Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
F-47, Jet Tempur Generasi ke-6 yang Tengah Dibangun Militer AS
ilustrasi artistik (artist rendering) jet tempur generasi ke-6, Boeing F-47 yang tengah dibangun militer AS (commons.wikimedia.org/USAF)
  • Militer AS mengontrak Boeing membangun F-47, jet tempur generasi keenam dalam program Next Generation Air Dominance untuk menggantikan F-22 Raptor pada pertengahan 2030-an.
  • Spesifikasi F-47 masih rahasia dan prototipenya direncanakan terbang perdana pada 2028, tetapi AU AS menyebut radius tempurnya melebihi 1.000 mil laut dengan kecepatan di atas Mach 2.
  • F-47 dirancang beroperasi bersama drone tempur semi-otonom sebagai loyal wingman untuk membawa amunisi, pengintaian, peperangan elektronik, hingga melindungi jet berawak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dunia aviasi militer telah memasuki babak barunya setelah sejumlah negara diketahui membangun dan mengembangkan jet tempur generasi ke-6. Salah satu negara yang diketahui tengah membangun jet tempur tersebut adalah militer Amerika Serikat (AS) yang memang dikenal memiliki salah satu kekuatan udara terbesar dan terkuat di dunia. Fakta membuktikan bahwa militer AS telah menciptakan sejumlah pesawat tempur unik yang merupakan engineering marvel dalam dunia aviasi militer seperti jet tempur siluman F-117 Nighthawk yang telah dipensiunkan dan pesawat pengebom siluman tak kasat radar berbentuk unik B-2 Spirit yang masih operasional saat ini. Hingga sekarang, teknologi B-2 Spirit masih belum bisa ditiru oleh rival AS maupun sekutu dekatnya.

Menurut laman Military Machine, militer AS telah memberikan kontrak kepada pabrikan Boeing untuk membangun jet tempur generasi ke-6 yang diberi nama F-47. Prefiks di depan namanya menggunakan "F" atau Fighter yang berarti ditujukan untuk superioritas (dominasi) udara. Spesifikasi F-47 masih sangat dirahasiakan meski pada bulan Maret 2025 silam, AU AS merilis gambar ilustrasi artistik (artist rendering) F-47. Namun, hingga hari ini belum ada foto pesawat aslinya yang dipublikasikan. Penggunaan langsung penamaan F-47 dan bukan dengan kode X atau Y (untuk pesawat eksperimen), telah memicu kontroversi publik bahwa prototipe jet baru tersebut telah melalui sejumlah fase uji coba meskipun penerbangan perdana prototipenya baru direncanakan dilakukan pada tahun 2028. Ingin tahu apa saja yang diketahui tentang jet tempur futuristik ini? Simak 4 fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Merupakan bagian dari program Next Generation Air Dominance

infografis jet tempur generasi ke-4, ke-5 dan ke-6 (next generation) AU AS (commons.wikimedia.org/USAF)

F-47 dibangun di bawah program bernama Next Generation Air Dominance (NGAD). Menurut laman Institute for Defense & Government Advancement, Program NGAD merupakan proyek rahasia AU AS untuk mengembangkan teknologi superioritas udara berkelanjutan di masa depan, termasuk pembuatan jet tempur canggih generasi ke-6 dan ekosistem pendukungnya. Secara umum, program tersebut terbagi atas beberapa bagian, yakni penciptaan sistem terintegrasi dari sistem komunikasi, persenjataan, serta teknologi mesin, pembangunan jet tempur F-47, dan program pengembangan drone tempur yang akan menjadi loyal wingman F-47.

Saat ini AU AS mengoperasikan jet tempur (fighter) dari 2 generasi, yakni generasi ke-4 dan ke-5. Sebagaimana diinformasikan dalam laman Fighter World, jet tempur generasi ke-4 adalah keluarga jet tempur yang dirancang pada tahun 1970-an dan digunakan mulai sekitar tahun 1980-an hingga saat ini seperti: F-15, F-16 dan F-18 (yang juga sering disebut generasi 4,5). Jet tempur generasi ke-5 adalah jet tempur paling canggih yang beroperasi di abad ke-21, terutama memiliki fitur siluman (stealth) tak kasat radar, sistem avionik dan sensor yang sangat canggih. F-22 Raptor dan F-35 adalah jet tempur generasi ke-5. F-22 Raptor merupakan jet tempur superioritas udara paling canggih milik AU AS yang tak dijual ke negara lain karena sensitivitas kecanggihan teknologinya. F-47 direncanakan menjadi pengganti dari F-22 Raptor di masa depan, dan direncanakan akan beroperasi pada pertengahan tahun 2030-an.

