana ekologis yang sunyi.

Selama jutaan tahun, siklus alami gelap dan terang menjadi kompas biologis yang mengatur cara bernapas, berburu, hingga bermigrasi seluruh makhluk hidup. Sayangnya, hadirnya cahaya buatan merusak ritme sirkadian atau jam biologis hewan secara drastis. Tukik penyu yang baru menetas kehilangan arah menuju laut karena terkecoh lampu kota, burung migran menabrak kaca gedung akibat disorientasi navigasi, hingga serangga malam mati kelelahan mengepung bohlam lampu. Tanpa gelap, rantai kehidupan yang telah lama terjaga perlahan akan terurai. Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

1. Disorientasi navigasi burung migrasi

ilustrasi migrasi burung di malam hari
ilustrasi migrasi burung di malam hari (unsplash.com/Usha Kiran)

Salah satu bukti bahwa cahaya kota bisa mengacaukan kehidupan hewan yaitu saat peristiwa tragis di Chicago. Menurut laporan The Guardian, ada sekitar 1.000 burung migrasi mati seketika dalam satu malam akibat menabrak kaca gedung konvensi McCormick Place. Kejadian ini berlangsung saat puncak musim migrasi, di mana buruknya cuaca dipadukan dengan polusi cahaya kota menarik perhatian burung-burung yang terbang di malam hari, membuat mereka disorientasi hingga fatal menabrak dinding kaca bangunan. Para ahli menjelaskan bahwa gabungan antara pantulan kaca dan sorot lampu gedung terang menjadi jebakan mematikan bagi burung nokturnal.

2. Serangga terjebak dalam perangkap cahaya

ilustrasi serangga
ilustrasi serangga (unsplash.com/Geronimo Giqueaux)

Selama ini, anggapan umum menilai serangga terbang secara alami tertarik oleh cahaya lampu. Namun, para ahli  mengungkapkan bahwa serangga sebenarnya tidak tertarik pada cahaya buatan, melainkan mengalami gangguan pada sistem navigasi alaminya. Dilansir laman PBS News, selama ribuan tahun, serangga mengandalkan cahaya dari langit untuk membedakan arah atas dan bawah agar tubuhnya tetap seimbang saat terbang di malam hari. Ketika berada di dekat lampu buatan, serangga secara reflek memiringkan punggungnya ke arah sumber cahaya tersebut. Karena posisi lampu jalan atau lampu teras berada di lingkungan mereka, bukan jauh di atas langit, reflek ini membuat serangga terbang berputar-putar tanpa kendali, bahkan kerap kali terbalik dan jatuh ke tanah.

3. Kekacauan jam biologis ritme sirkadian

ilustrasi burung di perkotaan
ilustrasi burung di perkotaan (unsplash.com/Nobiur Rahman)

Penerangan buatan seperti lampu jalan, stadion, dan pusat perbelanjaan telah mengubah malam menjadi terang benderang. Fenomena ini juga turut mengacaukan jam sirkadian atau biologis burung yang tinggal di sekitar perkotaan secara global.

Dilansir laman National Geographic, paparan cahaya malam hari ini memicu perubahan perilaku yang tidak alami, seperti burung yang mulai bernyanyi jauh sebelum fajar atau bahkan di tengah malam. Aktivitas ekstra di malam hari ini menguras energi penting yang seharusnya mereka simpan untuk mencari makan, mempertahankan wilayah, dan membesarkan anak di siang hari. Secara biologis, polusi cahaya terbukti menekan produksi hormon reproduksi vital serta mengganggu melatonin yang mengatur waktu tidur.

4. Perubahan keseimbangan predator vs mangsa

ilustrasi hewan di perkotaan
ilustrasi hewan di perkotaan (unsplash.com/Guilherme Camargo)

Polusi cahaya buatan mengubah drastis ruang jelajah dan interaksi antara predator dan mangsa di ekosistem malam dengan menciptakan batasan fisik tak kasat mata. Hewan-hewan pemalu yang terbiasa beraktivitas dalam kegelapan total seperti jenis kelelawar tertentu dan burung hantu secara aktif menghindari area yang terang karena merasa terancam dan rentan diserang pemangsa lain.

Pencahayaan malam yang berlebihan ini merusak lanskap alami dan membagi-bagi habitat mereka, sehingga membatasi ruang gerak serta mempersempit wilayah jelajah alami yang sangat dibutuhkan spesies tersebut untuk bertahan hidup. Ketakutan terhadap area terang ini secara langsung mengganggu pola makan dan tingkat kelangsungan hidup hewan nokturnal.

5. Gangguan sistem reproduksi dan komunikasi

ilustrasi hewan di malam hari
ilustrasi hewan di malam hari (unsplash.com/Eagan Hsu)

Hewan seperti kunang-kunang memanfaatkan kemampuan bioluminesensi atau sinyal cahaya khusus untuk menemukan pasangan di malam hari. Dalam proses ini, kunang-kunang jantan akan memancarkan pola kedipan cahaya untuk menunjukkan keberadaan mereka, sementara kunang-kunang betina akan membalas kedipan tersebut sebagai tanda tertarik.

Namun, sayangnya polusi cahaya dari lampu jalan, rumah, hingga papan reklame membuat suasana malam menjadi terlalu terang. Cahaya buatan yang makin mendominasi ini mengalahkan pendaran cahaya alami kunang-kunang, sehingga mengganggu sinyal komunikasi mereka. Akibatnya, kunang-kunang jantan dan betina kesulitan saling menemukan dan gagal untuk kawin.

Kegelapan malam yang perlahan sirna bukan hanya soal hilangnya keindahan langit bertabur bintang, melainkan runtuhnya ruang aman bagi kehidupan hewan. Dalam riuh lampu kota yang tak pernah padam, sinyal-sinyal cinta kunang-kunang meredup tanpa balasan, navigasi burung migran yang menyesatkan arah, dan ritme alami kehidupan yang telah berjalan ribuan tahun mendadak kacau. Sebab pada akhirnya, malam yang tenang dan gelap adalah hak setiap makhluk bernyawa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More