Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gimana Cara NASA Menguji Makanan untuk Astronot?

Gimana Cara NASA Menguji Makanan untuk Astronot?
Uji makanan astronot NASA (commons.wikimedia.org/James Blair)
Intinya Sih
  • NASA menerapkan uji keamanan super ketat untuk memastikan makanan astronot bebas bakteri, tahan lama, dan tetap bernutrisi meski disimpan berbulan-bulan di kondisi ekstrem luar angkasa.
  • Ilmuwan menggunakan teknologi freeze-drying dan kemasan antigravitasi agar makanan awet, ringan, serta aman dikonsumsi tanpa menimbulkan remah atau cairan yang bisa mengganggu sistem pesawat.
  • Astronot ikut mencicipi dan memilih menu favorit mereka, sementara ahli gizi menghitung kebutuhan nutrisi spesifik agar tubuh tetap sehat selama misi panjang di lingkungan mikrogravitasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makanan di luar angkasa bukan sekadar soal rasa enak atau tidak. Hal ini dikarenakan setiap gigitan harus aman, tahan lama, dan tetap bernutrisi meski berada di lingkungan ekstrem tanpa gravitasi. Banyak hal yang tidak terpikirkan di Bumi, justru menjadi masalah besar saat makanan dikirim ke orbit atau bahkan misi jauh seperti ke Mars.

Prosesnya tidak sesederhana memasak lalu mengemas, karena ada standar ketat yang harus dipenuhi sebelum makanan benar-benar layak dikonsumsi astronot. Kalau penasaran gimana proses rumit di balik makanan luar angkasa, lanjut baca sampai akhir karena detailnya jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.

1. Ilmuwan NASA menentukan standar keamanan pangan

Uji makanan astronot NASA
Uji makanan astronot NASA (commons.wikimedia.org/Robert Markowitz)

Setiap makanan yang akan dikirim ke luar angkasa harus melewati uji keamanan yang jauh lebih ketat dibanding makanan biasa di Bumi, karena risiko kontaminasi bisa berdampak fatal di lingkungan tertutup seperti stasiun luar angkasa. Tim di NASA memastikan tidak ada bakteri berbahaya seperti Salmonella atau E. coli yang tersisa melalui proses sterilisasi suhu tinggi dan pengujian mikrobiologi berulang. Selain itu, makanan juga diuji terhadap perubahan kualitas selama penyimpanan jangka panjang untuk memastikan tetap aman dikonsumsi hingga berbulan-bulan.

Pengujian ini tidak hanya berhenti di laboratorium karena sampel makanan akan disimpan dalam kondisi simulasi luar angkasa untuk melihat apakah ada perubahan rasa, tekstur, atau kandungan gizi. Jika ditemukan penurunan kualitas, formulasi makanan akan diubah dan diuji ulang sampai memenuhi standar. Proses ini bisa berlangsung bertahun-tahun sebelum satu jenis makanan dinyatakan lolos.

2. Peneliti menguji ketahanan makanan di lingkungan ekstrem

Uji makanan astronot NASA
Uji makanan astronot NASA (commons.wikimedia.org/Bill Stafford)

Makanan astronot harus mampu bertahan di kondisi tanpa gravitasi, tekanan berbeda, dan radiasi kosmik yang dapat merusak struktur kimia bahan makanan. Untuk itu, ilmuwan menggunakan teknologi seperti freeze-drying atau pengeringan beku agar makanan lebih awet tanpa kehilangan nutrisi penting. Metode ini juga membantu mengurangi berat makanan sehingga lebih efisien saat diluncurkan ke luar angkasa.

Selain itu, makanan diuji dalam ruang simulasi yang meniru kondisi luar angkasa untuk memastikan kemasannya tidak bocor atau rusak. Kemasan harus benar-benar kedap udara agar tidak menimbulkan remah atau cairan yang bisa melayang dan mengganggu sistem di pesawat. Semua faktor ini diuji secara detail agar makanan tetap stabil selama misi berlangsung.

3. Astronot menguji rasa sebelum misi berangkat

Uji makanan astronot NASA
Uji makanan astronot NASA (commons.wikimedia.org/James Blair)

Sebelum makanan dikirim ke luar angkasa, para astronot sendiri ikut mencicipi dan menilai rasa dari setiap menu yang disiapkan. Hal ini penting karena di luar angkasa, indera pengecap bisa menurun akibat perubahan distribusi cairan dalam tubuh. Makanan yang terasa biasa saja di Bumi, bisa terasa hambar saat dikonsumsi di orbit.

Karena itu, makanan sering dibuat dengan rasa yang lebih kuat atau diberi bumbu tambahan agar tetap menarik untuk dimakan. Astronot juga memilih menu favorit mereka sebagai bagian dari paket makanan pribadi selama misi. Proses ini memastikan mereka tetap memiliki selera makan yang baik meski berada jauh dari Bumi.

4. Ahli gizi menghitung kebutuhan nutrisi astronot

Uji makanan astronot NASA
Uji makanan astronot NASA (commons.wikimedia.org/NASA)

Selain aman dan enak, makanan astronot harus memenuhi kebutuhan nutrisi yang sangat spesifik untuk menjaga kondisi tubuh selama berada di luar angkasa. Lingkungan mikrogravitasi dapat menyebabkan penurunan massa otot dan kepadatan tulang. Sehingga asupan protein, kalsium, dan vitamin D harus diperhitungkan dengan cermat.

Setiap menu dirancang agar mengandung keseimbangan nutrisi yang tepat sesuai durasi misi dan aktivitas astronot. Jika misi berlangsung lama, variasi makanan juga diperhatikan agar tidak menimbulkan kebosanan yang bisa berdampak pada kesehatan mental. Semua perhitungan ini dilakukan secara sistematis sebelum makanan diproduksi dalam skala besar.

5. Teknisi NASA mengembangkan kemasan khusus antigravitasi

Uji makanan astronot NASA
Uji makanan astronot NASA (commons.wikimedia.org/NASA)

Kemasan makanan untuk luar angkasa tidak bisa menggunakan wadah biasa karena harus mampu mencegah kebocoran dan memudahkan konsumsi tanpa gravitasi. Teknisi di NASA merancang kemasan fleksibel yang bisa dibuka dengan mudah tapi tetap aman saat disimpan dalam jangka panjang. Desain ini juga mempertimbangkan kemudahan penggunaan saat astronot mengenakan sarung tangan khusus.

Selain itu, kemasan harus tahan terhadap perubahan suhu dan radiasi selama perjalanan di luar angkasa. Material yang digunakan dipilih secara khusus agar tidak bereaksi dengan makanan di dalamnya. Inovasi ini terus berkembang, terutama untuk mendukung misi jangka panjang seperti perjalanan ke Mars yang membutuhkan solusi penyimpanan lebih canggih.

Makanan astronot ternyata bukan sekadar soal praktis atau tahan lama, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Setiap tahap pengujian dilakukan dengan standar tinggi agar tidak ada risiko yang membahayakan misi maupun kesehatan kru. Semoga artikel ini bisa langsung menjawab rasa penasaran kamu selama ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Related Articles

See More