Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Kalimantan ke Malaysia, Bagaimana Asap Karhutla Menyebar?
ilustrasi kabut asap karhutla (unsplash.com/Marcus Kauffman)
  • Asap karhutla dari Kalimantan Barat dapat mencapai Malaysia saat arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer mendukung, terutama karena wilayah ini berbatasan dekat dengan Sarawak.
  • Partikel asap berukuran sangat kecil, termasuk PM2.5, dapat melayang lama dan terbawa lintas negara; penentuan sumbernya memerlukan data titik panas, satelit, angin, serta pemodelan udara.
  • Kebakaran gambut menghasilkan emisi asap besar dan berkepanjangan karena api dapat membakar bawah permukaan, sehingga berkontribusi pada kabut asap dan penurunan kualitas udara di Borneo Malaysia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan Barat menuai banyak perhatian setelah sebarannya terpantau sampai ke wilayah Malaysia. Fenomena ini menunjukkan bahwa asap karhutla tidak selalu berhenti di sekitar sumber api, tetapi dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer. Jarak geografis juga menjadi faktor penting karena Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia.

Ketika arah dan kecepatan angin mendukung, partikel asap dapat terbawa melintasi wilayah tersebut dalam waktu relatif singkat. Perjalanan asap juga dipengaruhi ukuran partikelnya, kondisi atmosfer, serta ada tidaknya hujan yang dapat membantu membersihkan partikel dari udara. Lalu, bagaimana sebenarnya asap karhutla dapat bergerak dari Kalimantan hingga mencapai Malaysia?

1. Angin membawa partikel asap ke berbagai wilayah

ilustrasi asap karhutla (pexels.com/Alexander Popadin)

Asap dari kebakaran hutan dan lahan tidak selalu berhenti di sekitar lokasi kebakaran karena partikel-partikelnya dapat terbawa aliran udara ke wilayah lain. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat sebelumnya menjelaskan bahwa asap yang mencapai Malaysia terjadi karena arah angin saat itu mengarah ke wilayah Malaysia, meski ia menyebut arahnya dapat “bolak-balik”. Secara prinsip, penjelasan bahwa angin berperan dalam membawa asap memang benar, tetapi pergerakannya tidak terjadi secara acak.

Seberapa jauh asap bergerak dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin serta kondisi udara dan lokasi kebakaran. ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) menggunakan informasi atau aspek tersebut untuk memperkirakan kemungkinan asap bergerak ke negara lain. Pada 3 Agustus 2026, misalnya, ASMC menemukan sebaran asap dari sejumlah titik panas di Kalimantan bagian barat dan selatan.

ASMC kemudian menaikkan status wilayah ASEAN bagian selatan ke Alert Level 2 karena kondisi saat itu meningkatkan risiko asap melintasi batas negara. ASMC mencatat angin di wilayah Kalimantan pada periode itu umumnya bertiup dari arah tenggara atau barat daya. Kondisi angin tersebut turut menentukan ke mana asap dari kebakaran dapat bergerak.

Artinya, asap dari Kalimantan memang dapat mencapai Malaysia ketika pola angin dan kondisi atmosfer mendukung, tetapi keberadaan asap di Malaysia tidak cukup dibuktikan hanya dengan melihat arah angin. Untuk memastikan sumbernya, diperlukan pengamatan titik panas, citra satelit, data angin, dan pemodelan pergerakan massa udara secara bersamaan.

2. Partikel kecil dari asap bisa tetap melayang di udara

ilustrasi asap karhutla (pexels.com/Alexandre P. Junior)

Partikel asap karhutla yang sangat kecil tidak langsung jatuh ke permukaan tanah, tapi bisa tetap melayang di udara dan terbawa angin. Dilansir dari US Environmental Protection Agency (EPA), partikel-partikel kecil ini bisa tetap melayang di udara sampai bergabung menjadi partikel yang lebih besar atau akhirnya mengendap. Dalam kebakaran gambut, partikel halus seperti PM2.5 menjadi salah satu komponen utama asap yang dapat bertahan di udara dalam waktu cukup lama.

Berdasarkan studi yang terbit dalam Journal of Japan Society for Atmospheric Environment pada 2024, aerosol dari kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan dapat terbawa ke negara lain dan memicu kabut asap lintas batas. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa partikel asap dapat mengalami perubahan selama perjalanan sehingga tidak selalu tetap dalam kondisi yang sama sejak meninggalkan sumber kebakaran. Jadi, meskipun sumber asap berada jauh dari suatu wilayah, partikel yang sangat kecil tetap bisa mencapai wilayah tersebut selama kondisi udara mendukung.

3. Kebakaran lahan gambut menghasilkan asap yang lebih banyak

ilustrasi asap karhutla (unsplash.com/Matt Palmer)

Kalimantan memiliki kawasan gambut yang luas dan ketika lahan ini terbakar asap yang dihasilkan bisa sangat banyak. Gambut tersusun dari sisa tumbuhan yang menumpuk sehingga menyimpan banyak bahan organik sebagai bahan bakar. Saat kondisi kering, gambut dapat terbakar perlahan hingga ke bawah permukaan dan menghasilkan asap tebal dalam waktu lama.

Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Atmospheric Environment pada 2024, kebakaran gambut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 2019 diperkirakan menghasilkan sekitar 0,6 juta ton PM2.5. Asap dari kebakaran gambut di Kalimantan juga tidak hanya berdampak di Indonesia. Penelitian yang terbit dalam jurnal Science of the Total Environment pada 2020 menemukan bahwa asap dari kebakaran dan pembakaran gambut di Kalimantan berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah Borneo Malaysia.

Oleh sebab itu, ketika kebakaran gambut terjadi dalam skala besar, jumlah asap yang dihasilkan dapat cukup besar untuk terbawa keluar dari Kalimantan dan berkontribusi terhadap kabut asap di Malaysia. Jadi, asap karhutla dari Kalimantan dapat mencapai Malaysia melalui kombinasi kondisi angin, ukuran partikel yang kecil, serta besarnya emisi dari kebakaran gambut. Jika asap dapat melintasi batas negara, menurutmu, sejauh mana penanganan karhutla perlu menjadi tanggung jawab bersama antarnegara?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article