Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Fakta Menarik Topan Champi yang Jarang Diketahui
ilustrasi siklon tropis apabila diamati dari satelit ruang angkasa. (pixabay.com/WikiImages)
  • Topan Champi menerjang Taiwan pada 23–24 Oktober 2026, memicu gelombang tinggi, kerusakan infrastruktur, dan gangguan transportasi meski pusat badai tidak mendarat langsung.
  • Champi sempat menguat menjadi super topan dengan angin mendekati 300 km/jam; namanya diusulkan Laos, berarti bunga melati merah, dan berasal dari daftar penamaan siklon regional.
  • Mata topan relatif tenang dengan angin lebih lemah, tetapi dikelilingi eyewall berisi badai petir serta angin terkuat yang dapat kembali menerjang dari arah berlawanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di balik visualnya yang mengerikan, topan Champi ternyata memiliki sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui. Topan ini tengah menjadi perbincangan setelah menerjang Taiwan pada 23–24 Oktober 2026 dan menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah. Menurut video yang beredar di media sosial, badai tersebut memicu gelombang laut yang sangat tinggi hingga menghantam kawasan pesisir.

Bahkan, sebuah gelombang dilaporkan menyeret alat berat berupa crane hingga jatuh ke laut. Di balik kejadian itu, Champi ternyata bukan badai biasa karena sempat menguat menjadi super topan dengan kecepatan angin yang mendekati 300 kilometer per jam. Meski pusatnya tidak mendarat langsung di Taiwan, dampak yang ditimbulkan tetap serius, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga gangguan transportasi.

Lalu apa saja fakta menarik lain dari topan Champi yang mungkin belum banyak diketahui? Yuk, simak di bawah ini!

1. Nama "Champi" ternyata berasal dari nama bunga

ilustrasi topan Champi (pixabay.com/ELG21)

Topan Champi merupakan siklon tropis yang berkembang di kawasan Pasifik Barat Laut dan sempat berkembang menjadi topan kuat pada Oktober 2026. Namun, ada hal menarik dari namanya yang mungkin belum banyak diketahui. Dilansir Japan Meteorological Agency (JMA), nama "Champi" diusulkan oleh Laos dan memiliki arti red jasmine flower atau bunga melati merah.

Nama ini termasuk dalam daftar nama siklon tropis yang digunakan secara bergiliran di kawasan Pasifik Barat Laut dan Laut Cina Selatan. Daftar tersebut disusun bersama oleh negara-negara anggota Komite Topan ESCAP/WMO. Jadi, di balik nama badai yang terdengar mengerikan ini, ternyata ada makna yang terinspirasi dari bunga.

2. Topan Champi bisa menguat menjadi super topan

ilustrasi topan Champi (pexels.com/Johannes Plenio)

Topan Champi bisa menguat menjadi super topan jika kondisi atmosfer dan laut mendukung perkembangan badai tersebut. Permukaan laut yang hangat dapat menyediakan energi bagi siklon tropis, sementara faktor lain, seperti geseran angin, turut memengaruhi intensitasnya. Meski begitu, tidak semua topan akan mencapai kekuatan super topan karena perkembangannya bergantung pada kondisi lingkungan di sekitarnya.

Menurut World Meteorological Organization (WMO), siklon tropis di kawasan Pasifik Barat Laut memiliki klasifikasi berdasarkan kecepatan angin, sedangkan istilah super topan digunakan untuk badai dengan intensitas angin yang sangat tinggi. Menariknya, nama Champi tidak berkaitan dengan kekuatan badai, melainkan berasal dari daftar penamaan siklon tropis yang telah disepakati oleh anggota Komite Topan ESCAP/WMO. Nama-nama tersebut digunakan secara berurutan ketika siklon tropis mencapai kekuatan yang memenuhi syarat untuk diberi nama.

3. Mata topan yang tenang di tengah amukan badai

ilustrasi topan Champi jika diamati dari satelit ruang angkasa. (pixabay.com/WikiImages)

Di tengah pusaran angin kencang dan hujan lebat, topan memiliki bagian pusat yang justru relatif tenang, yaitu mata topan atau eye. Dilansir National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), bagian ini umumnya memiliki angin yang lebih lemah dan langit yang relatif cerah dibandingkan area di sekelilingnya. Kondisi tersebut terjadi karena udara di dalam mata topan bergerak turun sehingga pembentukan awan lebih terhambat.

Namun, suasana tenang ini dikelilingi dinding mata atau eyewall, tempat berkumpulnya badai petir dan angin terkuat dalam siklon tropis. Ketika mata topan melintas, angin bisa mendadak mereda sehingga orang mengira badai telah berakhir. Padahal, kondisi berbahaya dapat kembali terjadi saat sisi lain dinding mata tiba, dengan arah angin yang berlawanan.

Topan Champi memperlihatkan bahwa badai memiliki karakteristik yang tidak selalu terlihat dari luar, termasuk mata topan yang relatif tenang di tengah pusaran angin kencang. Di balik ketenangan itu, kekuatan badai tetap mengintai dan bisa kembali menerjang dalam waktu singkat. Oleh karena itu, memahami karakteristik topan bukan hanya menarik dari sisi sains, tetapi juga penting untuk menyadari bahaya yang menyertainya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article