3 Pemimpin Peradaban Kuno yang Dinilai Abai pada Penderitaan

- Nero dikaitkan dengan Kebakaran Besar Roma 64 M dan penganiayaan umat Kristen, meski tuduhan sengaja membakar kota tidak didukung bukti kuat; ia juga membantu warga kehilangan rumah.
- Masa pemerintahan Tiberius di Romawi diwarnai penggunaan hukum pengkhianatan dan hukuman keras terhadap pihak yang dianggap mengancam kekaisaran, menciptakan ketakutan politik.
- Qin Shi Huang menyatukan Tiongkok dan membangun proyek besar, tetapi pengerahan tenaga kerja masif serta hukuman kerja paksa membebani rakyat demi ambisi kekaisaran.
Pemimpin yang dinilai abai terhadap penderitaan rakyatnya ternyata bukan hanya fenomena di era modern. Pada masa peradaban kuno, sejumlah pemimpin juga dikenal zalim terhadap rakyatnya, bahkan tak segan melakukan penindasan hingga pembunuhan. Kekuasaan yang mereka miliki kerap membuat suara masyarakat kecil sulit mendapat tempat.
Dalam beberapa kasus, kebijakan penguasa justru memperburuk keadaan dan menambah beban hidup rakyat. Catatan sejarah tentang masa pemerintahan mereka pun menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang tidak diimbangi kepedulian dapat membawa penderitaan bagi banyak orang. Namun sayangnya, para penguasa di era modern bak tak pernah belajar dari kepemimpinan-kepemimpinan yang buruk tersebut.
Sejarah terus berulang, penguasa semakin semena-mena dan rakyat semakin ditindas. Sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu, berikut beberapa pemimpin peradaban kuno yang dinilai abai terhadap penderitaan rakyatnya.
1. Nero, kaisar yang dituduh memanfaatkan tragedi kebakaran Roma

Patung Nero di Italia. (commons.wikimedia.org/Helen Cook) Nero adalah kaisar Romawi yang memerintah pada 54–68 Masehi dan dikenal sebagai salah satu pemimpin paling kontroversial dalam sejarah kuno. Namanya sering dikaitkan dengan Kebakaran Besar Roma pada 64 Masehi yang menghancurkan sebagian besar wilayah kota. Nero dituduh sebagai dalang kebakaran karena muncul dugaan bahwa ia memanfaatkan bencana tersebut untuk membangun kembali kota sesuai keinginannya.
Salah satu hal yang memperkuat kecurigaan itu adalah pembangunan kompleks istana megah, Domus Aurea, setelah kebakaran melanda Roma. Mengutip dari The Cambridge Companion to the Age of Nero (2017), kebakaran tersebut juga berkaitan dengan penganiayaan terhadap umat Kristen, yang dituduh sebagai penyebab kebakaran dan kemudian mengalami hukuman berat. Namun, tuduhan bahwa Nero sengaja membakar Roma belum dapat dipastikan karena bukti sejarah yang tersedia tidak cukup kuat untuk membuktikannya.
Buku "The Emperor Nero: A Guide to the Ancient Sources" terbitan Princeton University Press (2016) membahas catatan kuno tentang kebakaran tersebut, termasuk respons Nero dan upaya membangun kembali kota. Nero bahkan diketahui mengambil sejumlah langkah untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal, sehingga gambaran tentang responsnya tidak sepenuhnya hitam-putih. Meski begitu, kontroversi seputar kebakaran dan penganiayaan umat Kristen membuat namanya terus dikenang sebagai penguasa yang pemerintahannya menyisakan banyak pertanyaan tentang penderitaan rakyat.
2. Tiberius, penguasa yang menebar ketakutan lewat hukum
Patung Tiberius dan ibunya di Museum Arkeologi Nasional Spanyol. (common.wikimedia.org/Miguel Hermoso Cuesta) Tiberius merupakan kaisar kedua Romawi yang memerintah pada 14–37 Masehi, menggantikan Augustus. Meski memiliki kemampuan dalam urusan militer dan pemerintahan, masa kekuasaannya juga diwarnai tekanan politik dan hukuman terhadap orang-orang yang dianggap mengancam kekaisaran. Mengutip dari "Barbara Natalie Nagel berjudul The Tyrant as Artist: Legal Fiction and Sexual Violence under Tiberius" yang terbit dalam jurnal Law & Literature pada 2013, Tiberius digambarkan dalam sejumlah sumber kuno sebagai penguasa yang menggunakan hukum untuk membenarkan hukuman kejam.
Salah satu contohnya adalah kasus Junilla, seorang anak perempuan yang dijatuhi hukuman mati setelah ayahnya, Sejanus, dituduh berkhianat. Sementara itu, kajian Garrett G. Fagan dalam De Imperatoribus Romanis menjelaskan bahwa Tiberius semakin sering menggunakan undang-undang pengkhianatan untuk menindak lawan politiknya, terutama pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya. Situasi ini membuat pemerintahan Tiberius dikenang sebagai masa ketika ketakutan dan penyalahgunaan hukum dapat membawa penderitaan bagi orang-orang yang dianggap mengancam kekuasaan kaisar.
3. Qin Shi Huang, kaisar yang membebani rakyat dengan kerja paksa

Patung Qin Shi Huang (commons.wikimedia.org/Vitsuha) Qin Shi Huang merupakan kaisar pertama yang menyatukan wilayah Tiongkok pada 221 SM dan dikenal karena proyek-proyek besar selama pemerintahannya. Untuk membangun kompleks makam kekaisaran dan memperkuat pertahanan, negara mengerahkan banyak pekerja dari berbagai wilayah. Mengutip dari UNESCO, pembangunan makam Qin Shi Huang melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, sistem hukum Dinasti Qin juga dikenal menerapkan hukuman berat, termasuk kerja paksa bagi mereka yang melanggar aturan. Kebijakan tersebut membuat rakyat biasa harus menanggung beban pekerjaan negara, sementara pelanggaran dapat berujung pada hukuman yang keras. Di balik pencapaian besar yang memperkuat kekaisaran, masa pemerintahan Qin Shi Huang juga menyisakan pertanyaan tentang besarnya pengorbanan masyarakat demi ambisi seorang kaisar.
Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa kekuasaan besar tidak selalu berjalan seiring dengan kepedulian terhadap penderitaan rakyat. Meski hidup di zaman yang berbeda, keputusan para pemimpin tersebut meninggalkan pelajaran tentang dampak kekuasaan terhadap masyarakat kecil. Menurutmu, kritik apa yang tepat untuk para penguasa yang lupa bahwa kekuasaan seharusnya berpihak pada rakyat?
























