Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Jenis Hujan dengan Proses Terbentuk yang Berbeda dari Hujan Biasa

4 min read
5 Jenis Hujan dengan Proses Terbentuk yang Berbeda dari Hujan Biasa
Ilustrasi hujan (unsplash.com/Atilla Bingöl)
  • Hujan konvektif terbentuk dari pemanasan permukaan yang mengangkat udara lembap, memicu hujan mendadak dan badai; hujan orografis terjadi saat udara naik mengikuti lereng pegunungan.
  • Hujan frontal muncul ketika udara hangat bertemu udara dingin, menghasilkan hujan luas dan lebih lama. Sementara hujan beku terjadi saat tetesan cair membeku setelah menyentuh permukaan dingin.
  • Virga terjadi ketika presipitasi menguap di lapisan udara kering sebelum mencapai tanah, membentuk tirai samar di bawah awan dan dapat memicu arus turun serta angin kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hujan terbentuk ketika uap air di atmosfer mengalami pendinginan dan mengembun menjadi butiran air atau kristal es yang kemudian jatuh ke permukaan. Namun, proses yang memicu terbentuknya hujan tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, pergerakan udara, dan kondisi geografis suatu wilayah.

Perbedaan kondisi tersebut menghasilkan fenomena hujan dengan karakteristik yang beragam, mulai dari hujan deras yang muncul secara tiba-tiba hingga tetesan air yang membeku ketika menyentuh permukaan. Ada pula presipitasi yang terlihat menggantung di bawah awan, tetapi menguap sebelum mencapai tanah. Berikut lima jenis hujan dengan proses terbentuk yang menarik untuk diketahui.

  1. 1. Hujan konvektif

    Ilustrasi hujan konvektif
    Ilustrasi hujan konvektif (pixabay.com/r-q)

    Menurut Met Office, hujan konvektif bermula ketika sinar Matahari memanaskan permukaan tanah dan membuat udara lembap di dekatnya ikut menghangat. Udara hangat lalu naik, kemudian mendingin seiring bertambahnya ketinggian hingga uap air mengembun dan membentuk awan. Jika tetesan air di dalam awan menjadi cukup besar, hujan turun ke permukaan.

    Proses ini biasanya menghasilkan hujan yang datang tiba-tiba, dengan intensitas yang dapat berubah cepat. Karena pemanasan permukaan tidak merata, satu kawasan bisa diguyur deras sementara tempat di dekatnya tetap kering. Awan kumulus yang tumbuh menjulang bahkan dapat berkembang menjadi kumulonimbus dan memicu hujan disertai badai petir.

  2. 2. Hujan orografis

    Ilustrasi hujan orografis
    Ilustrasi hujan orografis (pexels.com/Connor Scott McManus)

    Hujan orografis terjadi ketika udara lembap bergerak menuju perbukitan dan naik mengikuti lerengnya. Semakin tinggi udara naik, suhunya semakin dingin sehingga uap air berubah menjadi butiran air yang membentuk awan dan akhirnya menghasilkan hujan. Menurut NOAA, naiknya udara akibat bentuk permukaan bumi merupakan salah satu proses yang dapat memicu terbentuknya hujan.

    Hujan biasanya lebih banyak turun di lereng yang berhadapan langsung dengan arah datangnya angin. Setelah melewati puncak, udara turun ke sisi pegunungan lainnya dan menjadi lebih hangat sehingga awan hujan lebih sulit terbentuk. Akibatnya, wilayah di balik pegunungan cenderung lebih kering.

  3. 3. Hujan frontal

    Ilustrasi hujan frontal
    Ilustrasi hujan frontal (pexels.com/SplitShire)

    Hujan frontal terjadi ketika udara hangat bertemu dengan udara dingin. Karena udara hangat lebih ringan, udara tersebut terdorong naik melewati udara dingin, lalu suhunya menurun hingga uap air di dalamnya membentuk awan dan menghasilkan hujan. Menurut Met Office, pertemuan dua massa udara ini dapat memicu hujan yang mencakup wilayah luas.

    Hujan frontal dapat berlangsung lebih lama dan menjangkau wilayah yang lebih luas dibandingkan hujan yang hanya terbentuk akibat pemanasan permukaan. Lamanya hujan bergantung pada pergerakan massa udara dan kondisi cuaca di sekitarnya. Proses ini juga memungkinkan hujan turun meskipun permukaan tanah tidak sedang mengalami pemanasan yang kuat.

  4. 4. Hujan beku

    Ilustrasi hujan beku
    Ilustrasi hujan beku (unsplash.com/Lan Gao)

    Hujan beku atau freezing rain terjadi ketika salju melewati lapisan udara hangat dan mencair menjadi tetesan air. Saat mendekati tanah, tetesan itu melewati lapisan udara bersuhu di bawah titik beku, tetapi masih berbentuk cair. Ketika menyentuh jalan, pohon, atau kabel yang sangat dingin, air membeku dan membentuk lapisan es.

    Berbeda dari hujan biasa, air pada hujan beku membeku setelah menyentuh permukaan, bukan saat jatuh di udara. Lapisan es dapat membuat jalan licin serta menambah beban pada dahan pohon dan kabel listrik. Fenomena ini terjadi ketika udara hangat dan dingin tersusun sehingga salju mencair saat turun, lalu air membeku ketika menyentuh permukaan dingin.

  5. 5. Hujan virga

    Hujan virga
    Hujan virga (unsplash.com/Péter Kövesi)

    Virga adalah fenomena ketika tetesan air atau kristal es jatuh dari awan, tetapi menguap sebelum mencapai tanah. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration, fenomena ini terjadi ketika presipitasi melewati lapisan udara yang kering. Akibatnya, terlihat garis samar menyerupai tirai yang menggantung di bawah awan, meskipun tidak ada hujan yang mencapai permukaan.

    Penguapan tersebut menyerap panas dari udara di sekitarnya sehingga suhu udara menurun. Udara yang mendingin dapat bergerak turun dan membentuk arus udara ke bawah. Dalam kondisi tertentu, arus ini dapat memicu embusan angin kuat di dekat permukaan, sehingga virga juga menjadi fenomena yang penting diperhatikan dalam pengamatan cuaca.

    Hujan tidak selalu terbentuk melalui mekanisme yang sama, meskipun semuanya berkaitan dengan proses di atmosfer. Perbedaan pemanasan permukaan, pergerakan massa udara, bentuk wilayah, dan susunan suhu dapat menghasilkan karakteristik presipitasi yang beragam. Memahami proses tersebut membantu menjelaskan mengapa hujan dapat turun deras di satu tempat, berlangsung lama di tempat lain, atau bahkan menguap sebelum menyentuh tanah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More