2. Nama F-47 diambil dari pesawat tempur legendaris era PD II

potret pesawat tempur era PD II, Republic P-47 Thunderbolt milik United States Army Air Force (USAAF) (commons.wikimedia.org/USAF)

Dilansir laman Military Machine, pejabat AU AS menyatakan bahwa penamaan jet tempur terbaru AU AS dengan angka"47" tersebut merupakan penghormatan bagi pesawat tempur ikonik militer AS di era Perang Dunia (PD) II, yakni Republic P-47 Thunderbolt, yang merupakan salah satu pesawat tempur AS yang paling banyak diproduksi. P-47 adalah pesawat berukuran besar yang memiliki nama julukan "Jug" dan merupakan salah satu pesawat tempur terberat dalam sejarah di eranya yang menggunakan 1 buah mesin piston 18 silinder. Selain kemampuannya dalam duel di udara dengan pesawat musuh, P-47 juga memiliki kemampuan yang andal dalam menyerang sasaran darat. Selain itu, penamaan F-47 juga untuk mengenang berdirinya AU AS (USAF/United States Air Force) pada tahun 1947 yang sebelumnya masih merupakan bagian dari AD AS (USAAF/United States Army Air Forces).

Sebagai informasi, peristiwa heroik yang dilakukan militer AS di masa silam juga menjadi inspirasi bagi nama pesawat tempurnya, seperti pesawat pengebom AU AS terbaru yang tengah diuji, B-21 Raider, yang digadang-gadang akan menjadi pesawat tempur pengebom generasi ke-6 pertama yang akan dioperasionalkan. Nama "Raider" pada B-21 Raider diambil untuk menghormati aksi heroik seorang perwira bernama Letnan Kolonel James H. Doolittle yang memimpin serangan udara terhadap target militer di Kota Tokyo dan sejumlah tempat lainnya sebagai aksi balasan pertama AS terhadap pihak Jepang setelah serangan Pearl Harbor pada tahun 1941.

3. F-47 akan memiliki radius tempur yang jauh

ilustrasi artistik (artis rendering) untuk jet tempur F-47 yang sedang mengudara (commons.wikimedia.org/USAF)

Selain fitur siluman atau stealth, salah satu isu utama dalam pengembangan sebuah jet tempur adalah jangkauan atau radius tempurnya karena hal tersebut berkaitan dengan kesuksesan misi jarak jauh tanpa terlalu tergantung pada pesawat pengisian bahan bakar di udara (tanker) yang rentan terhadap serangan udara lawan. Kapasitas bahan bakar internal yang besar dan mesin jet canggih yang efisien akan memampukan jet tempur generasi ke-6 untuk lepas landas dari pangkalan aman yang jauh, namun tetap mampu menjalankan misi serangan atau dominasi udara jauh di dalam wilayah udara yang disengketakan atau di dalam wilayah teritori musuhnya.

Meskipun spesifikasi dari F-47 ini masih sangat dirahasiakan, menurut AU AS sebagaimana dikutip oleh laman Air and Space Forces, F-47 akan memiliki radius tempur lebih dari 1.000 mil laut (lebih dari 1.852 km) dengan kecepatan jelajah supersonik yang melebihi Mach 2. Hal tersebut menunjukkan radius tempur jet tempur F-47 hampir dua kali lipat lebih jauh dibandingkan dengan F-22 Raptor yang memiliki radius tempur sekitar 530 mil laut (980-an km). F-47 didesain untuk menjelajahi wilayah maritim yang luas seperti wilayah Indo-Pasifik.

4. Akan beroperasi bersama drone

potret drone YFQ-42A yang diperoyeksikan akan berkolaborasi dengan jet tempur berawak dalam sebuah misi tempur di masa depan (commons.wikimedia.org/USAF)

Salah satu fakta menarik dari pembangunan jet tempur F-47 ini adalah kemampuannya untuk beroperasi bersama drone tempur. Sebagaimana diketahui, militer AS melakukan pengembangan drone tempur yang melibatkan kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) secara masif. Dilansir dari laman Defence Connect, dalam Program Next Generation Air Dominance (NGAD), selain pembuatan dan pengembangan jet tempur generasi ke-6, F-47, militer AS juga mengembangkan apa yang disebut Collaborative Combat Aircraft (CCAs) yang mencakup pesawat nirawak atau drone tempur.

Drone tempur tersebut akan bertindak sebagai loyal wingman yang semi-otonom dan dirancang untuk melakukan operasi gabungan bersama jet tempur berawak yang akan menjadi pesawat induk yang mengendalikannya. Jika di masa lalu pimpinan penerbangan (flight leader) mengandalkan wingman-nya untuk memantau kondisi penerbangan, di masa depan tugas wingman tersebut akan diambil alih oleh drone tempur.

Selain akan bertindak sebagai wingman, drone-drone tempur tersebut juga berfungsi sebagai pembawa amunisi tambahan, melakukan peperangan elektronik, melakukan pengintaian di garis depan hingga menerima tembakan musuh untuk menjadi tameng bagi jet tempur berawak yang dikawalnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article