Bagaimana Cara Kucing Mendeteksi Orang yang Takut Padanya?

- Kucing bisa mendeteksi perubahan aroma tubuh saat seseorang takut atau stres, karena mereka memiliki 200 juta reseptor penciuman.
- Kucing mampu mengenali perubahan nada suara dan meresponsnya, terutama ketika manusia berbicara dengan gaya bicara khusus kucing.
- Kucing dapat membaca gerakan tubuh yang tidak natural dan ekspresi wajah dasar manusia untuk memahami emosi sosial di sekelilingnya.
Pernah merasa kucing seperti tahu ketika kamu sedang gugup atau takut saat mendekatinya? Banyak orang mengaitkannya dengan indra keenam, padahal ada penjelasan biologis yang jauh lebih masuk akal. Sains memiliki penjelasan bagaimana cara kucing mendeteksi orang yang takut padanya.
Kalau kamu salah satu orang yang memiliki kucing sebagai peliharaan atau suka dengan hewan berbulu satu ini, berikut cara kucing mendeteksi orang yang takut padanya. Baca sampai akhir untuk mengenal lebih dekat mamalia menggemaskan ini, yuk!
1. Mencium aroma stres dari tubuh manusia

Ketika manusia takut, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang dapat mengubah aroma tubuh. Kucing memiliki sekitar 200 juta reseptor penciuman, jauh lebih banyak daripada kita sehingga sangat mudah bagi mereka mendeteksi perubahan bau kecil. Ini bukan tafsir emosi, tapi murni kemampuan sensorik.
Penelitian pada hewan memperlihatkan banyak spesies merespons perubahan bau stres pada manusia, khususnya hewan peliharaan. Walau belum ada studi spesifik mengenai kucing mendeteksi “takut”, peneliti telah membuktikan bahwa kucing bisa mengenali aroma pemiliknya dan perubahan bau tertentu. Artinya, tubuh manusia yang stres memang mengirimkan sinyal kimia yang bisa ditangkap kucing.
2. Menangkap perubahan nada suara

Kucing mampu mendengar sampai frekuensi 64 kHz—tiga kali lipat dari manusia. Saat takut, suara manusia sering berubah menjadi lebih tinggi, cepat, atau bergetar. Perubahan kecil semacam ini mudah tertangkap oleh telinga kucing yang sensitif terhadap detail frekuensi dan ritme.
Merujuk beberapa jurnal yang terbit dalam Animal Cognition, kucing terbukti dapat mengenali suara pemiliknya dibanding suara orang asing. Mereka juga merespons perubahan intonasi, terutama ketika manusia berbicara dengan gaya bicara khusus kucing (cat-directed speech), yaitu semacam panggilan lembut atau nada khas. Temuan ini mengarah pada pemahaman bahwa kucing bisa memproses perbedaan nada, meski mereka tidak menafsirkan emosi manusia secara kompleks.
3. Mengamati gerakan tubuh yang tidak natural

Kucing, sebagai predator kecil yang sangat peka terhadap bahasa tubuh, mampu menangkap perubahan halus seperti tangan yang menegang, langkah yang tidak mantap, atau gerakan yang terlalu cepat. Dalam studi etologi, banyak spesies diketahui membaca pola gerakan untuk menilai kondisi emosional makhluk lain. Kucing juga melakukan hal serupa. Mereka mungkin tidak memahami konsep “takut”, tetapi mereka mengenali adanya ketidakpastian pada gerakan tersebut. Bagi kucing, ini adalah sinyal untuk berhati-hati. Karena itu, ketika melihat seseorang bergerak dengan cara yang tidak stabil, mereka bisa memilih untuk menjauh atau hanya mengamati sambil mempertahankan jarak aman.
4. Membaca ekspresi wajah dasar

