Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Karhutla Berhubungan dengan Fenomena El Niño? Ini Penjelasannya

Apakah Karhutla Berhubungan dengan Fenomena El Niño? Ini Penjelasannya
ilustrasi karhutla (commons.wikimedia.org/Yavuz Solgun)
  • El Niño mengurangi curah hujan dan memperpanjang kekeringan di Indonesia, sehingga lingkungan lebih mudah terbakar, tetapi fenomena ini bukan pemicu api secara langsung.
  • Kemarau panjang mempercepat pengeringan gambut; material organiknya menjadi mudah terbakar dan api dapat membara di bawah tanah, sehingga sulit dideteksi serta dipadamkan.
  • Karhutla gambut melepas karbon dan gas rumah kaca dalam jumlah besar, sementara asapnya dapat terbawa angin hingga negara tetangga, menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

El Niño sering menjadi perhatian ketika musim kemarau tiba di Indonesia. Fenomena iklim ini kerap dikaitkan dengan penurunan curah hujan dan lonjakan suhu udara. Di saat yang sama, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga cenderung meningkat, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut luas.

Meski sering disebut bersamaan, hubungan antara El Niño dan karhutla sebenarnya tidak sesederhana anggapan bahwa El Niño menjadi penyebab langsung kebakaran. Ada sejumlah proses yang saling berkaitan, mulai dari kemarau yang lebih gersang, mengeringnya lahan gambut, hingga asap yang dapat menyebar ke berbagai wilayah. Untuk memahami kaitan keduanya, yuk simak penjelasan berikut ini!

  1. 1. El Niño membuat kondisi kemarau makin kering

    ilustrasi lahan mengering saat musim kemarau
    ilustrasi lahan mengering saat musim kemarau (pexels.com/kevin yung)

    El Niño adalah fenomena iklim ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis meningkat di atas kondisi normal. Perubahan ini memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya curah hujan sehingga kondisi kering berlangsung lebih lama dan musim kemarau terasa lebih gersang dari biasanya.

    Cuaca yang sangat kering membuat vegetasi dan bahan organik di lingkungan menjadi sangat reaktif dan mudah terbakar. Namun, El Niño bukanlah penyebab langsung munculnya api. Fenomena ini lebih berperan dalam menciptakan kondisi lingkungan yang siap terbakar. Ibaratnya, El Niño menyediakan “bensin”, sementara api tetap membutuhkan pemantik.

  2. 2. Lahan gambut kering bisa menjadi bahan bakar raksasa yang memicu karhutla

    ilustrasi lahan gambut kering
    ilustrasi lahan gambut kering (pexels.com/Plato Terentev)

    Lahan gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dan membusuk secara perlahan dalam kondisi sangat basah. Karena menyimpan banyak air, gambut yang masih alami cenderung sulit terbakar. Kandungan air yang tinggi membuat lapisan gambut tetap lembap dan memiliki ketahanan alami terhadap api.

    Masalah muncul ketika kadar air di dalam gambut menurun drastis dan lapisannya mulai mengering. Sisa tumbuhan yang menumpuk di dalamnya kemudian berubah sifat menjadi material yang mudah terbakar. Kondisi kemarau panjang yang diperparah oleh El Niño mempercepat proses pengeringan ini, sehingga mengubah gambut dari media yang lembap menjadi bahan bakar raksasa yang mudah terbakar.

  3. 3. Api karhutla bisa menjalar di bawah tanah

    ilustrasi kebakaran di lahan gambut
    ilustrasi kebakaran di lahan gambut (commons.wikimedia.org/Tan Yi Han)

    Berbeda dengan kebakaran hutan biasa yang apinya terlihat membakar pepohonan di permukaan, kebakaran lahan gambut bisa berlangsung tanpa kobaran besar. Api dapat membara perlahan di dalam lapisan gambut melalui proses yang disebut smouldering combustion. Jika kebakaran biasa membakar vegetasi di permukaan, maka kebakaran gambut dapat membakar material organik di bawah tanah.

    Kondisi ini membuat kebakaran gambut lebih sulit diketahui dan dipadamkan. Api dapat bergerak perlahan di dalam lapisan gambut dan bertahan dalam waktu yang lama tanpa terlihat dari permukaan. Karena itu, memadamkan api di atas tanah saja belum tentu cukup. Jika masih ada bagian yang membara di dalam gambut, api dapat kembali muncul ke permukaan ketika kondisi angin dan cuaca mendukung.

  4. 4. Karhutla melepaskan karbon dalam jumlah besar yang berpengaruh pada iklim

    ilustrasi karhutla
    ilustrasi karhutla (unsplash.com/Karsten Winegeart)

    Hutan dan lahan gambut merupakan salah satu penyimpan karbon alami yang penting. Vegetasi dan material organik yang menumpuk di dalam gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, karbon yang tersimpan tersebut dapat dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), serta gas lainnya seperti metana (CH₄) dan dinitrogen oksida (N₂O).

    Karhutla di lahan gambut dapat menghasilkan emisi yang tinggi karena yang terbakar bukan hanya vegetasi di permukaan, tetapi juga material organik di dalam tanah. Karbon yang dilepaskan ke atmosfer kemudian ikut berkontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca dan pemanasan global. Karena itu, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga berkontribusi pada krisis iklim secara global.

  5. 5. Asap karhutla bisa menyebar hingga negara tetangga

    ilustrasi asap karhutla yang menyebar ke negara tetangga
    ilustrasi asap karhutla yang menyebar ke negara tetangga (commons.wikimedia.org/Jacklee)

    Dampak kebakaran hutan dan lahan ternyata tidak berhenti di sekitar lokasi kebakaran. Asap yang dihasilkan membawa berbagai partikel dan polutan yang dapat terbawa angin hingga ke wilayah yang jauh. Dalam kondisi cuaca tertentu, asap tersebut bahkan dapat melintasi perbatasan negara dan menimbulkan fenomena yang dikenal sebagai transboundary haze atau kabut asap lintas batas.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya menjadi persoalan di wilayah tempat kebakaran terjadi, tetapi juga dapat berdampak ke negara lain. Ketika kabut asap terbawa hingga negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, atau Filipina, kualitas udara di wilayah terdampak dapat menurun dan jarak pandang ikut berkurang. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

    Ternyata, El Niño dan karhutla memang memiliki hubungan dari sisi perubahan pola cuaca. El Niño bukanlah penyebab langsung kebakaran, tetapi kondisi kering yang ditimbulkannya dapat meningkatkan risiko karhutla. Ketika kondisi ekstrem ini bertemu dengan lahan gambut yang mengering, dampaknya dapat meluas hingga menghasilkan emisi raksasa dan kabut asap lintas negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More