Walau tidak sehebat anjing, penelitian menunjukkan kucing mampu membedakan beberapa ekspresi manusia, khususnya yang berkaitan dengan ketegangan otot wajah. Saat takut, wajah manusia cenderung menegang, mata terbuka lebar, dan alis terangkat. Kucing dapat melihat perubahan visual ini dan menghubungkannya dengan situasi tidak familier.
Studi cross-modal tahun 2020 membuktikan kucing dapat mencocokkan ekspresi wajah manusia dengan vokalisasi terkait, seperti marah atau senang. Dalam eksperimen tersebut, kucing mengamati wajah lebih lama ketika ekspresi sesuai dengan vokalisasi yang didengar, dan menunjukkan peningkatan stres ketika melihat ekspresi marah atau mendengar vokalisasi bernada agresif. Hasil ini memperlihatkan kemampuan kognitif kucing dalam mengaitkan sinyal visual dan auditori untuk memahami emosi sosial di sekelilingnya.
5. Ingatan jangka panjang membantu kucing mengenali pola

Kucing memiliki memori jangka panjang yang cukup kuat, terutama untuk pengalaman yang berhubungan dengan keselamatan. Jika mereka pernah bertemu orang yang takut dan bersikap gelisah, mereka bisa menyimpan pola tersebut dalam ingatan. Suatu hari saat melihat perilaku mirip, kucing akan langsung menghubungkannya.
Penelitian tentang memori kucing menunjukkan bahwa kucing mampu mengingat suara dan aroma pemiliknya bahkan setelah lama tidak bertemu. Ini menandakan mereka punya kemampuan mengenali pola secara konsisten. Ketika bertemu seseorang dengan bahasa tubuh atau suara mirip pengalaman sebelumnya, mereka akan mengantisipasi berdasarkan ingatan tersebut.
6. Sensitivitas terhadap lingkungan membuat kucing peka pada perubahan energi

Meski istilah “energi” kerap muncul dalam bahasa sehari-hari, penjelasan ilmiahnya jauh lebih konkret. Kucing peka terhadap perubahan kecil di lingkungan, termasuk getaran halus, ritme langkah yang berubah, dan ketegangan di udara. Rasa takut pada manusia membuat tubuh menegang dan gerakan menjadi tidak stabil, sehingga suasana ruangan ikut berubah. Indra kucing menangkap pergeseran ini layaknya sinyal yang perlu diperhatikan.
Para peneliti menjelaskan jika respons cepat tersebut berasal dari naluri bertahan hidup yang terus terbawa hingga sekarang. Hewan ini bereaksi pada suara lembut, gerakan mikro, dan pergeseran atmosfer sosial yang sulit disadari manusia. Ruangan yang tiba-tiba terasa lebih hening atau bergerak “berat” karena seseorang menahan kecemasan dapat memicu kewaspadaan kucing. Fenomena ini sering disalahartikan sebagai indra keenam, padahal kuncinya terletak pada kepekaan sensorik yang bekerja dengan presisi tinggi.
Cara kucing mendeteksi orang yang takut padanya merupakan hasil kombinasi indra super tajam dan kemampuannya memproses pola. Hal inilah yang membuat kucing seolah mampu membaca emosi manusia. Padahal, mereka hanya merespons sinyal-sinyal biologis dan perilaku kecil yang muncul saat seseorang merasa takut. Pemahaman ini membantu kita melihat bahwa kucing bukan makhluk mistis, melainkan hewan dengan sensitivitas luar biasa yang berevolusi untuk bertahan hidup di lingkungan penuh perubahan.
Referensi
Berg, P., Mappes, T., & Kujala, M. V. (2024). Olfaction in the canine cognitive and emotional processes: From behavioral and neural viewpoints to measurement possibilities. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 157, 105527.
Miyairi, Y., Kimura, Y., Masuda, K., & Uchiyama, H. (2025). Behavioral responses of domestic cats to human odor. PLoS One, 20(5), e0324016.
Saito, A., & Shinozuka, K. (2013). Vocal recognition of owners by domestic cats (Felis catus). Animal cognition, 16(4), 685-690.
De Mouzon, C., Gonthier, M., & Leboucher, G. (2023). Discrimination of cat-directed speech from human-directed speech in a population of indoor companion cats (Felis catus). Animal cognition, 26(2), 611-619.
de Mouzon, C., & Leboucher, G. (2023). Multimodal communication in the human–cat relationship: a pilot study. Animals, 13(9), 1528.
Quaranta, A., d’Ingeo, S., Amoruso, R., & Siniscalchi, M. (2020). Emotion recognition in cats. Animals, 10(7), 1107.



















